Surat Terbuka untuk Pemimpin Kerinci dan Sungai Penuh

Wara Lofitra Wara Lofitra   |   Rabu, Maret 13, 2019


Assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Bupati & Wakil Bupati Kerinci dan Walikota & Wakilwalikota Sungai Penuh yang terhormat,

Perkenalkan, Saya Wara Lofitra, Anak muda yang baru saja berumur 24 ditanggal 4 Maret lalu. Tapi tak apa, tanggal ulangtahun saya tidak terlalu penting dan bukan itu poin yang ingin saya sampaikan.

Surat terbuka ini saya tujukan kepada Bupati dan Wakil Bupati Kerinci yang baru saja dilantik dan Walikota serta wakil walikota Sungai Penuh yang terhormat serta seluruh masyarakat Kerinci – Sungai Penuh.

Sebenarnya isi surat ini akan lebih banyak curhatnya, Pak. Tentang keadaan daerah kita baru-baru ini.

Jadi begini…

Kejadian di Muara Emat yang kabarnya longsor dan mengakibatkan dua menara sutet milik PLN dikabarkan juga ikut mengalami rusak berat dan roboh dibawa longsor, Pak. Intinya aliran listrik ke daerah kita terputus disitu pak.

Kejadian ini mungkin bisa di maklumi oleh masyarakat Kerinci karena termasuk dalam bencana yang semua itu diluar kendali manusia. Toh juga akhir-akhir ini sering terjadi angin kencang dan pohon-pohon juga ikut roboh menimpa kabel listrik.

Saya ingat betul ketika angin kencang di sore hari, depan rumah saya SD 195 Tebat Ijuk, Angin kencangnya membangunkan saya yang lagi tidur. Atap-atap menggelegar melawan angin kencang, pohon-pohon juga banyak ranting yang patah.

Dari kejadian di Muara Emat itu, tentulah berdampak banyak pada aktifitas yang ada di Kerinci dan Sungai Penuh. Kerugian secara ekonomi sudah jelas pasti terjadi. Aliran listrik yang putus juga memutus sementara mata pencaharian orang Kerinci – Sungai Penuh.

Bagaimana tidak, banyak usaha-usaha yang sangat bergantung dengan tenaga listrik ini kemudian harus memberi pengumuman bahwa order yang mereka proses terpaksa tertunda, bahkan ada yang batal, Pak. Teman saya yang usaha konveksi baru-baru ini meng-update status whatsapp bahwa orderannya terpaksa nunggu listrik nyala baru bisa dikerjakan. Total kerugian yang harus ditanggung selama listrik tidak nyala entah berapa, Pak. Angka pastinya silakan bapak tanya ke temansaya saja, nanti saya berikan kontak WhatsApp dia untuk tahu angka pasti ia merugi.

Teman saya satu lagi, ia berencana launching usahanya awal bulan ini terpaksa di tunda sampai listrik nyala. Karna selain listrik tidak ada, sinyal di Kerinci juga sedang susah-susahnya, Pak. Kita semua tau kalau tower telepon bisa berfungsi juga karna ada listrik.

Teman saya yang punya toko online, omsetnya perbulan sampai 50 juta rupiah kalau listrik nyala dan sinyal bagus. Sekarang entahlah pak, kemungkinan besar terhambat juga karna listrik mati. Saya saja yang sering ngoceh di WhatsApp sekarang sudah tidak bisa se-sering biasanya. Apalagi yang punya toko online, harus gerak cepat melayani pembeli yang order via DM Instagram dan WhatsApp.

Banyak sih pak cerita teman-teman saya yang susah secara ekonomi karna listrik mati. Kalau bapak mau, saya bisa bikinkan tulisan satu lagi khusus kumpulan cerita orang kerinci akibat listrik mati.

Kalau sudah begini, cerita industri 4.0 jadi basi, Pak. Saya tau kalau masyarakat kita Kerinci banyak yang hebat-hebat. Kalau kita sebut satu persatu mungkin tulisan ini jadi bukan surat terbuka, tapi biografi orang-orang Kerinci yang sukses di luar daerah. Ada lho Pak, warga Kerinci yang bekerja di Microsoft, Google, Gojek, dan unicorn-unicorn lain. Mereka anak-anak muda kita. Mencari nafkah dengan keahlian mereka sendiri di tanah orang. Saya jadi ragu dengan sebutan “Sakti Alam Kincai” dan “Kincai Negeri Uhang Kayo”, sakti nya dimana? Listrik saja masih import dari daerah tetangga, Anak muda hebatnya pada merantau semua untuk bertahan hidup. Hayooo dimana saktinya? Kalau sakti nginjak beling sudah pasti, Pak.

Pengertian sakti menurut anak milenial sekarang itu sinyal yang lancar, listrik yang tak bergilir dinyalakan. Itu sakti menurut kami. Karna dengan listrik dan sinyal yang lancar, anak-anak muda kreatif dari Kerinci bisa bersaing secara online dengan orang luar daerah. Walaupun kita anak gunung, pak, secara SDM kita tidak kalah kok.

Kopi kita terkenal, Teh kita terkenal, Kulit Manis kita terkenal. Gunung Kerinci apalagi. Tapi kalau listrik mati dan sinyal ilang timbul, sudah pasti kita kalah perang tagar di dunia maya, Pak. Dengan Tagar di sosial media artinya kita sudah bersaing secara langsung dengan produk serupa secara global. Anggaplah sekarang ada orang yang mencari hijab lewat tagar #hijab #hijabstyle #hijabsyari dan turunan tagar lainnya, untuk keadaan saat ini, otomatis toko online asal Kerinci bakal kalah. Posisinya paling bawah mungkin. Bayangkan kalau orang lagi cari kopi dengan tagar #VolcanoCoffee, yang muncul diatas harusnya kopi dari Kerinci tapi karna sinyalnya nauzubillah jelek, ya jadi gak muncul, Pak. Kesempatan produk kita laku jadi terbuang begitu saja.

Emak-emak sudah pasti kesal, daging yang beraroma tidak sedap di dalam kulkas, sayur yang sudah tidak segar, di toko grosir ada eskrim magnum yang mencair. Duh pak, daftar keluhan akibat listrik mati masih banyak. Tapi yaa mau gimana, ini murni bencana. Mengumpat PLN juga tidak serta merta membuat listrik langsung menyala.

Itu baru di segi ekonomi, Pak. Belum lagi yang pacaran LDR. Pasti kangennya tertahan karna sinyal gak bagus ini. Saya pernah LDR, dulu. Sinyal di wilayah kita Kerinci hilang total, bahkan untuk nelpon di jaringan 2G saja tidak bisa. Akhirnya pacar saya panik nyariin saya, Pak.

Percayalah pak, sinyal jelek adalah musuh semua hubungan LDR.

Menahan rindu itu sesak, Pak. Apalagi merindu pada orang yang jelas-jelas sudah milik orang lain.

Oh ya pak, saya mau tanya sedikit. Ketika mendapat jadwal penyalaan listrik bergilir kemarin, saya sempat lihat sosial media sebentar bahwa ada yang bilang kalau potensi tenaga listrik di Kerinci sebenarnya banyak, ada yang menyebut dari geothermal (panas bumi) air, angin dan matahari. Kenapa tidak di ambil dari sana saja tenaga listrik nya, Pak? Kerinci tidak perlu import listrik lagi dari daerah lain.

Tolong lah, Pak. Kita harus melek sedikit. Orang-orang eropa kabarnya sudah meninggalkan energi fosil sebagai sumber tenaga listrik. Masa kita yang punya banyak potensi malah belum dikembangkan.

Kemarin saya lihat video singkat dari Vox International di Twitter, di video tersebut diperlihatkan banyak solar panel di tanah yang luas dalam rangka menyerap tenaga matahari untuk diubah menjadi energi listrik. Biasa disebut oleh Faisal Basri sebagai Energi Terbarukan. Alias gak bergantung sama fosil lagi.

Yuk pak, sekali-kali kanal berita Nasional kita hebohkan dengan inovasi yang datangnya dari Kerinci. Bosan kami sama Ridwan Kamil dan Tri Risma Harini dengan inovasinya. Kami cemburu pak. Cemburu sama inovasi di daerah lain.

Coba deh bapak ketik kata “Kerinci” di google sekali-kali. Apa yang muncul? Paling-paling berita kriminal, harimau menerkam manusia, dan Atlit kita yang kalah bertanding. Hasil googling dari Kerinci yang bagus hanya sumber daya alamnya, Pak. Kopi, Teh, dan Kulit Manis. Itu saja.

Fakta satu lagi yang saya temui saat listrik mati, alhamdulilah penjualan mesin diesel meningkat, Pak. Positif nya itu, daya beli masyarakat Kerinci akan mesin diesel meningkat tajam, sampai-sampai harus pesan dari luar daerah. Tapi sayangnya tukang cukur merugi, tukang jahit merugi, tukang kue merugi, dan tukang-tukang lainnya juga sudah pasti merugi. Tukang desain juga rugi pak, sementara laptopnya mati, ia menulis surat ini.

Kemarin saya sempat main ke Pengadilan Negeri di Sungai Penuh, sidangnya hari itu ada 18. Baru selesai 8 sidang pada pukul 18:00 WIB. Entah sidangnya dilanjutkan atau tidak, saya kurang informasi, karna pukul 18:00 saya pulang. Mungkin saja sidangnya dilanjutkan sambil pegang lilin. Eh Pelita maksudnya, Pak. Anak indie biasanya menyebut lilin dengan Pelita.

Btw, terimakasih sudah membaca surat terbuka ini, Pak. Intinya saya caper aja sih, bangga juga blog ini pernah dibaca Bupati – Wakil Bupati dan Walikota – Wakilwalikota.

Terimakasih sudah singgah dan membaca. Saya masih berharap di Kerinci dan Sungai Penuh kedepan banyak inovasinya.

___
Ditulis dalam suasana hujan lebat + petir, di pojok kamar dengan smartphone tanpa sinyal dan baterai hanya 10%.

Tampilkan Komentar