Senin, 11 Maret 2019

Cerita Listrik Mati dan Sidang Pengadilan

Unboxing printer bluetooth di dekat kolam ikan

Siang tadi pulang dari kondangan, kami (Saya & Windi) berencana ke percetakan yang berlokasi di Tanjung Pauh Hilir untuk urusan kemasan kue si Windi, kincaicake. Saya yang desain kotak kuenya. Desainnya sudah saya serahkan 2 hari sebelum.

Sudah terhitung dua hari pula aliran listrik di Kerinci dan Sungai Penuh mengalami putus total karena longsor dan longsor nya itu membawa dua tower sutet mengalami rusak berat dan roboh yang berlokasi di Desa Muara Emat, ditambah cuaca yang sedang galau-galaunya. Sudah banyak pohon roboh akibat angin kencang disertai Hujan. Kalau dilihat dari Google Maps, desa Muara Emat adalah jalan masuk utama dari Jambi ke Kerinci. Jalur listriknya juga melewati desa ini.

Dengan adanya kejadian ini, tentulah se Kerinci-Sungaipenuh menjadi gelap. Baterai hape jelas dalam keadaan lowbat. Kecuali mereka yang dirumahnya punya mesin diesel. Pasti bisa ngecas.

Walaupun bisa ngecas dan baterai penuh, muncul masalah baru, sinyalnya gak ada. Tower telepon juga ditenagai listrik, sedangkan listriknya mati total. Palingan nunggu stok tenaga yang ada di baterai yang tentu tak akan lama.

Ini lah masalah Kerinci, listrik. Usaha yang melibatkan listrik sudah jelas merugi. Apalagi sinyal. Jadi susah komunikasi. Terlebih saya yang harus gercep sama klien desain.

Mengumpat PLN pun tak menolong. Toh rusaknya karna seleksi alam. Bukan human error.

Yang bisa dilakukan PLN adalah penyalaan listrik bergilir. Mungkin mengambil tenaga listrik dari PLTD atau dari Kabupaten Solok Selatan. Saya kurang paham info ini.

Kadang ingin rasanya saya mengundang mas Elon Musk ke Kerinci untuk sekedar merayu beliau memasang Solar Panel supaya kami Kerinci tidak bergantung dengan energi fosil. Saya juga akan sedikit mengancam beliau kalau mobil Tesla nya gak akan laku di Kerinci. Tempat nge-charge mobilnya gak ada.

Nah, lanjut rencana ke percetakan tadi. Kami berniat singgah di rumah Dayang, rumahnya di Pengadilan Negeri. Beberapa jam sebelumnya kami dapat info kalau disana listrik sedang menyala. Dengan membawa charger hape dan drone. Saya berharap listriknya masih nyala. Supaya bisa ngecas dan ketika ada sinyal. Mau sesekali menengok dunia maya.

Sampai di Pengadilan Negeri, ternyata ramai orang sidang. Yaiyalah namanya juga pengadilan ya kan. Kata Dayang, hari ini ada 18 persidangan yang akan dituntaskan. Kadang sampai malam pun orang masih sidang. Demi kepastian hukum tersangka dan terdakwa katanya.

Ternyata yang kami harapkan tidak terwujud. Rupanya listrik sudah tidak nyala disini. Hujan sudah mulai turun. Rencana mau ke percetakan terpaksa batal. Akhirnya duduk-duduklah di dekat kantin yang ada kolam ikannya. Kantinnya dikelola sama keluarga Dayang di Pengadilan Negeri itu.

Duduk-duduk sambil unboxing printer bluetooth yang dibawa Dayang dari Jambi untuk pelengkap mesin kasirnya kincaicake. Saya yang awam sekali masalah hukum jadi bertanya-tanya aktifitas di pengadilan negeri disini kepada Dayang yang baru saja wisuda jurusan Hukum di Universitas Jambi.

Banyak hal yang baru saya tahu tentang aktifitas hukum di Kerinci - Sungai Penuh. Tentang perkara apa saja yang sering di sidang disini, berapa administrasi yang harus dibayarkan dalam satu perkara sampai beberapa perkara yang bisa ditarik unsur lucu nya.

Misal kasus perdata, orang sengketa tanah. Masalahnya masih sama keluarga dekat, tentang hak atas tanah. Anggaplah tanah yang sedang sengketa senilai 20 juta (biasanya berebut tapak rumah), Sedangkan rata-rata sewa pengacara di Kerinci - Sungai Penuh saja 30 juta. Sudah pasti walaupun menang atau kalah, tetap rugi bandar.

Belum lagi saksi-saksi di kasus sengketa tanah ini sudah tua-tua dan tak paham Bahasa Indonesia. Banyak kejadian lucu di ruang sidang. Yang menegangkan juga ada. Kasus pidana misalnya. Rampok lah, Maling lah, Perkosaan, Pembunuhan dan yang menyeramkan lainnya. Hari ini saja ada 18 sidang yang harus selesai. Pas kami pulang sekitar pukul 6 sore, baru selesai 8 sidang. Artinya masih ada 10 sidang lagi yang harus dituntaskan hari ini juga. Sering sidang sampai malam.

Karna sudah mulai gelap, listrik juga belum nyala. Kami memutuskan pulang, sambil berharap listrik segera menyala. Tapi sidangnya harus tetap berlanjut, entah bagaimana caranya menerangi ruang sidang.

___________
Tulisan ini diketik di smartphone, dan pas sampai dirumah, daerah saya dapat jadwal penyalaan bergilir. Akhirya bisa di post segera.

0 comments:

Posting Komentar