Orang Kaya Baru

Wara Lofitra Wara Lofitra   |   Kamis, Januari 10, 2019

Menurut saya, setiap orang pasti pernah menjadi “Orang Kaya Baru”, kalau baru punya sesuatu sombongnya nauzubillah. Saya yakin sekali bahwa banyak orang termasuk saya sudah pernah mengalami fenomena OKB ini.

Bukan melulu tentang harta, tapi mengenai segala hal yang bisa disombongkan hanya dengan modal baru tau. Entah itu sebuah pemikiran, uang, agama, gelar, tempat kerja baru yang keren. Intinya kita jadi gampang sombong dengan memperoleh itu semua.

Ibarat baru punya iPhone, logo Apple nya nggak boleh ketutup casing. Biar apa? Biar orang-orang pada tau kalau anda sedang pakai iPhone.

Contoh lain pada orang yang baru ngaji, baru ketemu ustadz yang pas relate sama kehidupannya, pulang-pulang langsung pamer keimanan, ingin semua orang yang dia kenal diajak agar punya iman seperti dia juga.

Sering berdebat dengan membawa berbagai macam hadits agar argumennya kuat. Intinya satu, dia sedang ingin diakui kalau ngajinya dia adalah benar dan orang lain harus ikut.

Kita semua beresiko terperangkap dalam situasi Orang Kaya Baru seperti diatas, bahkan saya juga. Apakah saya lagi mau sombong menuliskan tulisan “Orang Kaya Baru” ini? Entahlah, Semoga saja tidak.

Namun begitu, akan ada masanya kita tersadar bahwa teori, uang, agama, ilmu, tempat kerja yang kita sombongkan dulu, menjadi bahan tertawaan kita suatu saat.

Apasih yang kita sombongkan dulu? Faedahnya apa? Terus menghasilkan apa dari kesombongan itu? Toh dunia tetap berjalan semestinya.

Kita harusnya tidak begitu ambil pusing dengan orang kolot, radikal, atau apapun yang begitu gemas ingin kita ceramahi. Percayalah suatu saat mereka yang kita sebut lebih bodoh dari kita itu akan segera sadar. Bahkan tidak jarang mereka melampaui keilmuan, harta, iman, tempat kerja yang kita sombongkan kepada dia dulu. Bisa jadi. Karna dunia ini hak prerogative Tuhan.

Jujur, sampai sekarang saya masih suka oversharing di sosmed tentang apa yang baru saya pelajari. Status whatsapp penuh dengan ilmu baru yang menurut saya perlu orang baca. Sesombong itu saya sekarang. Naluri berbagi berlebihan yang kadang mendatangkan kesombongan bagi saya pribadi. Termasuk tulisan ini mungkin.

Entahlah, saya belum paham betul mana batas berbagi seharusnya.

Tampilkan Komentar