Senin, 12 November 2018

Semalam di Tengah Kebun Kopi


Sehabis Maghrib kami berencana membawa koko William dan istrinya cici Elva dari Bali menginap semalam di tengah kebun kopi di kaki Gunung Kerinci.

Dari pagi hingga sore koh William yang juga produsen mesin roasting kopi ini menjadi juri dalam acara battle coffee masih dalam rangka ulangtahun Kota Sungai Penuh yang ke 10.

Jadwal koh William ngisi acara lagi besok sekitar ba'da Ashar. Jadi kami punya kesempatan untuk mencoba menginap di guest house Pelangi di kaki Gunung Kerinci. Pelangi guest house ini ditengah kebun kopi milik mbak Erna dan suaminya Mr. Erick yang juga pengelola Pelangi guest house.

Namanya Pelangi diambil dari nama anak kedua mereka yang cuteness overload pokoknya 👌

Saya pernah ke sana sekali bersama mas Suryono sebelumnya, tapi belum berkesempatan menginap di kamar guest house nya.

Sehabis Maghrib tanggal 9 kami berangkat, berlima, ada mas Bibil, Panji, koh William dan cici Elva. Dalam perjalanan menuju kayu aro, banyak topik bermanfaat yang saya dapat dari setiap pembicaraan. Koh William cerita banyak tentang pengalaman ia dan istrinya jalan-jalan ke luar negeri.

Kami sempat singgah juga di Siulak Deras mengisi perut karna sudah masuk jam makan malam. Takut di homestay sudah terlalu capek dan sebagainya. Jadi, kami berhenti di Rumah Makan Dendeng Batokok Sabana, tepat di sebelah kanan jalan kalau dari Sungai Penuh.

Ternyata koh William sama istrinya tidak bisa makan segala jenis daging sapi, katanya alergi. Mereka pesannya ayam, dan kami Dendeng dong. Kan gak alergi.

Mas Bibil yang dari Jakarta juga ternyata baru pertama kali makan Dendeng Batokok, ia terkesan dengan rasa dendeng yang ternyata bisa seenak itu, daging smooky yang enak katanya. Saya kebetulan masih kenyang, jadi cukup pesan jus Terong Pirus saja sudah cukup.



Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Kayu Aro dan langsung menuju Pelangi guest house.

Lokasi nya berada tepat setelah gerbang masuk gunung Kerinci, tempat anak gunung lapor nama. Sampai disana sekitar jam 9 kurang 15 menit, kami disambut mbak Erna yang ketika kami turun, mbak Erna terlihat menyalakan lampu kamarnya pertanda mau turun membuka pintu dan mengantar kami ke kamar masing-masing.

Sekarang baru ada 3 kamar, kami cowok bertika di kamar 1, koh William dan istrinya di kamar 2.

Awal masuk, kita akan melihat banyak kerang yang jadi aksesoris di Pelangi guesthouse, ini (mungkin) karna suami mbak Erna, Mr. Erick adalah mantan peselancar dari Sidney yang suka nyari ombak gede di Mentawai, kabarnya mereka bertemu dan juga di Mentawai. Akhirnya menikah melahirkan dua gadis lucu Jasmine dan Pelangi.

kasur di lantai satu
tangga ke lantai 2
kasur di lantai dua
Koh William dan teman-teman lain terkesima dengan keadaan kamar, dua lantai dengan 3 kamar tidur, 1 dibawah dan 2 diatas.

Setelah barang bawaan kami sampai di kamar,ada perapian yang kami lihat, menganggur tidak berapi.

Kami bertanya dan meminta ke mbak Erna untuk menyalakan api. Maklumlah, saat kami sampai, di layar hape masing-masing kami menunjukkan keadaan suhu sekitar 15°C. Lumayan dingin.

Akhirnya mbak Erna memenuhi permintaan kami, kami jadi otomatis ngumpul di perapian menunggu api menyala.

Cici Elva sibuk mengabadikan momen dengan kamera Instagram nya, sesekali dengan fitur Boomerang.

Setelah apinya nyala, mbak Erna membawakan kami minuman jahe hangat.

Beuhhh. Bayangkan, di kanan tepat Gunung Kerinci, di depan perapian, di tangan minuman jahe hangat, dihatiku ada kamu.

******

Setelah kami puas menghangatkan tubuh didepan perapian dan jahe hangat. Jam 10:40 sudah saatnya merebahkan badan di kasur empuk dan selimut tebal.

Saya pilih kasur paling pojok di lantai dua tepat di bawah langit-langit kamar. Rasanya nyaman sekali.

Mas bibil tidur di lantai 1, saya dan panji di lantai 2.

*****

Alarm saya bunyi pukul 4:20 WIB, saya kemudian bangun untuk menantang dingin pagi. Ambil handuk kemudian saya memutuskan mandi. Setelah mandi, kemudian sholat Subuh kemudian keluar menghirup udara pagi yang masih basah.

Kabut yang menutupi Gunung Kerinci belum hilang. Sampai semuanya bangun, kami turun jalan-jalan pagi sampai ke kebun teh. Tentunya sambil foto-foto.



Cici Elva bilang, ini baru pertama kali ke Kerinci dan berencana akan kembali kesini lagi, karna katanya lebih bagus dari luar negeri yang pernah ia kunjungi. Banyak negara yang sudah dikunjungi, tapi Kerinci punya daya tariknya sendiri katanya.

Oya, pas lagi foto foto di pinggir teh sekitar Sungai Tanduk mau pulang, ada seorang ibu-ibu yang menawarkan susu sapi murni yang dibawa dari Solok Selatan.