Rabu, 13 Juni 2018

Kita Tidak Benar-benar Minta Maaf


Lusa sudah IdulFitri, pas pada hari Jum'at tanggal 15 Juni 2018. Dan tentu saja keluarga jauh keluarga dekat sudah banyak yang ngumpul di kampung halaman.

Seperti kebiasaan di lebaran-lebaran yang telah sudah, selalu muncul broadcast permintaan maaf menjelang IdulFitri.

Namanya juga momen IdulFitri, momen dimana kembali suci. Setelah sebulan puasa dan sebulan itu juga silaturahmi dengan orang sekitar terjalin. Dan di IdulFitri adalah momen yang pas pula untuk berkunjung kerumah keluarga beserta sanak saudara. Yang tidak bisa di kunjungi karena jarak dan kesempatan bisa langsung via room chat.

Teman-teman yang mudiknya tidak se arah dengan kita, mungkin sebagai pelepas rindu bisa melalui japri Whatsapp atau media lainnya.

Banyak ragam orang minta maaf, ada yang menggunakan link yang bila di klik akan muncul nama si pengirim. Ada yang masih menggunakan kartu ucapan. Bahkan mungkin masih ada yang menggunakan banyak kata yang over-puitis.

Apalagi di grup Whatsapp, banyak sekali broadcast yang mungkin sudah bosan kita terima. Notifikasi sampai menumpuk karena permintaan maaf yang nauzubillah gak ada bedanya.

Memperhatikan grup WhatsApp dan teman-teman yang mem-forward kata-kata maaf itu, saya jadi bertanya-tanya apakah ini permintaan maaf yang serius? Iyasih lebaran itu maaf-maafan, tapi masa gak ada variasi kata-kata lain sih. Sama semua.

Okelah, kita harus menyisakan ruang di otak untuk berprasangka baik. Karena tidak semua orang bisa merangkai kata maaf dengan baik. Yang tanpa buat mikir ya tinggal copy paste saja.

Tapi apakah permintaan maaf itu ikhlas dari lubuk hati ? lah kata-kata maafnya saja copy paste, lantas apa yang mau dimaafkan?

Ah si Wara ini bisanya cuma protes aja. Padahal copy paste juga kan?

Enggak. Sorry yaa saya menghindari betul yang seperti itu. Apalagi yang sumbernya dari grup sebelah.

Saya lebih memilih diam daripada ikut-ikutan copy paste. Dan yang terpenting menurut saya di setiap IdulFitri adalah memaafkan, bukan minta maaf.

Saya mau ambil peran sebagai pemberi maaf. Namanya maaf-maafan tentulah ada minta maaf dan memaafkan. Tapi urgensi nya tentu beda. Dalam Alquran sendiri lebih tinggi derajat yang memaafkn daripada yang minta maaf.

Minta maaf itu gampang, tinggal copy paste juga bisa. Tapi memaafkan itu sulit. Harus ada kerelaan yang benar-benar sungguh dari dalam hati.

Seperti memaafkan mantan, yang dulu pernah berbuat yang tidak kita suka, sulit kan?

Apalagi setiap saat masih sering di hantui mantan, liat apa-apa dikit terkenang mantan.

Makanya penting bagi saya untuk tidak ikut-ikutan minta maaf. Minta maaf sudah tidak spesial, yang spesial adalah memaafkan. Soalnya berat.

Dan untuk kamu yang baca tulisan ini, saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu minta maaf. Selamat IdulFitri. Semoga setelah lebaran kuat datang ke resepsi teman.