Sabtu, 26 Mei 2018

Terancam Batal Buka Bersama



Tiga hari sebelum hari ini, kami sudah punya rencana ingin buka bersama, saya Bang Redo Ikhlas dan Pak Ngah. Rabu kemarin Bang Redo pulang dari Jakarta menghabiskan jatah cutinya sebagai karyawan salah satu Bank di Jakarta.

Berstatus sebagai pegawai bank tentu semua orang tau bahwa jatah cutinya sebentar saja. Bang Redo yang pulang Rabu, akan berangkat lagi ke Jakarta hari Senin.

Niat mengajak berbuka dengan Pak Ngah (Ayahnya Bang Redo) ke tempat yang belum pernah Pak Ngah kunjungi. Karena saya yang lama di Kerinci, jadi saya yang reservasi tempat bukbernya. Terpilih lah Korintji Heritage sebagai tempat untuk kami berbuka nanti, susah-susah gampang mencari tempat yang makanannya enak, ada takjilnya, dan desert nya juga enak.

Kebetulan sekali ada teman saya yang bekerja disana, tanpa pikir panjang saya hubungi dia untuk memesan tempat berbuka kami nanti.

Oke, tinggal menunggu hari H (padahal hari sabtu sih).

Sorenya ketika ba'da Ashar, kami siap berangkat namun cuaca Kerinci lagi mendung-mendungnya waktu itu. Pertanda mau turun hujannya tampak jelas sekali lewat awan hitam yang menggumpal di langit Kerinci.

Tak butuh skill indigo seperti host nya Karma ANTV, semua orang juga sudah tau bakal turun hujan. Dan benar sekali, ketika kami sudah siap-siap pergi, hujannya turun dari semula sedang, kemudian hujan deras.

Buka bersama di Korintji Heritage terancam batal karena hujan. Dan memang pada akhirnya batal sih.

Saya yang awalnya memesan tempat kemudian mengirimkan pesan singkat di Whatsapp bahwa kami batal pergi dengan alasan hujan lebat.

Karena makanannya sudah dibikin dan sudah siap semua. Mau tidak mau kami harus kesana atau kalau tidak jadi kesana tetap bayar full. Seharusnya, dari awal kalau memesan tempat ada uang mukanya, tapi kemaren saya tidak diminta untuk bayar karna masih dianggap teman.

Akhirnya, dengan keputusan sebijak mungkin. Kami tetap akan kesana setelah Maghrib dan setelah hujan reda.

Buka puasa dulu dirumah dengan apa yang ada, baru nanti setelah hujan reda makannya di sana.

Sialnya, saya tidak mengikuti instruksi hanya minum air. Emak saya bikin gulai ikan yang kuah santannya nauzubillah kesukaan saya sekali. Yang awalnya icip-icip, jadi makan banyak.

Yaa itulah saya apa adanya, mencoba jujur dengan lidah sendiri. Walau sebenarnya tidak seharusnya seperti itu.

Hujan sudah reda, dan teman saya yang kerja disana sudah terlihat panik karena saya kemungkinan tidak datang kesana.


Hujannya reda sekitar adzan Isya, langsung cuss kesana sambil khawatir makanannya sudah dingin untuk disantap. Ternyata kekhawatiran itu cuma sebatas khawatir, tidak nyata.

Sampai disana kami ibarat berbuka kedua di hari yang sama. Dibawakan takjil yang harusnya disantap di awal tadi.

Ya, memang kita manusia tempatnya tidak tau, sebaik apapun rencananya tetap ada saja potensi gagal. Agak susah membuat rencana kita sinkron dengan rencana Tuhan. Rencana semacam bukber saja bisa hampir batal begini apalagi yang lain.

Sekian semoga ada hikmahnya dibalik cerita ini.