Senin, 26 Maret 2018

Dipalak Dirumah Sendiri


Illustrasi: Youtube

Ketika aku lahir ke dunia ini, aku tidak membawa cenderamata sebagai ucapan terimakasih untuk kedua orangtuaku. Hanya tangisan yang merepotkan dan tentu saja bikin susah tidur. Apalagi ketika aku lahir dulu lagi masa-masa sulitnya di Kerinci, yang baru kena gempa paling parah hingga saat ini.

Beranjak SD, tentu tambah merepotkan lagi. Uang jajan yang harus orangtuaku kasih agar seragam dengan uang jajan anak-anak lain. Aku tau keadaan saat itu kami masih serba kekurangan.

Karena rumah dekat dengan SD, hanya berjarak selemparan upil saja. Emakku berjualan di pagar SD dan aku juga bantu-bantu agar tidak terlalu repot. Karna jelas lah uang hasil jualannya juga pasti untuk kebutuhan aku kelak.

Berlanjut ke SMP, tahun-tahun ini lagi happening sekali dengan tren hape Symbian. Internet juga baru awal-awalnya masuk jangkauan kami waktu itu. Zaman ini termasuk paling susah menyesuaikan dengan teman-teman yang orangtuanya berada. Mereka sudah bawa motor ke sekolah, keluargaku belum punya motor waktu itu.

Selepas SMP, aku lanjut ke Madrasah Aliyah. karena sekolahnya agak jauh, dan aku belum bisa bawa motor dan belum punya juga, untuk mengatasi ini untunglah ada teman yang mau aku tumpangi.

Mulai beranjak kelas sebelas, alhamdulilah sudah ada motor dan notebook. Notebook Acer dengan RAM 2GB. Kedua fasilitas ini aku manfaatkan untuk melampiaskan segala yang ada dalam pikiran sejak aku melihat teman-teman yang sudah lebih dulu punya.

Banyak sekali yang aku eksplorasi dengan spek hanya 2GB itu, mulai mencoba menyusup ke jaringan Wi-Fi kampus yang ada di dekat madrasah dulu. Ini bisa aku banggakan disini karena saat itu jarang sekali ada yang bisa melakukan. Sekarang mungkin rata-rata anak sudah bisa melakukannya dengan mudah.

Sempat bolos pelajaran hanya karena keasikan main notebook di ruang yang bisa menjangkau Wi-Fi.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah di Kota Sungai Penuh, aku melanjutkan ke perguruan tinggi di samping nya yang dulunya sempat aku ambil Wi-Fi nya.

Tak ada niat mendaftarkan diri di kampus ini, karena gagal SNMPTN dan jujur aku tidak menyesali hal itu.

Di kampus yang sekarang lah aku mulai sadar, keluarga ku termasuk yang finansialnya terganggu. Jadi, aku mulai berpikir dan berniat untuk tidak menggangu lagi keuangan orangtua yang selama ini sudah sulit.

Alhamdulilah, orangtua hanya membayar uang SPP sampai semester 2 saja, selanjutnya aku sudah bisa bayar sendiri. Dan Alhamdulillah lagi, kebiasaan untuk tidak minta lagi sama orangtua bertahan sampai sekarang.

Keadaannya berbanding terbalik sekarang, hampir setiap hari saya yang kena 'palak' oleh emak. Bukan, bukan kesal kena palak. Lebih ke perasaan senang bisa melihat orangtua senang dengan 'malak' anaknya. Karena dulunya mereka puas kena 'palak' oleh saya dari lahir sampai umur 18 tahun. Ada rasa bangga bisa 'dipalak' oleh orangtua sendiri.

Ada rasa puas karena kebutuhan sehari-hari kita tidak perlu minta ke orangtua lagi.

Aku tau, ini belum setimpal. Aku tau ini tak akan lunas. Hanya saja aku merasa ada perasaan aneh di hati. Senang-senang kesal.