Rabu, 07 Februari 2018

Pengalaman Pertama Kali Donor Darah

Saya sedang duduk di depan laptop seperti biasa di siang hari di tanggal 5 Februari yang panas tapi gak kepanasan karena dirumah teduh, ada atapnya.

Tiba-tiba teman saya yang terakhir di ketahui berada di Batam, menelepon bahwa dia sudah di Padang, dan menanyakan golongan darah saya apa. Pertanyaannya dengan mudah saya jawab, dan ketika selesai ditanyakan tanpa perlu menghitung jumlah kancing baju saya sudah tau jawabannya apa. Yaitu AB. Golongan darah saya sendiri masa gak tau.

Emaknya dia sedang di klink bersalin yang sedang pendarahan dan butuh darah AB, saya sebagai teman yang baik sebelum diminta bersedia sudah bersedia lebih dulu.

Sudah sejak lama sebenernya saya mau mendonorkan darah di dalam tubuh ini, entah karena takut disuntik atau kesempatan yang belum ada, belum kesampaian juga. Tanggal 5 Februari itu lah saat yang tepat, Allah baru mengizinkan saya donor darah hari itu. Alhamdulillah.

Berangkatlah saya ke klinik tempat emak teman saya bersalin, dan menemui keluarga yang sedang berada disana juga. Ditanya-tanya dulu siapa dan darimana. Walaupun sebenarnya sudah di beritahukan oleh teman saya ini. Pastilah dia bilang akan ada temannya yang mau donor yaitu saya.

Namanya belum pernah donor darah, sampai disana langsung di suruh makan dan minum, tapi alhamdulilah saya sudah makan siang terlebih dahulu di rumah. Jadi, untuk menghormati tawaran, saya ambil air putih saja.

Didalam ruang yang penuh oleh keluarga besarnya itu, saya ditanya golongan darahnya apa dan pernah punya penyakit apa. Langsung saja saya jawab golongan darah AB, dan kalau sakit yang parah banget ya gak pernah rasanya. Cuma sebatas demam saja.

Tampak muka bahagia dan lega dari mereka yang mendengarkan. Pertanda bahwa darah saya kemungkinan besar dapat di donorkan.

Setelah beberapa saat duduk dan cerita-cerita, saya kemudian di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Sungai Penuh oleh Ayah teman saya ini, dibawa ke Unit Transfusi Darah, untuk kemudian di cek apakah dalam keadaan sehat, dan tanpa penyakit.

Alhamdulillah sekali keadaan saya saat itu baik-baik saja, tensi juga normal layaknya orang sehat, dan tidak ada sejarah penyakit yang jika nanti di donorkan akan bahaya untuk si penerima donor.

Di ceknya di lengan sebelah kiri. Namun ada yang aneh, abang abang dokternya agak kesulitan menemukan pembuluh darah saya di bagian lengan kiri. Sambil dia mencari keluarlah satu pertanyaan yang sampai saat ini membekas di pikiran saya.

"Jarang olahraga yaa?"

Saya cuma mampu jawab singkat,

"hehe, iya"

Proses mencari pembuluh darah sedikit memakan waktu juga, tapi secara garis besar berhasil dengan selamat. Anggap saja tantangan untuk abang nya.

Kemudian, setelah di cek dan siap donor, lanjut ke lengan bagian kanan, dan disitulah akhirnya darah saya dihisap dengan perlahan oleh kantong donor darah.

Ada sekitar 5 menit lamanya proses transfusi darah dari lengan ke kantong. Ternyata tidak sebanyak yang saya kira.

Setelah berbunyi beeep tanda proses selesai otomatis, ujung suntikan kemudian dicabut dan saya duduk. Tidak ada pengaruh apa-apa yang saya rasakan setelah donor. Entah itu pusing atau tiba-tiba lemah, Insya Allah tidak ada.

Saya normal se normal normalnya bagaimana orang normal. Kembali melakukan aktivitas seperti biasa.

Pengalaman pertama ini sekaligus meruntuhkan mitos bahwa Wara Lofitra takut jarum suntik. Lihat bagaimana saya tersenyum menghadapi ini semua. Sama sekali tidak ada rasa takut yang terlihat, kan?