Selasa, 06 Februari 2018

Pada Akhirnya Kita Akan Sendiri


Illustrasi: Pexels

Sejak kita lahir ke dunia ini, kita sudah sendiri. Kecuali kamu kembar. Tapi tetap aja sendiri juga kan. Keluarnya satu-satu juga. Paling selisih berapa menit.

Seiiring bertumbuhnya kita, perlahan mulai paham aka keberadaan orang-orang sekitar, Ibu, Ayah, keluarga, dan teman-teman. Kemudian masuk sekolah, katakanlah itu SD, mulai bertambah lagi teman-teman, main bersama, datang pagi-pagi, trus pulang juga sama-sama dan berkunjung ke rumah teman untuk mengerjakan tugas dari sekolah.

Kemudian beranjak SMP, teman baru bertambah lagi, jadi kenal anak desa tetangga. Berlanjut ke SMA, bertambah lagi teman baru disana. Mungkin waktu itu sudah mulai membuat hubungan kecil-kecilan yang masuk ke hati. Mulai merasakan sedih ditinggal teman sendiri, mulai merasakan yang namanya rindu. Padahal besok senin sudah bertemu lagi.

Dan kemudian masuk dunia kampus, orang yang dari seberang pulau sudah menjadi teman sekarang. Dan ditahap ini hubungan yang kecil-kecilan berlanjut serius sampai nangis tak tertahan saking rindunya.

Kita ketergantungan dengan teman-teman kita, kecanduan bertemu dengan kekasih hati. Adiktif terhadap hubungan yang di elu-elukan sendiri.

Kadang, sekalipun sedang berada di tempat yang ramai, hati terasa sepi karna tidak ada orang-orang yang kita sayang. Yang kita sayang yang dulunya teman. Tertawa di satu acara, tapi hati meringis tanpa si dia.

Teman, sesungguhnya kita lahir ke dunia ini sendiri, jangan pernah takut sendiri, karena sendiri tidak pernah jadi malasah, yang jadi masalah adalah saat kita mempermasalahkan kesendirian.

Bila rindu sudah terlalu berat, hubungi orang yang kamu sayang via apa saja yang kamu senangi. Ajak video call, telpon, atau sekedar chat untuk mengusir kesendirian.

Tapi aku pernah baca kalau ungkapan rindu paling ampuh itu adalah do'a, mendo'akan yang kita rindukan. Sebut namanya dalam do'a. Kirimkan untuknya yang terbaik.

Ditulis saat sendiri dan sedang mempermasalahkan kesendirian.