Friday, February 9, 2018

Cerita Tentang Pertama Kali Main Drone Bagian Kedua

Setelah Dronenya di aktivasi dan aplikasinya juga sudah di update. Percobaan pertama menerbangkan drone saya lakukan di depan rumah yang disaksikan anak-anak yang heboh sekali saat melihat dronenya terbang.

Layaknya anak-anak, mereka akan berasumsi bahwa drone ini akan bisa sampai ke langit paling tinggi, membesar-besarkan cerita yang nyatanya drone ini hanya mampu terbang setinggi 50meter ke atas. Karena saya hanya memakai remote dari ponsel pintar, bukan remote control dji yang dibeli terpisah.

Hari itu sabtu, siang menjelang sore dan panasnya minta ampun. Dronenya terbang untk pertama kalinya di depan rumah. Saya masih belum begitu lancar mengarahkan drone dengan joystick virtual di Redmi 3 saya.

Memang butuh banyak latihan agar supaya lancar dan dronenya tidak habis baterai dengan percuma.

Selesai melihat-lihat dan mencoba menerbangkan drone sore itu, malamnya saya lanjut lagi nonton YouTube mencari lagi bagaimana tips dan trik merekam video dengan cinematic ala-ala YouTuber tenar. Bagaimana mengatur gimbalnya yang hanya 2 arah agar terlihat cinematic dan trik lainnya.

Besoknya, saya demam, panas dingin dan tulang punggung terasa pegal dan berat. Saya biasanya kalau sudah demam begini, pasti diakibatkan karena tidur telat dan pola makan tidak teratur. Memang betul, setelah di cek ke dokter, penyebabnya itu-itu juga.

Disuntiklah bokong saya sebelah kanan, dan disuruh minum obat, ada yang 3 kali sehari, dan 2 kali sehari. Setelah dzuhur saya masih kurang enak badan sebenernya.

Dasar diri ini memang kebanyakan nonton YouTube, setelah Ashar saya paksakan main drone lagi. Mencoba trik-trik baru yang saya pelajari dari nonton YouTube semalam. Saya keluar rumah dan tentunya dikerumuni anak-anak lagi.

Sore ba'da Ashar itu saya puaskan diri terbang di sekitar rumah. Mencoba tebang dengan ketinggian maksimal dan jarak paling jauh. Alhasil, feed Instagram saya sekarang penuh gambar yang di ambil dari drone. Silahkan lihat di instagram.com/waralofitra.

Salah satu kekurangan yang terasa paling kurang  dari seri DJI Spark bagi saya adalah kapasitas baterai yang dibawanya terlalu sedikit, hanya 1480mAh. Sehingga berdampak pada durasi terbangnya yang hanya 15 menit maksimal.

Untunglah ada baterai backup, yaa walaupun sebenarnya masih sedikit. Walaupun sedikit, nyatanya saya harus bersyukur sudah bisa terbang.

Untuk kamera dan kualitas perekamannya, saya merasa puas dengan diberikan kualitas di Full HD. Jujur saja saya belum butuh kualitas 4K, laptop saya belum mampu diberikan beban lebih berat lagi, Full HD saja sudah berat, rendernya lama tapi bersih.

Toh di YouTube juga biasanya saya nonton dari ponsel paling mentok kualitasnya 1280x720 pixel. Jadi, sudah cukuplah. Intinya kalau kita bersyukur maka akan cukup, kalau tidak yaa pasti kurang terus. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Udah yaa saya mau lanjut lagi main drone.