Tuesday, December 19, 2017

Samir dan Ajakan Memboikot Produk Israel

Samir adalah seoarang mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Kerinci, Jambi. Di kampusnya ia mengambil jurusan Ekonomi secara tidak sengaja pas awal-awal masuk kuliah.

Di semester akhir sekarang ini, Samir terhitung beberapa kali saja datang ke kampusnya. Samir lebih sering ikut fitness, main futsal dan tentunya jalan-jalan sore bersama pacarnya.

Entah apa yang membuat Samir malas ke kampus, sementara teman-temannya sudah banyak yang ujian skripsi dan tinggal agenda saja. Samir tau waktu wisuda sudah dekat, namun Samir tetap selow.
Bukan Samir kalau tidak aktif di sosial media, ia bak seleb facebook, status yang keluar dari akunnya selalu dapat tidak kurang dari 200 likes.

Sesekali Samir juga minder melihat foto temannya yang selesai ujian yang muncul di feed facebooknya.
***
Akhir-akhir ini ramai berita tentang Trump yang mengklaim Yerussalem sebagai ibukota Israel. Sosial media juga tentunya ramai. Muncul ajakan untuk memboikot produk yang kabarnya dananya digunakan untuk membeli senjata para tentara Israel membasmi palestina.

Samir tak kalah bersuara, ia dulu punya pengalaman organisasi dan menduduki posisi penting di struktur keorganisasian tersebut. Jadi, Samir pede sekali mengutarakan pendapatnya.

Samir rajin membagikan postingan yang berkaitan dengan ajakan boikot produk Israel.

Seminggu penuh, story ig nya tentang ajakan boikot produk Israel semua, begitupun status WhatsApp nya.

Arjun salah seorang teman Samir yang dikenal sering mengikuti seminar, workshop dan pelatihan bisnis mengajak Samir untuk ikut bersamanya, dan membuat satu produk substitusi dari produk Israel yang di boikot.

Arjun memang suka sekali dengan dunia bisnis, hampir semua pelatihan bisnis yang bisa ia jangkau, pasti Arjun ikut.

Samir, ketika diajak Arjun untuk bergabung bersamanya.

"Mir, yuk ikutan pelatihan bisnis, kita serap ilmu-ilmu bisnis dari narasumber, nanti kita aplikasikan ke usahaku."

"Usahamu apa, Jun?" tanya Samir.

"Aku punya usaha kecil-kecilan, pasta gigi alami dari daun sirih, produksinya masih home insdustri sih" jelas Arjun.

"Ohh lanjut lah kamu dulu Jun, aku sibuk fitness, minggu depan mau tanding futsal sama desa sebelah." Samir menolak.

"Mir, kamu kan gencar di sosial media tentang gerakan boikot produk Israel, kok diajak bisnis ogah-ogahan gini."

"Ya kan boikot-boikot aja, gak ada urusannya sama pelatihan bisnis." Samir memberi pembelaan.

"Mir, kalau produk Israel di boikot, tentu kita harus nyiapin produk penggantinya, kalau produk penggantinya gak ada, ajakan boikot se sering apapun juga gak bakal berguna."

"Agak sulit sih kalau beneran di boikot, produk Israel sama Amerika itu mutakhir. Tapi paling tidak kita punya tindakan nyata ke arah sana." terang Arjun panjang.

Samir kemudian mengecek Instagram, WhatsApp dan Facebook nya, ia menghapus semua postingan yang terkait ajakan boikot.

"Nanti yaa Jun, aku pikir-pikir dulu".