Minggu, 24 September 2017

Selamat Hari Tani yang Hambar

Tidak banyak yang ingat bahwa hari ini, tepat di tanggal 24 bulan September adalah Hari Tani Nasional. Gaungnya tak sehebat​ peringatan G30S-PKI yang diperintahkan jenderal untuk nonton bareng itu, Hari Tani Nasional terasa hambar dan sekedar lewat saja.

Saya anak petani, yang artinya seluruh biaya hidup saya mulai dari kecil hingga sekarang, ya dari hasil abak dan mak saya kerja di sawah. Jangan anggap anak petani itu paham pertanian, justru terbalik. Saya contohnya, bahkan letak tepatnya sawah keluarga kami juga saya kurang paham betul.

Dari kecil memang tidak diajarkan "bertani itu begini, begitu, bla bla bla". Di sekolah juga tak ada mata pelajaran yang konsisten betul mengajarkan kami anak petani ini untuk bertani.

Di kampung saya, bertani itu bukanlah pekerjaan melainkan jalan hidup. Kalau misalnya tidak diterima jadi tentara, polisi, atau PNS ya pilihannya merantau ke luar Kerinci atau tetap di Kerinci mengurus lahan sawah keluarga. Rata-rata anak di desa saya yang sudah sarjana itu anak petani semua, tapi saya berani jamin, tak ada sedikitpun ilmu mereka yang bisa dibanggakan di segi pertanian.

Termasuk saya, paling-paling yang bisa saya bantu dari abak dan mak saya hanya mengantarkan makanan dan minuman ketika panen. Seluruh padi yang ketika panen membutuhkan bantuan orang lain, karena tak mungkin dikerjakan sendiri oleh kami. Jadi saya cuma berfungsi disitu saja.

Orangtua yang petani mungkin tak mau anak-anaknya jadi petani juga. Seperti saya misalnya, saya selalu didorong untuk belajar yang rajin di sekolah agar nantinya tidak jadi petani. Tentu dari dorongan itu tidak tergambarkan kebanggaan orangtua saya sebagai petani, lah saya saja anak mereka tidak disarankan jadi petani.

Dari orangtua kami yang petani saja sudah pesimis atas generasinya sendiri, bagaimana pertanian akan jadi idola kids zaman now? Kids zaman now sekarang kita sama-sama tau. Mereka lebih paham ilmu membuat hoax dan berdebat masalah sepele di internet ketimbang ilmu bertani. Padalah kuota mereka juga hasil dari pertanian.

Saya kemudian berpikir kenapa dunia pertanian di kalangan bawah ini lesu. Tak punya daya tarik. Padahal berapa banyak orangtuanya yang petani mampu mengantarkan anak-anaknya hingga bangku perguruan tinggi. Dari sini harusnya dunia pertanian bisa lebih dianggap. Banyak anak-anak petani yang sukses kerja kantoran.

Sejauh ini yang bisa saya bantu untuk orangtua saya hanya menunjukkan beberapa petani kreatif dari negeri ladyboy sana. Saya unduh videonya, lalu saya putarkan di komputer, abak dan mak saya terkejut bukan main melihat kreatifnya cara mereka bertani. Mesin menanam dan memanen padi yang sudah di modif menjadi fungsi baru.

Saya membatin, kapan yaa saya bisa membuatkan atau membelikan alat itu untuk orangtua saya agar mereka tidak berlama-lama di tengah sawah yang kadang hujan kadang panas.

Disinilah harusnya posisi saya sebagai anak petani, memberikan inovasi teknologi pertanian walaupun saya tak paham betul ilmu bertani.