Rabu, 03 Mei 2017

Jadi Referensi Bahasa Alay

Tiba-tiba ada notif facebook tentang kiriman pengunjung ke halaman facebook saya. Kebiasaan saya sebelum berkomentar kepo dulu, saya buka profilnya tertulis disana Mahasiswi S1 sebuah universitas di Karawang, Jawa Barat.

Kiriman itu bertuliskan "bahasa alaynya kok gak ada". Reflek dahi saya mengkerut keheranan. Apa-apaan kiriman yang saya terima begini. Jarang ada kiriman ke halaman, sekalinya ada malah absurd.

Usut punya usut ternyata mahasiswi ini bertanya tentang sebuah tulisan saya di blog ini yang membahas bahasa alay. Saya lupa ternyata pernah nulis itu di blog ini.

Tak usah khawatir, saya tak akan mengarahkan anda ke tulisan tentang bahasa alay itu, cari sendiri kalau penasaran. Soalnya saya nulis itu saat sedang alay-alaynya.

Mahasiswi ini ternyata jurusannya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, katanya mau meneliti bahasa alay, sulit dipercaya, tapi setelah saya lanjut tanya mbaknya via chat memang benar itu tujuannya.

Tak disangka tulisan yang pernah saya tulis tersebut berguna juga.

Semoga sukses buat mbaknya yang penelitian bahasa alay. Dahi saya masih mengkerut kalau liat kiriman mbak lagi.