Saturday, May 6, 2017

Akhirnya Ke Gunung Tujuh

Sepulang sholat subuh dari masjid samping posko, saya dan teman-teman rencananya mau kembali bermesraan di dalam selimut. Karena selama di posko kukerta kegiatan sehabis subuh berputar itu-itu saja, kadang tidur, kadang main laptop, kadang bersih-bersih.

Hari ini kami putuskan untuk naik ke Danau Gunung Tujuh, kami hanya berlima laki-laki. Saya yang notabene belum pernah ke sana murni didorong oleh rasa penasaran saja.

Sebelumnya, beberapa tempat wisata alam di Kerinci yang pernah saya kunjungi tidak berlanjut
untuk kedua kalinya. Diantaranya Danau Kaco, Air Terjun Pancuran Aro, dan Air Terjun Talang Kemulun. Gunung Kerinci belum karena ada alasan dibaliknya, selain fisik saya yang kurang mumpuni juga birokrasi yang berbelit.

Sekitar pukul 07:30 kami masih meyakinkan diri untuk berangkat dan satu jam kemudian kami berangkat menggunakan motor ke Pintu Gerbang Danau Gunung Tujuh.

Didalam perjalan pakai motor, kami berhenti membeli nasi bungkus, minuman dan makanan ringan. Rencana​ kami tak sampai menginap disana.

Ketika berhenti di toko kelontong, saya masuk dan bertanya harga satu botol kecil minuman isotonik yang iklannya JKT48.

"Berapa harga satu botol ini mbak?"
"dab" jawab si mbaknya.
Kening saya sedikit mengkerut dan kembali bertanya.
"berapa?"
"dab" jawab si mbak untuk kedua kalinya.
"delapan ribu?"
"dab" jawabnya lagi hattrick.
"enam ribu?"
"iya".

Saya orang Kerinci yang InshaaAllah mengerti beragam bahasa di setiap desa yang ada. Kali ini saya benar-benar dibuat bingung dengan jawaban mbaknya, apalah arti dab ini yang mengundang tanda tanya.

Saya ambil minumannya sebanyak 5 botol dan beberapa kue kering khas daerah setempat. Setelah dari sana, kami lanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang gunung tujuh.

Diatas motor, saya kembali mengingat kenapa si mbaknya jawab enam jadi dab. Ternyata si mbaknya sedang pilek, yang hidungnya tersumbat parah sampai-sampai menyebut enam saja menjadi dab. Duh, penting sekali yang saya pikirkan tadi.

Baiklah, lupakan segara tentang dab diatas. Sesampainya di gerbang, kami mendaftar ke posko penjagaan dan memulai jalan.

Medan ke Danau Gunung Tujuh dari awal sampai puncak yang terlihat danaunya selalu tanjakan. Dan pas sampai puncak yang keliatan danau, selanjutnya turunan terjal yang berhasil membuat lutut saya bergetar.

Perjalanan sekitar 3 jam akhirnya membuahkan hasil, walaupun di tengah perjalanan saya banyak berhenti dan mengeluhkan kaki yang jarang di bawa olahraga.

Sesampainya di pinggir danau, kami berhenti ambil nafas sejenak, kemudian makan diatas batu batu besar di pinggir danau.

Rasanya di pinggir danau gunung tujuh itu biasa aja sebenarnya, yang membedakan adalah pemandangannya dan dinginnya yang tak biasa.

Saya gak berani mandi, karena setelah googling kedalam maksimal danau kaldera tertinggi se asia ini ternyata mencapai 40 meter.

Ditambah lagi ada satu kayu yang terapung-apung yang jika dipindahkan ke mana saja di area danau, kayu itu akan tetap kembali ke tempat semula. Ya mana berani lah, selain itu juga saya takut kram.

Akhirnya cuma foto-foto sebagai tanda saya pernah kesana.

Perjalanan pulangnya Alhamdulillah lancar, walaupun sandal saya sempat koyak, dengan ide yang cemerlang saat itu, saya ikat pakai akar pohon yang kecil-kecil.