Sabtu, 07 Januari 2017

Postingan Gaje

Hari ini saya menemani emak belanja ke Balai Semurup, sebuah pasar tradisional mingguan yang menyediakan berbagai macam kebutuhan.

Hasil pertanian dari daerah Kayu Aro berkumpul di satu titik setiap hari Sabtu. Selain hasil pertanian, yang dijual di pasar mingguan ini juga ada makanan ringan untuk anak-anak yang dibawa ibunya ke pasar.

Ada juga alat-alat yang sekiranya dibutuhkan oleh bapak-bapak. Biasanya bapak-bapak lebih suka menunggu di tempat parkir, bersama bapak-bapak lainnya. Kebetulan saya juga gabung bersama kumpulan bapak-bapak.

Selama saya sekedar duduk-duduk, ada belasan penjual yang menjemput bola menawarkan dagangannya ke kami. Ikat pinggang, jam tangan, kredit barang elektronik, parfum, sampai senapan.

Saya jadi membayangkan penjual senapan yang bila tidak ada yang beli, dia menodongkan senapannya sebagai ancaman agar orang mau beli. Oke. Masuk akal.

Tapi.. kalau seandainya yang diancam itu akhirnya membeli senapan yang ditodongkan? Apakah si pembeli akan kembali menodongkan senapan yang barusan dia beli kepada si penjual? Dan dia mengancam agar si penjual senapan menyerahkan semua dagangannya kepada si pembeli yang baru punya senapan.

Itu kalo ada pelurunya. Mungkinkah penjual juga menyediakan pelurunya? atau mungkin saja ketika ancaman pertama dari si penjual hanya berupa ancaman tanpa peluru?

Kemudian, kalau seandainya ketika si pembeli mengancam dan si penjual juga balik mengancam (karena mereka sama sama masih punya senapan).

Kok gaje sekali postingan kali ini. Maaf pembaca.

Tapi... ini kan blog saya, ya terserah saya dong mau tulis apa.