Minggu, 21 Agustus 2016

Tentang Kenaikan Harga Rokok

Hari sudah maghrib, seperti biasa emak menyalakan TV mencari channel favoritnya. Acara yang emak cari mulai pukul 19:30, masih ada sekitar 30 menit lagi kira-kira, sembari menunggu emak pindah ke channel berita dulu.

Abak sholat maghrib di masjid, dan pulang ba'da Isya. Abak perokok sejak muda. Sampai sekarang juga masih merokok. Tapi dia tidak bawa rokok ke masjid, ada diatas meja dekat tempat duduk favoritnya.

Aku di dapur sejak selesai sholat maghrib di kamar. Menarik gagang kulkas mencari telur ayam. Mengiris bawang menyalakan kompor menuangkan minyak goreng.

"Harga Rokok Akan Rp.50.000 per Bungkus!" Emak antusias membacakan tulisan yang ia lihat di layar televisi sampai terdengar olehku yang masih di dapur. "Haaa... kato ka ngusi abak mpong sagih kalu lah baleik" begitu lanjutnya.

Aku yang sudah tau info itu sejak awal kemunculannya tidak kaget, karena melihat emak yang reaksinya begitu, aku menghampirinya sebentar dan ikut antusias walaupun sebenarnya biasa saja. Aku tau info seperti ini yang diinginkan ibu rumah tangga yang punya suami perokok.

Emak menekan tombol volume up sampai suara pembaca berita memenuhi isi rumah. Sayangnya abak masih di masjid. Emak berharap abak ikut menonton agar mengurangi kebiasaan merokoknya.

Aku kembali ke dapur dengan minyak goreng yang sudah panas. Telur ayam kampung yang di erami oleh ayamku sendiri yang akan aku makan. Ya cukup itu saja, ditambah bawang dan garam secukupnya dengan telur yang tidak matang bagian kuningnya. Aku suka yang begitu.

Emak masih antusias dengan pemberitaan harga rokok yang mau naik. dari posisi dia berbaring tadinya, sekarang duduk. kurang antusias apa.

Aku yakin setiap emak-emak diluar sana yang punya suami perokok senang dengan berita ini, walaupun masih sebatas wacana, belum lagi nanti akan banyak hambatan untuk menerapkan peraturan baru ini.

Tak lama sehabis isya, abak pulang. Belum sempat duduk, emak langsung bilang apa yang ia lihat tadi. Dengan mudahnya abak yang perokok bilang kalau itu hanya kurang kerjaan. Bagi abak, koruptorlah yang seharusnya di berantas, bukan malah membuat harga rokok jadi lebih mahal. Ciri seorang perokok memang begitu, pandai berkilah dan tak mau kalah.

Emak dengan kesalnya membalas, "Eeee... banyak alasan, inih masalah ukok tibo pulo ke koruptor".

Ya begitulah, walaupun masih sekedar wacana ingin menaikkan harga rokok, ini cukup membuat kaum perokok berpikir.

Semoga wacana tidak sekedar wacana, perokok pasif sepertiku ingin sekali wacana ini cepat teralisasi.