Tuesday, August 16, 2016

Ditinggal ke Hungaria

Jam disudut kanan bawah komputerku menunjukkan pukul 9 malam lengkap dengan menit dan detiknya yang tak mau ku sebutkan. Disaat yang bersamaan, Vindy sedang berada di rooftop rumahnya bersama geng rexy family-nya. Mereka menghabiskan waktu semalaman ini dirumah Vindy dan langsung menginap disana.

Aku seperti biasa, duduk dengan tetikus ditangan dan memandang layar monitor sampai tubuhku agak kedepan memperhatikan kiriman desain logo dari peserta lain di sebuah website.

Tadi sore Vindy bilang dia disuruh salah satu teman se gengnya untuk tidak main hape, karna ini malam perpisahan bagi mereka bersama Vindy. Besok dia mau ke bandara Hang Nadim menuju ke jakarta, kemudian qatar, terakhir ke Hungaria. Aku pernah dikirimi screenshot tiketnya, jadi aku tau.

Tujuanya untuk belajar budaya disana dan memperkenalkan budaya Indonesia disana. Dulu semasa aku sekolah tak sampai seperti itu. Makanya wajar kalau aku bangga dengannya.

Sudah dua tahun lewat kami bersama, ya walaupun kami jauh tapi kemarin akhir bulan 2 aku berkesempatan bertemu dengannya.

Sembari aku menulis ini, kami juga sedang chatting. Dia tidak ingat kalau tadi sore temannya tidak membolehkan main hape, mereka mau quality time sebelum Vindy berangkat katanya. Aku tak begitu mempermasalahkan. Tapi si Vindy ini sepertinya juga tak ingin jauh denganku (Vindy, kamu harus mengakuinya didepan pembaca blog ini), dia berkali-kali bilang sedih dan minta maaf lengkap dengan stiker yang ia beli kemarin

Aku sudah hilang fokus desain apa yang harus aku buat untuk si Contes Holder. Biasanya tak seperti ini. Bagaikan anak kecil ditinggal ibunya di terminal pasar membelikan mainan untuk si anak. Anak ini panik ditinggal sendiri, tapi si anak ini pasti tau ibunya akan membawa yang terbaik nantinya.

Aku juga mau panik kalau bisa. Aku ditinggal ke Hungaria.