Minggu, 03 April 2016

Berkunjung ke Rumah Sakit

Beberapa hari yang lalu, saya, Hefryan, Agung dan Andi berkunjung ke sebuah bangunan tua di Kayu Aro. Bangunan tersebut dulunya merupakan Rumah Sakit untuk para pegawai di kawasan PTPN6, yang memproduksi teh Kayu Aro.

Sekarang, hanya tinggal satu bangunan dari keseluruhan yang masih ditinggali sebagai Puskesmas setempat. Saat kami berkunjung kesana, bangunan yang masih berfungsi tersebut menampung beberapa pasien yang dirawat disana.

Disekitar Rumah Sakit juga terdapat kebun jagung, yang dimanfaatkan warga.

Rumah sakit ini terkenal setelah tim Mas Tukul Jalan-jalan (auuuu) hendak shooting di sana, namun tidak jadi. Menurut masyarakat setempat, suasananya terlalu bahaya sehingga timnya Mas Tukul pun mengurungkan niatnya berkenalan dengan arwah penunggu disana.

Karena cerita Mas Tukul tidak jadi kesana-lah yang membuat kami penasaran ingin melihat dan sekalian merasakan suasana seramnya.

Di samping rumah sakit terdapat tiga makam, salah satunya adalah makam atas nama R.Jasmin yang lahir pada 1903 dan wafat 1956. Saat kami mencoba mendekati ketiga makam tersebut, rasanya seperti ada penyambutan.

Kami jalan-jalan sekitar rumah sakit, dan masuk salah satu ruangan yang tampak tak terurus, kotor, ada ranjang dari besi, alat-alat rumah sakit, dan penuh sarang burung walet.

Yang bikin saya merinding saat masuk ketika melihat sebuah pamflet bertuliskan “Anak umur 6 tahun tiba-tiba lumpuh” dengan gambar kaki seorang anak. Saya buru-buru keluar ruangan setelah membacanya. Sampai diluar barulah saya sadar kalau itu adalah sebuah pamflet tentang polio. Tapi tetap saja bikin merinding, karena burung waletnya takut kami. Mereka terbang ke sisi yang lain.

Setelah puas mengitari satu persatu bangunan rumah sakit, kami berempat mulai tak enak badan, mual, pusing, dan rasa ingin buang angin. Rasa yang terakhir kebetulan saya sendiri yang mengalaminya. Bukan karena suasana seramnya rumah sakit, tapi karena saya masuk angin setelah menempuh perjalanan kira-kira satu jam dari rumah menuju Kayu Aro.

Makanya kami buru-buru pulang agar tak ada yang saling menyalahkan karena seramnya suasana dan bau yang ditimbulkan.