Saturday, December 19, 2015

Fisika, Seekor Ayam, dan Rasa Rendah Diri

Asal anda tau, saya termasuk orang yang menganggap ilmu fisika itu keren, asik, cara belajar fisika mudah dan menyenangkan. Yang membuat saya berpikiran bahwa fisika itu terlihat keren adalah Pak Hamid, saya lupa nama lenkap beliau.

Pak Hamid adalah guru fisika ketika saya kelas 3 SMP dulu, beliau termasuk guru favorit dikalangan guru lainnya. Ciri khasnya adalah rambut di kepalanya kurang mau tumbuh di bagian atas. Anggapan anak sebaya saya dulu, kalau ada orang yang botak bagian depan dan atas kepalanya saja, itu dianggap pintar (baru sekarang saya sadar kalau pintar tak ditandai dengan kurangnya rambut).

Pak Hamid dimata anak-anak yang lain adalah guru yang baik, beliau mengajar dengan cara yang disenangi murid-murid. Pak Hamid juga lebih sering mengajak murid-muridnya praktek langsung di laboratorium. Padahal waktu itu labor fisika di sekolah saya terbilang kurang lengkap, dan banyak alat-alat yang kusam berdebu.

SMP saya dulu bertempat di desa bernama Desa Koto Payang, Kerinci. Merupakan SMP terpanjang di kerinci, karena bangunannya yang seperti gerbong kereta api. Menghadap ke hamparan sawah masyarakat. Pak Hamid sering mengajak kami melihat kejadian fisika apa saja yang bisa dijadikan pelajaran dari hamparan sawah.

Pernah Pak Hamid beberapa hari sebelum jadwal ujian nasional SMP mengajak kami murid-muridnya bertaruh dalam masa try-out. Taruhannya satu ekor ayam. Pak Hamid memberi tantangan kepada kami, seandainya ada anak yang lulus try-out dengan nilai memuaskan, maka satu ekor ayam jantan akan diberikan secara cuma-cuma oleh Pak Hamid. Namun jika tak ada anak yang mampu memperoleh nilai yang memuaskan, Pak Hamid tidak mematok apa-apa untuk dirinya.

Setelah Pak Hamid memberi pernyataan yang menantang itu, sayangnya tak ada yang berani menerima tantangan. Semua murid tidak yakin nilainya akan memuaskan, termasuk saya.