Rabu, 23 September 2015

Gara – gara Lagu Kisah Kasih di Sekolah

Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri acara wisuda abang sepupu di Kota Padang. Dari Kerinci saya pergi naik travel kemudian separuh perjalanannya dilanjutkan naik motor bersama abang saya.

Dengan menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Solok Selatan tempat saya memulai perjalanan pakai motor. Sebagaimana orang kerinci yang terbiasa dengan suhu udara yang relatif dingin, sampai di Kota Padang langsung mengeluh kepanasan.

Padahal saya terhitung cukup sering ke Kota Padang, tapi masih saja kepanasan. Butuh waktu lagi untuk menyesuaikan diri. Karena suhu udara di Kerinci terlalu nyaman untuk dihirup mungkin. Walau Kerinci sedang menerima asap kiriman dari daerah tetangga, tetap saja sejuk.

Sampai disana kami menginap di Kost-an-nya abang sepupu saya ini, cuma 4 hari disana padahal, selama 4 hari pula peluh saya tak berhenti menetes.

Hari terakhir saya disana setelah acara wisudanya selesai saya pulang lagi ke Kerinci dengan naik motor bersama abang saya sampai di Solok Selatan. Kemudian di lanjutkan dengan menyetop mobil travel untuk sampai ke Kerinci.

Singkatnya, naiklah saya ke mobil pribadi yang menyamar menjadi travel ini. Supirnya terlihat seperti anak muda zaman 80-an, gampang sekali ditebak lagu-lagu apa saja yang akan diputar untuk menemani penumpang sepanjang perjalanan. Lagu dengan nada santai dan penuh cerita cinta.

Sampai akhirnya diputarlah lagunya Almarhum Crisye – Kisah Kasih di Sekolah. Semua pasti tau lah lagunya. Lagu yang mengajak bernostalgia ke masa-masa SMA ini berhasil membuat saya baper (bawa perasaan). Ditambah dengan suasana gerimis, ada rintik-rintik air menempel dikaca mobil.


Mungkin tak hanya saya yang baper dengan lagu ini, semua orang yang punya masa-masa indah di SMA akan terdiam mengikuti irama lagunya. Saya juga begitu. Sedih. Lagunya seperti mesin waktu, yang mengajak kita mengingat masa-masa SMA.

DItengah-tengah lagunya, saya sadar bahwa saya bukan anak SMA. Saya dulunya anak Madrasah. Dan lagian saya tidak pernah pacaran waktu di Madrasah. Saya berpikir sejenak, kenapa saya harus baper dengan lagu ini? Padahal lagu ini tak mirip dengan cerita waktu di Madrasah saya dulu. Tak pernah malu sama sekali pada semut merah yang berbaris di dinding.

Ah entahlah, nyatanya saya masih tetap baper dengar lagu ini. Mungkin karna saya menyesal mengapa saya dulu tak menjalani kisah seperti didalam lagu. Malah berpacaran dengan Laptop sendiri. Gara-gara lagu ini saya jadi baper, gara-gara lagu ini juga, saya nulis di blog lagi.