Sabtu, 08 Agustus 2015

Gara-gara Seekor Burung

Abu Thalhah Al-Anshari adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal tekun beribadah dan tak pernah meninggalkan jihad. Ia tak hanya dikenal tangkas berperang, tapi juga khusu’ beribadah. Abu Thalhah mempunyai sebidang kebun kurma dan anggur yang amat luas. Kala itu, tak ada kebun di Madinah seluas dan sebagus kebun Abu Thalhah.

Pepohonannya rimbun, buah-buahannya selalu subur dan banyak. Siapapun yang melihat kebun tersebut, tentu berdecak kagum dan memuji kebesaran Sang Pencipta. Begitupun Abu Thalhah. Sahabat Rasulullah yang nama aslinya adalah Zaid bin Sahal an-Najjari ini tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah.

Suatu ketika Abu Thalhah sedang melakukan shalat sunnah dibawah naungan sebatang pohon nan rindang, pikiriannya terganggu oleh siulan seekor burung berwarna hijau, berparuh merah, dan kedua kakinya indah berwarna.

Ilustrasi
Burung itu melompat dari dahan ke dahan, bersiul-siul dan menari-nari dengan riangnya. Nampaknya, burung tersebut tengah menikmati rindangnya dedaunan dan ranumnya buar kurma dan anggur milik Abu Thalhah.

Dalam shalatnya, Abu Thalhah tak bisa melepaskan kekagumannya terhadap burung itu. Dia membaca tasbih, berusaha khusu’ dalam shalat. Tapi pikirannya tak bisa lepas dari burung itu. Abu Thalhah tidak menyadari berapa rakaat dia shalat. Ia tak ingat.

Selesai shalat dia pergi bergegas menemui Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Ia juga menuturkan tentang pepohonan nan rindang dan burung yang bersiul sambil menari-nari ketika ia shalat.

Rasulullah SAW tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu.

Tapi Abu Thalhah tahu, dirinya sedang ditertawakan. Bagaimana mungkin kekhusu’annya beribadah kepada Allah bisa dikalahkan oleh seekor burung. Dan, Penyebab utama kehadiran burung itu adalah kebunnya.

Abu Thalhah merenung. “ Ini tak boleh terjadi lagi,” ujarnya dalam hati.

Menyadari hal itu, Abu Thalhah segera berkata, “Wahai Rasullullah, saksikanlah! Kebun itu aku sedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pergunakannlah sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.”

Sejak saat itu, kebun Abu Thalhah menjadi milik kaum muslimin dan hasilnya dipergunakan untuk memperjuangkan Islam. Sejak saat itu juga Abu Thalhah tak pernah lagi “diganggu” oleh kebunnya. Ia bisa beribadah dengan tenang tanpa terusik siulan burung atau ranumnya buah kurma dan anggur.

Dikutip dari Oase Majalah Sabili Edisi 28 Rajab 1424.