Senin, 15 Juni 2015

Kita Adalah Pembunuh Angeline

Saya mempunyai masa kecil yang terbilang indah, bersyukur saya bisa punya masa kecil bisa bermain kelereng, gasing dari kayu, mobil tamiya hasil rakitan sendiri, dan permainan zaman dulu lainnya. Masa kecil yang banyak bermain dengan lingkungan yang memadai seperti dulu, lingkungan bermain yang nyaman serta aman memang menjadi dambaan setiap anak kecil.

Masa kecil yang hangat dengan belaian orangtua dan lingkungan sekitar yang ramah pula. Hingga seperti sekarang, saya masih merasa bahagia sebagai penjaga warnet di warnet sendiri. Pulang malam tak apa, yang penting akses internet lancar hati senang.

Semakin kesini, saya menyadari tak semua anak bisa punya hak untuk bahagia sesuai maunya. Ternyata banyak anak seperti Angeline. Yang lahir dari rahim ibu kandungnya, malah di adopsi oleh ibu angkatnya. Ini semua karna masalah biaya persalinan yang tak mampu orangtua kandung Angeline tanggung sendiri.


Malang sekali nasibmu Angeline, kamu tak seharusnya tinggal di lingkungan kumuh dan bau, yang di huni psikopat serta pembunuh bayaran.

Semua tau, Agus bukanlah Pembunuh sebenarnya, dia hanya Eksekutor. Yang sebenarnya membunuh Angeline adalah kita. Ya, Kita. Kita yang terlalu melabeli Angeline dengan “Cantik gitu kok dibunuh?”, “Kasihan sekali, anak imut begitu dibunuh”.

Tak ada yang menjamin cantik dan imut (apalagi unyu) tidak bisa dibunuh. Kita terlalu menganggap anak yang cantik dan terlihat terawat diperlakukan baik oleh keluarganya. Padahal tidak. Kita yang kurang peduli. Heboh saat kejadian begini saja.

Bagaimana kalau seandainya Angeline adalah anak jalanan buruk rupa? Masihkah kita peduli?

Anak-anak rentan sekali atas perbuatan pelecehan seksual dan pembunuhan. Setelah kejadian ini lalu kita pun menuduh Ibu angkat Angeline adalah otak pembunuhan, kemudian menghujat ibu kandung Angeline yang mau saja memberikan Angeline kepada orang lain. Lagi pula, ibu kandung mana yang mau saja memberikan bayi baru berumur tiga hari kalau bukan masalah persalinan? Negara juga entah dimana perannya, biaya persalinan di negeri ini begitu mahal.

Sekali lagi, kita adalah pembunuh Angeline.

Andai saja kita belajar pada kasus sebelumnya yang juga heboh, menimpa bocah perempuan berumur 11 tahun yang di perkosa ayahnya sendiri. Tentu Angeline masih hidup dan masih bisa bermain, bukannya memberi makan ayam sebelum sekolah.

Saya ingin sekali kita belajar pada kasus Angeline ini, agar anak-anak yang lain tidak berakhir dengan kasus serupa. Pedulilah dengan anak-anak sekitar tempat tinggal kita.

Kita tidak tau jenis kejahatan bagaimana lagi selanjutnya yang terjadi pada anak-anak. Karena jenis kejahatan selalu terbarukan.

Sekarang, Angeline sudah tiada, saya percaya bahwa Angeline ingin kita belajar dari kasus pembunuhannya ini, agar tak ada korban lagi. Semoga kita lebih peduli dengan anak-anak di lingkungan sekitar kita kedepannya.