Rabu, 20 Mei 2015

Memangnya Kenapa Dengan Langgam Jawa?

Peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad yang diperingati di Istana negara kemarin mengundang perhatian banyak pihak, acara yang kala itu dihadiri Presiden Joko Widodo dan berbagai pejabat pemerintah. 

Pada awal mula acara tersebut, seperti biasa ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Qori Muhammad Yaser Arafat. Saya ikut menonton acara itu lewat media televisi yang ditayangkan oleh TVRI.


Mungkin tidak hanya saya, semua orang yang menyimak acara itu merasa terkejut dengan irama membaca Al-Qur’an oleh Qori. Irama yang dibawakan disebut langgam jawa, saya sebenarnya tidak begitu paham apa itu langgam jawa. Yang saya dengar irama membacanya mirip dengan lagu keroncong yang dibawakan Gesang.

Besoknya setelah acaranya selesai, bermunculan artikel yang membahas kalau membaca dengan irama langgam jawa adalah hal yang konyol. Mereka berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an tak seharusnya dengan langgam jawa, karna dikhawatirkan akan muncul langgam-langgam lainnya dari daerah masing-masing di Indonesia. Sebut saja akan muncul langgam minang. Lagi pula membaca dengan irama Langgam Jawa banyak yang tidak sesuai tajwid.

Namun begitu, ada juga sebagian pendapat yang mengatakan itu tidak masalah. Sah-sah saja. Karena itu hanya perbedaan pendapat sebagian ahli qiraat saja. Ditambah lagi tidak ada ayat atau hadits shahih tentang itu. Hadits yang banyak tersebar di artikel yang menganggap membaca dengan langgam jawa haram adalah hadits yang putus sanadnya. Jadi, haditsnya lemah.

Seiring dengan banyaknya pemberitaan tentang ini di dunia maya. Muncul juga orang-orang yang tiba-tiba jadi paham bahkan langsung menilai kalau itu tidak boleh. Padahal saya yakin, orang-orang ini hanya membaca berita yang mengharamkan, belum membaca kalau ada juga yang membolehkan. 

Sangat disayangkan sekali banyak muslim yang tiba-tiba jadi seperti paham betul akan hal ini. Membaca Al-Qur’an saja jarang, eh malah sudah seperti ahli dibidangnya saja berkomentar kalau ini memang haram. Bahkan saya juga terbawa suasana, sampai-sampai berani menulisnya di blog ini, walaupun saya tidak berada di pihak yang membolehkan atau mengharamkan. Karna saya sendiri, terhitung jarang membaca Al-Qur’an.

Saya paham saya tidak ahli di bidang qiraat. Makanya tulisan ini muncul untuk mengajak teman-teman agar tidak ‘ikut campur’ dalam hal ini jika belum paham. Biarlah para ahli saja yang membahasnya, mereka berhak berpendapat, karena mereka ahlinya. Silahkan kita duduk manis saja memperhatikan persoalan ini.