Monday, March 16, 2015

Tiga Minggu Menjadi Operator Warnet

Pada era digital ini, manusia begitu bergantung kepada yang namanya internet. Sebagian besar orang di dunia ini sudah mengenal internet, dari sebagian besar itu pula terdapat orang-orang yang sudah ketergantungan pada internet. Karena kebutuhan akan internet begitu tinggi, maka sebagai manusia yang di anugerahkan otak bisnis, baru-baru ini saya memulai usaha kecil-kecilan yang terbilang mainstream yaitu warung internet yang biasa orang indonesia singkat menjadi warnet.

Nah, Hari ini tepat tiga minggu warung internet saya berdiri di sudut kota Sungai Penuh, Jambi. Operator diwarnet saya baru satu orang, yaitu saya sendiri. Saya mulai membuka lapak jasa untuk internetan mulai pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Ya, saya sekarang mempunyai aktifitas baru, yaitu duduk didepan komputer sambil mengawasi komputer client yang baru ada 3 komputer saja. Namanya juga baru mulai, sedikit dulu tidak apa-apa yang penting serius. Serius duduk.

Menjadi operator warnet memang terbilang gampang, kerjanya hanya duduk saja dari pertama buka sampai tutup. Sesekali ada pasien yang komplain atau kurang paham, itu saja tantangannya mungkin. Karena menjadi operator warnet termasuk kedalam jenis pekerjaan yang kurang menantang memang.

Selama tiga minggu ini, saya jarang membuka blog ini karena masih belajar bagaimana menjadi operator warnet yang baik. Maklumlah, saya masih pemula dalam dunia per-operator-an. Belajar bagaimana sabar dalam menghadapi beragam jenis makhluk yang masuk menggunakan jasa internet saya, belajar untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan, belajar bagaimana selalu memberikan kesan warnet yang bersih kepada pelanggan. 

Kalau teman-teman mendengar kata ‘bersih’, jangan dulu berpikir bahwa bersih yang nampak saja. Selama tiga minggu ini saya mempelajari betul perilaku pasien yang datang berkunjung ke warnet. Situs apa saja yang mereka buka, serta aplikasi apa saja yang mereka jalankan. Asal tau saja, 70% pasien warnet saya adalah anak-anak SD hingga SMP (saya pikir seluruh warnet di indonesia juga dikuasai sama anak-anak). Saya khawatir anak-anak ini menuju ke situs yang tidak-tidak, kalau situs yang iya-iya tentulah saya perbolehkan. Setelah saya periksa riwayat pada masing-masing browser, ternyata terdapat situs yang tidak-tidak. Mungkin, teman-teman mengetahui bahwa pemerintah sudah memblokir situs yang tidak-tidak ini, namun kenyataan di lapangan (baca; warnet), masih ada sebagian situs yang luput dari perhatian pemerintah yang lupa di blokir. Saya pun mencari cara agar warung internet saya benar-benar bersih dari situs yang tidak-tidak ini, apalagi yang mengaksesnya adalah anak-anak dibawah umur. Tentu belum pantas bagi mereka situs semacam ini. 


Saya mencari cara agar situs ini tidak bisa terbuka lagi di warnet saya, satu-satunya jalan adalah dengan menutup akses ke situs tersebut, karena kalau diberi peringatan berupa tulisan dikertas yang tertempel di dalam bilik warnet saja, rasanya kurang efektif, lebih baik menutup akses ke situsnya langsung alias mem-blokirnya. Ditambah satu lagi situs yang saya blokir yaitu youtube.com. hanya satu komputer client saja yang saya izinkan mengakses youtube. Tujuannya agar menghemat biaya tagihan telkom :D

Tujuannya tentu saja menyelamatkan generasi muda sekarang yang sudah parah kenalnya sama internet. Ya, setidaknya itu adalah perbuatan mencegah ke hal-hal yang tidak diinginkan oleh orangtua si anak. karena orangtua anak-anak ini pasti tidak mengetahui situs apa saja yang dituju. Kalau hanya mengakses sosial media dan mereka eksis serta narsis disana, saya tidak bisa larang. Karena merupakan hak setiap orang untuk eksis dan narsis.

Itu saja mungkin pengalaman tiga minggu menjadi operator warnet, cukup menyenangkan kalau kita lakukan dengan ikhlas. mungkin kalau ada dari teman-teman yang juga punya warnet atau sebagai operator warnet, blokirlah situs yang tidak-tidak agar rezekinya berkah sekaligus menjaga generasi penerus kita yang nantinya juga akan menjadi operator warnet. eh