Kamis, 29 Januari 2015

Lebih Bersinar daripada Raisa

Mungkin ini bukanlah zaman dimana bapak-bapak masih tertarik sama janda baru jadi yang tinggal sendiri ataupun hobi main kartu sambil taruhan gantung botol jika kalah ataupun sekedar duduk-duduk di warung kopi sembari menunggu adzan maghrib.

Pak Tarman orang kampung saya, sekarang jadi jarang pulang gara-gara hobinya kepada batu yang begitu menarik perhatiannya. Padahal sebelumnya Pak Tarman adalah seorang Petani yang rajin mengurusi kebunnya dan hasil panennya pun kadang memuaskan. Sesekali setelah panen dari kebun miliknya, hasil kebun Pak Tarman dibagikan ke tetangga secara cuma-cuma, sempat harga cabai kemarin mencapai harga ratusan ribu, pak tarman masih mau membagikan sedikit cabai hasil panennnya untuk tetangganya agar tidak menambah biaya dapur, Pak Tarman juga mengantarkan dagangannya ke pasar terdekat untuk ditukarkan dengan rupiah. Namun sekarang setelah Pak Tarman jarang ke kebun, para tetangganya pun bertanya dalam hati mengapa Pak Tarman sudah tidak membawakan oleh-oleh kerumah mereka.

Tanpa tetangga dan Pak Tarman sadari, Pak Tarman ternyata kembali masuk ke zaman batu. Ini ditunjukkan setiap jarak seratus meter, dengan mudahnya Pak Tarman menjumpai tukang asah batu. Bahkan mas Tukul sudah kembali ke Laptop pun Pak Tarman mau tidak mau harus kembali ke zaman batu. Zaman dimana batu mulai di onggok-kan dalam sebuah wadah dilapisi kain putih dan di jaja-kan tepat disamping mesin gerinda untuk memotong batu.

Teman nongkrong Pak Tarman pun mulai beragam sekarang, mulai dari tukang ojek sampai pejabat pun lebih suka nongkrong bersama disamping tukang asah batu. Semua berbagi cerita tentang batu yang mereka punya, bahkan ada yang tak sengaja menambahkan unsur ghaib kedalam sebuah batu. Bapak-bapak ini memang sudah terbuai cerita dan mengkilapnya batu dihadapan mereka. Kalau saja ada penghargaan dikampung saya untuk yang paling menggemari batu ini, Pak Tarman lah yang pantas mendapatkannya. Pak Tarman dianggap sudah bergelar addict kepada batu bagi warga kampung, karna dia paham betul jenis batu dan darimana batu itu berasal, ia mengaku pengetahuannya tentang batu berasal dari seringnya ia mengobrol dengan orang lain tentang batu, padahal latar belakang Pak Tarman selama ini adalah petani baik hati yang mau menyisihkan hasil kebunnya kepada tetangga. Pak Tarman jadi jarang ke kebun dan tidak lagi membagikan hasil kebunnya ya gara-gara hobi barunya ini.

Bagi warga kampung, Pak Tarman Ibarat ensiklopedia berjalan yang khusus membahas batu. Sampai-sampai ada pejabat yang mau mendanai Pak Tarman agar membuka tempat asah batu yang akan dikelola oleh Pak Tarman Sendiri. Pak Tarman tentu senang ada orang yang memperhatikan dia yang begitu punya banyak informasi tentang batu. 

ilustrasi
Sebelum Pak Tarman membuka tempat asah batu miliknya yang didanai oleh seorang pejabat di kampung itu, Istri Pak Tarman untungnya bersabar karna Pak Tarman selalu berada di tempat asah batu milik orang dan jarang pulang. Ya memang harus sabar, tapi tidak perlu khawatir karna Pak Tarman sangat aman nyaman berada di depan lemari kaca tempat batu dipamerkan lengkap dengan tukang asahnya. Sekarang, Pak Tarman sudah mempunyai mesin gerinda sendiri, dan dia dengan leluasa mengasah sambil memberikan informasi dan ilmunya kepada penggiat batu. Bagi orang yang kurang menggemari batu, mungkin tidak ambil pusing dengan adanya hobi baru ini, namun bagi Pak Tarman batu itu lebih bersinar daripada Raisa.