Minggu, 11 Januari 2015

Alam yang Tak Bersahabat?

Sore hari ba’da Ashar biasa digunakan oleh stasiun TV sebagai jadwal untuk menyiarkan berita, waktu ini memang strategis ditaruh program berita karna memang hampir semua orang sudah pulang dari rutinitas mereka sehari-hari. Meski belum bekerja, saya juga sering membuka siaran TV di sore hari dan nonton bersama keluarga. Kami sekeluarga menonton tayangan berita yang sedang meliput tim SAR mengevakuasi bangkai pesawat guna mencari kotak hitam atau Flight Data Recorder untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat.

Reporter TV tampak berpeluh menyampaikan berita yang sudah ia konsep terlebih dahulu, lalu menanyakan kepada salah satu dari tim SAR yang sudah bersiap disamping sebelum ia ditanya. Tampak nada terburu-buru si petugas dalam menyampaikan apa yang ia temukan. Dengan nada terburu-burunya itu, semua pemirsa yang sedang menonton tayangan tersebut dipastikan menganggap bahwa memang sukar dalam menemukan kotak hitam pesawat. Para prajurit tentara, penyelam dan semua yang terlibat dalam misi pencarian memang patut diacungi jempol karna mereka bekerja di atas permukaan laut yang bergelombang tinggi sehingga menyulitkan pencarian.

Drama pencarian bangkai pesawat ini memang menarik perhatian khalayak ramai seantero negeri. Apalagi saat reporter mewawancarai narasumber yang terlibat dalam pencarian dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Saya menyimak betul saat reporter bertanya bagaimana langkah selanjutya dalam proses pencarian bangkai pesawat kepada narasumber disampingnya. Namun yang membuat saya berpikir sejenak adalah saat jawaban si narasumber yang selalu beralasan alam yang tak bersahabat. Semua orang mengetahui keadaan di laut itu bagaimana, tapi dalam proses pencarian seperti ini masih menyalahkan alam? Bukannya saat pesawat itu jatuh juga karna Alam yang tak bersahabat karna satu awan yang bermuatan listrik menggumpal yang biasa disebut awan Cumulus Nimbus? . Semua bisa menyalahkan alam, karna memang alam tidak akan protes dan menuntut atas alasan pencemaran nama baik kepada yang menuduh ia sudah tak bersahabat. Alam memang tidak akan protes, tapi ia akan mengungkapkan apa yang telah manusia perbuat kepadanya dengan cara seperti bencana dan cuaca yang tidak menentu. Kita tinggal di dunia ini, menebang pohon, mencemari alam, merusak ekosistem, sehingga menyebabkan es di belahan selatan dan utara bumi mencair, dan kita manusia juga memancing alam sehingga cuaca amburadul tidak karuan, yang seharusnya musim hujan tetapi malah datang panas terik, dan menyebabkan banjir. Tapi kemudian kita masih juga menyalahkan alam yang tak bersahabat. Sebenarnya alam tidak salah apa-apa, sama sekali tidak salah. Kita manusia yang salah. Ayolah Pak! Bu! Ganti kalimat yang selalu menyalahkan alam dengan kalimat yang membuat alam senang. Berhenti menyalahkan alam mulai sekarang, orang-orang yang membaca berita ‘pencarian terhenti karna alam tak bersahabat’ ter-sugesti untuk menyalahkan alam juga. Kasihan alam tempat kita tinggal ini, sudahlah di rusak eh masih disalahkan lagi.


Untuk itu gunakanlah kalimat yang baik dan sopan yang tidak menyalahkan siapa-siapa, apalagi meyalahkan alam. Tidak baik menyalahkan, Pak! Bu! Lebih baik terus saja berusaha mencari. Sehingga membuat tenang keluarga penumpang yang kehilangan keluarga mereka.

Itu saja. Terimakasih sudah membaca sejauh ini.
Wassalam.