Sunday, December 28, 2014

Pertanyaan Mainstream Wartawan Saat Ada Bencana

Baru-baru ini terjadi lagi sebuah berita duka dari dunia penerbangan, pesawat Air Asia milik Tony Fernandes hilang kontak saat beberapa menit lepas landas dari Surabaya ke Singapura. Dijadwalkan tiba pada pukul 08:30 namun hilang kontak sekitar pukul 06:15. Semua panik. Semua khawatir. Keluarga korban mencari berita tentang kerabat mereka yang ada di dalam pesawat Air Asia.

Semua stasiun TV terpaksa memberhentikan tayangan FTV mereka yang diganti dengan Breaking News. Hampir semua pembaca berita menampilkan raut muka sedih ber-api-api saat membacakan berita. Seketika menjadi Trending Topic di sosial media.

Satu dua jam berlalu dari jadwal harusnya, semua menunggu kepastian bagaimana nasib pesawat Air Asia beserta penumpang dan kru pesawat yang berjumlah 155 orang.

Semua stasiun TV mulai memerintahkan para wartawannya untuk mencari berita dengan cara apapun termasuk me-wawancarai berbagai narasumber.

ilustrasi
Hal paling mainstream saat ada bencana seperti ini, yang jadi narasumbernya adalah keluarga korban. tidak ada yang salah dengan keluarga korban. Namun yang agak mengerutkan dahi adalah saat para pencari berita menanyaka langsung kepada keluarga korban yang tengah menangisi kerabat mereka yang hilang entah kemana.

Bagaimana perasaan anda sebagai keluarga korban?

Memang tidak ada yang salah, wartawan memang begitu kerjanya. Tapi saat masyarakat menonton tayangan wawancara seperti itu tentulah akan membuat kita berkata dalam hati:

Sedih lah pak, masa gak sedih :/

Tapi masyarakat kita juga tidak salah, karna sudah biasa disuguhi drama-drama yang mengundang air mata. Kita berharap agar muncul celetupan yang mengandung do’a untuk para korban, dengan tidak bertanya kepada keluarga korban dengan pertanyaan mainstream.