Wednesday, November 5, 2014

Asuransi Syariah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Asuransi berarti pertanggungan; perjanjian antara dua pihak, pihak yang satu berkewajiban membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya sesuai dengan perjanjian yang dibuat. Sedangkan Syariah adalah hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitar berdasarkan Al-qur’an dan Hadits. Jadi, dapat disimpulkan bahwa asuransi syariah adalah pertanggungan antara kedua pihak yang bersepakat dengan cara yang diatur oleh islam.



Dewasa ini, banyak orang yang meng-asuransi-kan berbagai benda maupun orang itu sendiri. Pemain bola yang meng-asuransi-kan kakinya yang jika dimasa depan terjadi hal yang buruk menimpa kakinya. Atau orang yang meng-asuransi-kan jiwanya yang apabila ia meninggal maka keluarganya akan mendapat dana bantuan dari perusahaan asuransi.

Nah! Apa yang membedakan asuransi tidak syariah dan asuransi syariah?

Karna namanya asuransi syariah maka yang dipakai tentu sistem islam yang notabenenya mengatur hidup manusia dengan sistem yang tidak merugikan manusia itu sendiri. Biasanya asuransi pada umumnya memakai jangka waktu misalkan dalam asuransi jiwa ditetapkan dengan kesepakatan waktu selama 10 tahun, nah selama 10 tahun ini kalau tidak ada apa-apa yang terjadi pada orang yang ber-asuransi maka dana yang telah ia setor harus rela diberikan untuk perusahaan. Kesepakatan semacam ini tentu membuat orang yang ber-asuransi merasa was-was jikalau tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Dalam waktu yang 10 tahun itu orang yang ber-asuransi (mungkin) berharap sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya agar dana dari perusahaan asuransi diberikan kepadanya.

Ada beberapa perbedaan mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Perbedaan tersebut adalah:
  1. Asuransi syari’ah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dari MUI yang bertugas mengawasi produk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi dananya. Dewan Pengawas Syariah ini tidak ditemukan dalam asuransi konvensional. 
  2. Akad yang dilaksanakan pada asuransi syari’ah berdasarkan tolong menolong. Sedangkan asuransi konvensional berdasarkan jual beli 
  3. Investasi dana pada asuransi syari’ah berdasarkan Wakallah bil Ujrah dan terbebas dari Riba. Sedangkan pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai bagian penempatan investasinya 
  4. Kepemilikan dana pada asuransi syari’ah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya. 
  5. Pembayaran klaim pada asuransi syari’ah diambil dari dana tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan. 
  6. Pembagian keuntungan pada asuransi syari’ah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Sedangkan pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.

Dan pada akhirnya semua dana yang dikelola tersebut (dana tabarru’) nantinya akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi terjadinya musibah/bencana/klaim yang terjadi diantara peserta asuransi. Melalui asuransi syari’ah, kita mempersiapkan diri secara finansial dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip transaksi yang sesuai dengan fiqh Islam. Jadi tidak ada keraguan untuk berasuransi syari’ah.