Rabu, 29 Oktober 2014

Rokok Pak Haji

Pagi ini, saya seperti biasa dibangunkan oleh abak saya yang tidak pernah bosan menyuruh anaknya untuk sholat shubuh. Setelah bangun, ya saya ambil wudhu lalu sholat. Yang berbeda pagi ini adalah abak saya membawa tamu 3 orang yang salah satunya adalah Haji Ramli yang baru pulang dari Makkah. Abak saya dan temen-temannya sepulang dari sholat shubuh di masjid langsung bertamu ke rumah saya. Mereka mengobrol sambil menonton siaran dakwah di televisi. Mendengarkan ceramah dari televisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Setelah saya sholat shubuh, abak saya memanggil saya keluar sebentar dan disuruh untuk mengambil rokoknya Haji Ramli dirumahnya, katanya rokoknya Haji Ramli susah dicari di warung-warung desa saya jadi disuruh menjemput kerumah. Rumah Haji Ramli lumayan dekat dari rumah saya. Sekitar 500 meter saya berjalan menuju kerumah Haji Ramli. Setelah sampai, saya mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Kemudian menceritakan maksud kedatangan saya yang ingin menjemput rokok. Adik Haji Ramli yang membuka-kan pintu pagi-pagi. ia kemudian memberikan sebungkus rokok Magnum Filter, pemantik api dan ponselnya pak haji. 

Saya berkata dalam hati: “wah, keren juga nih pak haji, rokoknya magnum filter, sekalian aja ngemut es krim batang magnum coklat dari belgia”

ilustrasi
Saya kemudian berjalan pulang mengantarkan rokok pak Haji Ramli yang tengah mengobrol dirumah. Sebenarnya hati kecil saya masih heran mengapa seoarang haji masih merokok. Ah, mungkin sudah kecanduan berat jadi susah berhentinya. Toh menteri baru kabinet kerja Jokowi juga ada yang merokok. Setelah sampai dirumah, saya memberikan rokoknya kepada Haji Ramli dan saya langsung masuk ke kamar lalu menulis cerita singkat saya pagi ini.