Wednesday, January 1, 2014

Wara, Lofitra dan Akhlaknya

Manusia tidaklah sama antara satu dengan yang lain, banyak perbedaan yang membedakannya. Seperti jelek dan cantik, jerawatan dan mulus tanpa noda, jomblo dan tidak jomblo (termasuk LDR), terlepas dari perbedaan fisik yang membedakan terdapat satu hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan. Adalah yang disebut akhlak. Orang-orang mendefinisikan akhlak sebagai tingkah laku atau perbuatan atau perangai atau sopan santun kita terhadap orang lain. Itu adalah definisi yang terlalu mainstream dan sebagian orang pun sudah tahu. Definisi sederhana dari akhlak adalah Respon Spontan dari apa yang dirasakan dan diberikan. Lho, ko reaksi spontan? *Wah TS ngarang nih* Karna reaksi spontanlah yang menunjukkan seberapa bagus akhlak seseorang. Misalnya orang latah, ia akan berkata kotor jika akhlaknya kurang bagus *eh kampret, *eh mak lampir-mak lampir *eh gukguknya mati *waduh! Mati dah gua..  dan sebagainya. sebaliknya ia akan berkata  yang baik-baik jika akhlaknya bagus *astagfirullah *ya ampun, ko bisa begitu *udahlah biarin aja *bukan rezeki berarti.. dan sebagainya.
Saya kasih contoh lagi, *1 Seorang siswa kelas dua belas yang baru tahu kalau dirinya lulus akan bereaksi sesuai akhlaknya. ia akan pergi ambil motor lalu konvoi dijalanan bersama teman-temannya, lalu ia akan membubuhi tanda tangan di baju teman-temannya dan menyemprotkan cat pada rambutnya. *2  Siswa yang baru tahu kalau dirinya lulus, akan langsung ambil wudhu dan sujud syukur lalu menangis didepan orangtua dan guru-gurunya sambil mengucapkan terima kasih.
Dari kedua contoh diatas, kita bisa menilai akhlak siswa mana yang bagus dan mana yang kurang bagus. Yang lumayan susah adalah menilai SPG/SPB yang menawarkan suatu produk. Tentunya ia akan bersikap baik pada calon pembeli.
*produk ini bisa menghilangkan jomblo anda yang sudah akut lho mas | ah masa? | iya mas, saya ga bohong ko’ | ok, saya coba dulu | ..... | wah iya bener, kamu jujur ternyata..
Contoh diatas bukanlah yang disebut akhlak, mengapa? *yaelah! Kayak acara Dora The Explorer* karena sikap yang seperti itu sudah di setting sedemikian rupa demi satu tujuan.  Telah diajarkan untuk berkata baik pada saat tertentu. Sudah tidak sesuai dengan definisi akhlak yang merupakan spontanitas dan bukan settingan. Bagaimana cara agar kita tahu apakah akhlak seseorang itu bagus atau tidak? Ya! Sederhana saja, Berikan kejutan atau sembunyikan barang berharganya. Maka yang akan ia lakukan sesuai dengan akhlak yang ada didalam dirinya.

Saya kasih contoh satu lagi: Tersebutlah seorang pemuda bernama Udin *jangan udin! Sudah terlalu mainstream*  yaudah ganti jadi Wara. Tersebutlah seorang pemuda bernama Wara yang telah lama mengidap penyakit jomblo akut dan susah disembuhkan. Setiap ia pergi kuliah,  dengan mengendarai motor kesayangannya ia selalu memeriksa mental dan kesiapan si motor. Namun suatu hari ia mendapatkan kejadian tak terduga. Tiba-tiba ban motor bagian belakangnya pecah dan harus diganti. Uniknya, ketika ban motornya pecah, ia sama sekali tidak panik dan malah tersenyum sambil berkata :
wah! Ini berarti ada rezekinya tukang bengkel di dompet saya nih.. saya harus cepat-cepat kasih sama itu tukang bengkel..
Begitulah si Wara yang akhlaknya sangat santun dan terkenal bijaksana. Meskipun ia jomblo, tapi akhlaknya terkenal paling bagus diantara teman-temannya. Namun, kisah si Wara jauh berbeda dengan tetangganya yang bernama Lofitra, Lofitra juga seorang mahasiswa dikampus yang sama dengan Wara namun Lofitra bukanlah jomblo akut seperti Wara. Ketika Lofitra mendapatkan hal yang sama seperti yang dialami Wara, yaitu ban motornya yang pecah. Ketika ban motor si Lofitra pecah, ia kemudian berkata dengan suara keras:
mampus dah gua... kiamat nih kiamat.. mana udah telat lagi.. haduh!! Dasar motor tua butut... ga tau orang lagi telat apa!!.
Demikianlah  si Lofitra dengan akhlaknya yang kurang bagus dibandingkan tetangganya Wara.

Cerita “Wara, Lofitra dan Akhlaknya” hanyalah fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan tempat itu merupakan sebuah konspirasi.