Thursday, January 2, 2014

Peninggalan Belanda yang Tetap Lestari

Mari kita mulai postingan ini dengan membaca niat:
Sengaja saya membuat dan membaca postingan ini menghadap kiblat karena sebuah niat yang tulus dari hati nurani. Amin!”

Masyarakat Indonesia tentu tau berapa lama Belanda menjajah Indonesia. 350 tahun lamanya masyarakat Indonesia dan juga sudah tau bahkan paham bagaimana watak para penjajah Belanda. Bagaimana cara mereka menjajah dan bagaimana cara mereka mengambil hasil bumi Indonesia yang sangat melimpah ini. Tapi yang patut kita beri cendol adalah bagaimana para pahlawan-pahlawan indonesia melawan para penjajah dengan persenjataan yang masih bergantung pada alam yaitu bambu runcing. Jika kita pakai logika kita, maka mustahil rasanya bisa merasakan bebas dari penjajah. Saya tidak bisa membayangkan jika saja masih ada kegiatan penjajahan, setiap malam akan terdengar ledakan yang seperti malam tahun baru kemarin. Bahkan tidak ada jaringan internet seperti yang kita rasakan saat ini. Namun dibalik hebatnya pahlawan kita indonesia. Penjajah belanda pun tidak lupa meninggalkan jejak terbaiknya untuk kita rakyat indonesia. Diantaranya ada kebun teh terbesar dan terbaik di dunia. Ada monumen-monumen, ada benteng-benteng dan masih banyak lagi.

Tentunya tidak saja berupa peninggalan fisik yang Belanda tinggalkan, mereka juga mengajarkan kita bagaimana cara bekerja, berpolitik, dan berpendidikan. Khusus di postingan ini saya akan membahas peninggalan Belanda di bidang Pendidikan. Akhir 2013 lalu kita mendengar berita yang mencoreng dunia pendidikan dan cukup membuat yang mendengar berita ini merasa geram atas tindakan senior terhadap junior yang baru masuk dunia kampus. Mereka menamakan kegiatan itu sebagai Ospek atau pengenalan atau adaptasi dengan kampus bersangkutan. Tentunya kegiatan ini harus mendapatkan izin dari pihak kampus lebih dulu. Ospeknya memang tidak saya permasalahkan, adalah cara dan prosesnya yang mirip persis sama seperti zaman belanda dulu. Efeknya ya ada yang sampai meninggal dalam proses pengenalan tersebut. ini berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh kampus-kampus negeri tetangga. Mereka tidak mempermalukan juniornya dengan ember dikepala dan memakai kaus kaki panjang sebelah sambil membawa buah-buahan yang dikalungkan. Mereka memberikan workshop, pengenalan kampus dalam bentuk persentasi dengan menunjukkan prestasi kampus yang sudah dicapai oleh senior terdahulu. Jika Indonesia terus memakai sistem Ospek seperti ini yang tidak saja diterapkan di kampus-kampus bahkan di tingkat SLTP pun sudah ada yang namanya istilah senior balas dendam dengan mempermalukan junior. toh masih banyak cara lain yang lebih efektif untuk berkenalan dan beradaptasi menyesuaikan dengan lingkungan kampus. Sistem belanda memang susah dimusnahkan, tapi saya percaya kalau Kementerian Pendidikan kita mau serius menangani atau setidaknya membenahi sistem Ospek atau perekrutan anggota baru maka akan majulah dunia pendidikan Indonesia. Jika tidak, setiap junior yang baru masuk akan diancam dan ditakuti dan efeknya bisa kita tebak.

Meskipun sudah banyak senior yang diberi hukuman atas tindakan balas dendam kepada juniornya. Sistem ini masih terus berjalan sampai sekarang. karena ketika adegan penganiayaan dan pemukulan setiap orang tidak diberi izin membawa ponsel berkamera termasuk senior itu sendiri. Mereka melakukannya didalam ruangan ketika pimpinan kampus sudah sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Memang, balas dendam adalah sifat dasar manusia. Tapi yang perlu dilihat adalah balas dendamnya dengan cara apa dan kepada siapa?? Jangan karena merasa sudah lama di suatu kampus malah berlagak-lagak dengan mengandalkan otot. Kalau mau balas dendam, tentulah dengan cara yang lebih cerdas dan pakai otak serta objek balas dendam bukan anak orang yang belum tau salahnya apa. Lah! Ko saya jadi emosi gini ya?? Ah sudahlah, yang terpenting semua yang ada dalam pikiran saya tercurahkan didalam blog ini. Karena memang blog ini dibuat untuk mengungkapkan sesuatu yang perlu diungkapkan.. terakhir saya harapkan, Semoga peninggalan belanda yang semacam ini cepat-cepat musnah dari negeri Ibu Pertiwi ini agar para penuntut ilmu aman dan nyaman dalam belajar dan bebas tekanan.


UUD 1945
Pendidikan dan Kebudayaan
Pasal 31 ayat 5
 
Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.