Sunday, January 5, 2014

Jika Saya Ditanya...

Akhir-akhir ini banyak orang yang mulai kritis terhadap negaranya, pacarnya, mantannya,nasibnya, bahkan sampai kritis terhadap tayangan yang ada joget-jogetnya di televisi. Ada yang paling kritis diantara kita semua yaitu seorang pengacara muda yang ingin jadi presiden dan telah disumpah pocong. Pengacara ini disebut-sebut sebagai orang paling kritis terhadap satu hal yang mulai tenar di masyarakat. tapi sayangnya, predikat paling kritis itu tidak dibarengi dengan tindakan nyatanya. Dia bahkan dianggap sebagai pengacara paling bego yang pernah ada yang masih sibuk mengurusi urusan orang lain yang tidak terlalu penting ketimbang urusan yang lebih penting seperti urusan negara misalnya. Dia masih belum mau #turuntangan terhadap sesuatu yang kecil dan sederhana seperti minta maaf misalnya.

Kita boleh saja kritis terhadap suatu hal yang kurang penting, tapi satu yang perlu diingat adalah tidak perlu berakhir sampai ke ring tinju apalagi lawannya anak-anak. Semua orang memang berhak kritis dan menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan, karena itu juga telah diatur dalam Undang-undang. Namun dalam prosesnya haruslah sesuai dengan norma yang berlaku dan tidak terlalu objektif.

Dari tadi saya berbicara tentang pengacara bego itu, secara tidak sadar saya juga telah mengkritisi sesuatu yang lumayan penting tapi tidak terlalu penting. Selain sikap kritis saya di blog ini, saya juga pernah mengritisi langsung kepada pejabat-pejabat di negeri ini. Walaupun hanya melalui twitter dan google plus, ketika saya memberi kalimat kritis itu saya merasa teramat puas karena isi hati saya akhirnya bisa tersalurkan dan dibaca walaupun sama adminnya. Namun sikap kritis saya itu sudah saya buang jauh-jauh. Tidak semua saya buang, hanya yang jelek-jeleknya saja. Saya sadar ketika saya mengrikisi orang, tapi diri saya sendiri belum menjadi warga negara yang baik. Waktu itu saya pernah mengirimkan kalimat kritis kepada polisi di forum kaskus. Disebuah thread yang membahas tentang polisi yang gemar menerima sogokan. Selesai membaca thread itu, saya lalu pergi kepasar membeli sesuatu dengan memakai motor dan tentunya helm. Karena saya tau aspal itu keras dan saya masih sayang sama ilmu-ilmu yang ada di otak saya. Tapi karena terburu-buru, saya memutuskan untuk menerobos lampu lalu lintas yang akan berubah menjadi hijau kira-kira 20 detik lagi. Saya tidak sendiri, dengan ditemani pengendara lain yang juga buru-buru saya akhirnya menerobos dengan gagah berani seperti panglima perang yang siap tempur. Namun setelah beberapa meter, saya akhirya tertawa dalam hati tentang tingkah laku saya yang barusan tidak mencerminkan sebagai warga negara yang baik. Sebelumnya saya menyebutkan nama penghuni kebun binatang di sebuah forum dunia maya yang membahas tentang polisi. Tapi di dunia nyata saya sendiri malah melanggar peraturan yang polisi sebagai petugasnya. Dari sinilah saya mulai berhenti untuk kritis sementara kita sendiri belum dijalan yang benar. Mario teguh pernah bilang langsung ke saya melalui tayangan Golden Ways tentang bagaimana membuat diri kita pantas untuk kritis tapi diri kita dulu yang harus diperbaiki. Karena masih banyak orang yang hanya tau mengkritisi tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Sekarang, saya mulai mengubah sikap saya yang suka kritis dengan sikap yang sederhana namun jelas manfaatnya. Jika saya ditanya apa yang sudah saya lakukan untuk negara ini, saya akan menjawab tidak ada. Karena yang saya lakukan akhir-akhir ini bukanlah tindakan besar untuk mengubah negara, saya hanya melakukan hal-hal kecil yang sederhana seperti taat lalu lintas, membuang sampah pada tempatnya, tidak mabuk-mabukan, tidak merokok, tidak memberi dan menerima sogokan, toleransi dalam beragama dan hal-hal kecil lainnya. Jika semua orang Indonesia melakukan hal kecil ini, secara tidak sengaja kita telah membantu negara ini untuk bergerak maju dari keterpurukan, atau setidaknya kita bisa membantu meringankan petugas kebersihan, membantu KPK dalam memberantas korupsi, membantu agar udara bersih dari asap rokok, membantu agar tidak terciptanya tawuran antar etnis dan agama. karena banyak orang yang tidak bisa melakukan hal yang besar maka lakukanlah sesuatu yang kecil saja namun berdampak besar.