Saturday, January 18, 2014

Inilah Bagaimana Wara Lofitra Melihat Banjir

Awal tahun ini dibuka dengan suasana romantis dan dramatis seperti di film-film. entah ini anugrah atau bencana atau sekedar peringatan untuk manusia agar bersahabat dengan alam sekitarnya. Tidak hanya diibukota Indonesia namun juga hampir merata diseluruh Indonesia harus menghadapai cuaca yang bisa dibilang ekstrem. Namanya juga hujan, ya pastilah air yang turun mengguyur Ibu pertiwi ini, namun ditengah guyuran air itu terdapat banyak anak manusia yang tidak siap menghadapi banjir. Manusia tentunya sudah tahu dan paham bahwa air akan mengalir pada tempat yang rendah karena air tidak suka ketinggian. Nah! Dalam perjalanan air menuju tempat yang lebih rendah tentunya air akan melalui tempat yang dihuni manusia terlebih dahulu sebelum sampai ke lautan. Namun sayang, dalam perjalanan air turun tidaklah semulus yang dibayangkan. Air seharusnya tidak ketemu sampah dalam perjalanannya, ia juga tidak boleh terhambat perjalannya Karena jika terhambat itulah yang disebut banjir. Ia harus lewat di jalur yang kita sebut gorong-gorong. Tidak semua air akan sampai di laut lepas, sebagian harus tinggal dan singgah di ruang terbuka hijau dan memberi makan pohon-pohon. Karena kurangnya daerah resapan air maka air akan singgah diatas lantai semen dan aspal yang tentunya tidak bisa ia tembus dengan mudah.

Air adalah salah satu sumber kehidupan utama manusia, jika ia datang secara tiba-tiba dan manusia tanpa persiapan yang matang maka ini bisa kita sebut bencana atau sekedar peringatan untuk manusia agar hidup tidak sekehendak hatinya saja. Ketika banjir datang, malah banyak yang menyalahkan pemerintah yang tidak membenahi infrastruktur yang memadai agar air lewat dengan damai. Namun menurut hemat saya, itu semua tidak akan berguna jika manusianya yang masih membuang sampah disungai-sungai. Masih tidak peduli dengan sungai yang sebenarnya hidup bersebelahan dengan manusia.

Namun apa dikata, banjir sudah datang dan masih mengancam. Seolah sungai adalah satu pihak yang didustai oleh manusia karena tidak menjaganya baik-baik. Sungai memang bukan manusia, tapi ia juga butuh perhatian, jangan hanya bisa nyampah disungai (Lebih baik nyampah di twitter seperti Farhat Abbas). Sungai itu tidak butuh rayuan gombal, ia hanya butuh perhatian yang lebih, itu saja. Saya punya sedikit tips menangani banjir, yang melanda ibukota dan baru-baru ini juga di SulSel. Tipsnya sederhana saja, yaitu mirip seperti anak muda yang tengah jatuh cinta. Yang terpenting adalah pengertian antara satu sama lain, jangan khianati dengan merusaknya. Jangan alihkan fungsi utamanya sebagai daerah resapan. Karena lingkungan akan cemburu jika lahannya dijadikan kantor-kantor dan pusat perbelanjaan. Dan apabila sudah terjadi, jangan sampai menyalahkan pihak lain. Salahkan diri masing-masing. Jika ada korban ya dibantu. Intinya, mari kita anggap ini sebagai peringatan kepada kita agar kita lebih perhatian lagi kepada alam sekitar.