Kamis, 12 Desember 2013

Kang Parkir

Kemarin siang, saya menuju ke sebuah ruko di pasar sekitar daerah saya. Setelah kesana-kemari mencari alamat *jreng-jreng-jreng* ternyata ruko yang saya cari ada didepan sebuah Anjungan Tunai Mandiri. Tujuannya untuk kebaikan notebook saya yang setelah beberapa minggu tiba-tiba hilang driver controler untuk USBnya. Sebenarnya bukan tiba-tiba hilang sih, memang sayanya yang tidak sengaja men-disable dan meng-uninstall driver tersebut. Tapi engga apa-apalah toh notebook saya juga belum pernah diinstall ulang sejak pertama beli dan itung-itung ritual bersih diri.

Engga lama sih, cuma nganter bentar di toko elektronik itu abis itu saya pulang. “mbak, tolong install-in ya?” abis itu saya balik ke motor di depan toko itu. Eh ga taunya udah ada label nomerya di stang motor sebelah kanan. Pokonya udah kaya hewan kurban yang ada nomernya yang lagi nunggu antrian untuk dieksekusi. Kemudian sesosok anak muda berparas sangar menuju ke saya dan minta Rp.2000 sebagai bayaran atas parkir sekejap mata tadi. Sepertinya anak berparas sangar itu tidak sekolah, soalnya saya datang sekitar jam belajar para siswa masih aktif. Tanpa lama-lama disana saya pun mengeluarkan Rp.2000 dan pergi :ngacir dari tempat itu. Siap-siap mau :ngacir terlihat seorang cewek cantik yang ditagih oleh kang parkir yang minta bayaran. Si cewek ini bermuka masam, sambil bilang “bentar doang ko mas, masa pake parkir juga”. Kang parkir tidak membantah dan membalas dengan tersenyum mengancam bagaikan di film-film mafia. Entah karena takut atau kasian, si cewek ini akhirnya merogoh koceknya yang sudah tersimpan jauh di saku celana ketatnya.

Besoknya saya balik lagi ke tempat install notebook yang kemarin, kali ini saya memang parkir. Sekitar lima belas menit saya di dalam toko elektronik itu. Sambil memeriksa apakah sudah benar dan sudah baik lagi notebook saya. Saya periksa drivernya dan saya cek file-filenya apakah masih ada. Karena tidak mau balik-balik lagi, maka saya langsung tes disana. Berselang lima belas menit baterai notebook pun mulai abis. Saya membayar atas upah install-an tadi dan berniat langsung pulang. Sesampainya di motor, kang parkir yang sangar sudah menunggu sambil melihat keadaan sekitar. Pas saya periksa dompet dan kantong. Tidak saya temui uang dua ribu rupiah. Yang ada uang pecahan seribu, lima ribu, dan lima puluh ribu rupiah. Tanpa pikir panjang saya tarik keluar uang seribu dan memberikannya kepada kang parkir. Karena tidak terima, kang parkir tersenyum mengancam sambil bilang: “masa seribu ? tarif parkir disini dua ribu men! :) ”. Kemudian saya tarik uang seribu dari kang parkir menggantinya dengan pecahan lima ribu rupiah. Kang parkir langsung lari meninggalkan saya begitu saja tanpa ingat lagi bahwa masih ada hak saya disana senilai tiga ribu rupiah. Kini saya harus tersenyum ke kang parkir di seberang jalan dan bergumam: “ ini maunya apa sih? Dikasih kurang engga terima. Dikasih lebih engga dibalik-in”. Begitulah keadaan tukang parkir daerah saya. Senjatanya senyuman ala-ala mafia. Tapi saya maklum dengan tingkah mereka.