Jumat, 15 November 2013

Komplotan Amin

Baru pulang jum’at-an terus buka notebook dan buka dasbor blog ini kemudian bingung mau nulis apa. Eh tau-taunya kepikran tentang kejadian yang saya alami setiap hari jum’at. Saya yakin setiap orang di Indonesia pasti pernah mengalami ini, tapi kelihatannya ini sepele jadi tidak terlalu disorot. Sesuai judul postingan ini, Komplotan Amin. Saya menyebutnya komplotan karena tidak hanya satu orang yang melakukannya. Banyak orang dan banyak massa. Iya. Anak-anak kecil yang masih antusiasnya mengikuti sholat jum’at di masjid kampung saya, Tebat Ijuk. Setiap hari jum’at masjid kampung saya selalu ramai oleh anak-anak kecil yang sebenarnya tidak niat sholat. Mereka cuma ingin bermain-main atau sekedar ikut-ikutan teman.
Dan yang paling keren dari semua yang saya lihat setiap hari jum’at adalah Warnet dan Rental Play-Station mendadak sepi. Karena mereka semua segera beralih ke masjid. Untuk bermain tentunya.

Yah,, namanya juga anak kecil. Semua yang orang dewasa anggap serius, menjadi sarana bermain asyik dimata anak-anak. Ditengah khatib yang sedang menggebu-gebu berkhotbah. Anak-anak sama sekali tidak peduli. 

Mereka terus saja bermain kejar-kejaran dengan komplotannya. Tak jarang ada yang menangis dan langsung membuat orang-orang dewasa menoleh kebelakang. Dan yang terjadi bukannya langsung diam, malah tambah nangis. Bagaimana tidak, ia jatuh didorong temannya lalu menangis, dan dilihat banyak orang tentulah akan bertambah nangis karena merasa aneh dan merasa asing. Ada juga sebagian orang dewasa yang menegur dengan berkata-kata sambil menunjukkan matanya yang melotot. Pokonya seram dan bikin si anak mau nangis.

Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah gangguan yang membuat tidak khusu’ dalam melaksanakan sholat. Tapi dimata saya, ini semua proses. Toh semua orang pernah begitu. Kecuali anak perempuan. Dan saya menganggap mereka anak-anak yang masih normal. Masa kecilnya dipakai untuk bermain (belajar juga tentunya). Daripada orang-orang dewasa yang masih rela menghabiskan waktunya hanya untuk bermain video game. Maksud saya adalah lebih baik kita memanfaatkan masa kecil untuk bermain daripada kita harus dipermainkan ketika dewasa. Paham nggak? Coba baca ulang lagi kalimatnya!

Jadi ya,, ada sensasi nostalgia tersendiri saat melihat anak-anak dengan riangnya bermain di masjid. Saya jadi teringat masa lalu saya yang dulunya juga suka bermain dan berlari ketika khatib berkhotbah. Dan ketika khotbah selesai, semuanya mulai berdiri, anak-anak akan berhenti bermain. Semuanya sholat jum’at dengan anak-anak di shaf paling belakang. Dan yang paling khas adalah ketika surat Al-Fatihah selesai dibacakan. Seketika akan terdengar suara anak-anak yang semangatnya luar biasa saat semua bilang: Amiiiinn!! Bahkan ada yang sampe teriak-teriak dengan suara anak-anaknya yang masih cempreng. Yah! Itulah yang namanya anak-anak. Mereka tidak mengenal yang namanya kesepian dan galau. Yang mereka tau hanya bermain. Itulah Komplotan Amin.