Rabu, 13 Juni 2018


Lusa sudah IdulFitri, pas pada hari Jum'at tanggal 15 Juni 2018. Dan tentu saja keluarga jauh keluarga dekat sudah banyak yang ngumpul di kampung halaman.

Seperti kebiasaan di lebaran-lebaran yang telah sudah, selalu muncul broadcast permintaan maaf menjelang IdulFitri.

Namanya juga momen IdulFitri, momen dimana kembali suci. Setelah sebulan puasa dan sebulan itu juga silaturahmi dengan orang sekitar terjalin. Dan di IdulFitri adalah momen yang pas pula untuk berkunjung kerumah keluarga beserta sanak saudara. Yang tidak bisa di kunjungi karena jarak dan kesempatan bisa langsung via room chat.

Teman-teman yang mudiknya tidak se arah dengan kita, mungkin sebagai pelepas rindu bisa melalui japri Whatsapp atau media lainnya.

Banyak ragam orang minta maaf, ada yang menggunakan link yang bila di klik akan muncul nama si pengirim. Ada yang masih menggunakan kartu ucapan. Bahkan mungkin masih ada yang menggunakan banyak kata yang over-puitis.

Apalagi di grup Whatsapp, banyak sekali broadcast yang mungkin sudah bosan kita terima. Notifikasi sampai menumpuk karena permintaan maaf yang nauzubillah gak ada bedanya.

Memperhatikan grup WhatsApp dan teman-teman yang mem-forward kata-kata maaf itu, saya jadi bertanya-tanya apakah ini permintaan maaf yang serius? Iyasih lebaran itu maaf-maafan, tapi masa gak ada variasi kata-kata lain sih. Sama semua.

Okelah, kita harus menyisakan ruang di otak untuk berprasangka baik. Karena tidak semua orang bisa merangkai kata maaf dengan baik. Yang tanpa buat mikir ya tinggal copy paste saja.

Tapi apakah permintaan maaf itu ikhlas dari lubuk hati ? lah kata-kata maafnya saja copy paste, lantas apa yang mau dimaafkan?

Ah si Wara ini bisanya cuma protes aja. Padahal copy paste juga kan?

Enggak. Sorry yaa saya menghindari betul yang seperti itu. Apalagi yang sumbernya dari grup sebelah.

Saya lebih memilih diam daripada ikut-ikutan copy paste. Dan yang terpenting menurut saya di setiap IdulFitri adalah memaafkan, bukan minta maaf.

Saya mau ambil peran sebagai pemberi maaf. Namanya maaf-maafan tentulah ada minta maaf dan memaafkan. Tapi urgensi nya tentu beda. Dalam Alquran sendiri lebih tinggi derajat yang memaafkn daripada yang minta maaf.

Minta maaf itu gampang, tinggal copy paste juga bisa. Tapi memaafkan itu sulit. Harus ada kerelaan yang benar-benar sungguh dari dalam hati.

Seperti memaafkan mantan, yang dulu pernah berbuat yang tidak kita suka, sulit kan?

Apalagi setiap saat masih sering di hantui mantan, liat apa-apa dikit terkenang mantan.

Makanya penting bagi saya untuk tidak ikut-ikutan minta maaf. Minta maaf sudah tidak spesial, yang spesial adalah memaafkan. Soalnya berat.

Dan untuk kamu yang baca tulisan ini, saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu minta maaf. Selamat IdulFitri. Semoga setelah lebaran kuat datang ke resepsi teman.

Selasa, 12 Juni 2018


Kejadian real-nya bukan di hari Sabtu, tapi hari senin kemarin. Supaya terdengar ala-ala Film gitu.

Ba'da Dzuhur dari masjid, Abak (Ayah versi uhang Kincai) tiba-tiba ngajak belanja kebutuhan lebaran seperti orang-orang. Pusat ekonomi Kabupaten Kerinci masih berada di Sungai Penuh. Kami berangkat pakai motor menuju ke Sungai Penuh di bawah hari Senin yang sedang terik-teriknya.

Namanya juga mau lebaran, teori permintaan dalam ilmu ekonomi yang bilang bahwa makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang (begitupun sebaliknya). Teori tersebut tidak berlaku pada saat mau lebaran seperti sekarang, karna mau harga mahal sekalipun, permintaan terhadap barang juga tetap tinggi. Ya, namanya juga orang mau lebaran, gak tau butuh atau enggak, pasti dibeli.

Jadi, balik ke cerita saya dan abak. Sungai Penuh lagi padat-padatnya. Orang yang merantau sudah pada pulang meramaikan kampung tercinta. Parkir aja dempet-dempetan dulu. Kasian tukang Parkirnya sampe gak puasa.

Setelah naruh motor di parkiran, kami berjalan menyusuri (elah menyusuri) pasar yang nauzubillah lebih padat dari tempat parkir. Mulai saya bertanya ke abak.
"nduk mli apu bak?" (mau beli apa, Abak?)
"naluk baju rayo duluh moh, ado mpong mwu kipe? (cari baju lebaran dulu, bawa uang gak?)
"ado, moh daluk mano ngak sasue" (ada, yuk cari yang mana mau)
Lumayan lama mutar sekitar toko baju, Abak maunya baju koko yang model wakanda, tapi warna putih dan baju kemeja batik. Ketika saya tanya apalagi selain itu yang mau dibeli, abak bilang cuma itu aja, sama nambah mau beli kopiah untuk di pake sholat.

Urusan tawar menawar Abak gak paham, berapa kata penjual segitu dibeli. Padahal rata-rata penjual ngasih harga diatas batas wajar semua. Untunglah anaknya ini pernah meneladani betapa teganya Emak nawar barang. Belajar dari Emak, saya jadi berusaha menawar barang sesadis mungkin, hehe.

Apalagi pas beli kopiah, masa penjual nya bilang harga kopiah nya 150, kopiah apaan segitu. Saya tawar 50 ribu tetap aja dia gak mau, padahal saya tau dari teman yang punya toko di area situ ngasih tau kalau harga kopiah model yang abak mau harganya 35 ribu.

Sampai dua kali saya tawar tetap juga gak mau, akhirnya kami lari dan pindah ke penjual kopiah lain. Dengan barang dan ukuran yang sama, di penjual yang baru kami temui ini dapatlah harga 35 ribu. Bener kan. Harus sadis kalau nawar.

Selesai belanja-belanja baju dan kopiah, saya kembali bertanya ke Abak, 

"nduk mli apu agih?" (mau beli apalagi?)
Abak bilang cukup itu aja, beliau emang gak banyak mau. cuma mau yang pokok-pokok nya aja. Abak orangnya sederhana sekali. Setiap buka puasa, sholat Maghrib nya di Masjid terus, menemani garim masjid berbuka. Selesai minum air dirumah, Abak langsung jalan ke Masjid yang jaraknya juga dekat.

Beda dengan anaknya, pas buka puasa langsung makan berat :( dan masih ngeluh berat badan naik.

Dah ah, jadi males bahas berat badan. Segitu aja cerita "Senin bersama Bapak" nya.

Babay.

Kamis, 31 Mei 2018


Zaman dulu orang arisan itu berfungsi selain sarana menabung juga jadi ajang silaturahmi antar anggota. Kadang tempatnya juga pindah-pindah sesuai kesepakatan dengan anggota arisan. Arisan tidak hanya identik dengan kaum ibu-ibu saja, sudah merambah ke anak-anak remaja, sampai tukang ojek.

Waktu saya SD dulu masih ingat betul tetangga saya yang tukang ojek sering mengadakan arisan perkumpulan ojek-ojek dirumahnya. Setelah masuk SMP karena seiring pertumbuhan motor, perkumpulan ojek juga makin lama makin habis.

Ojek di desa saya yang dulu hampir tiap hari ada, sekarang jasa ojek hanya tersedia satu kali dalam seminggu, hanya hari Sabtu.

Sekarang, di zaman yang sudah serba mutakhir ini saya rasa fungsi arisan makin lama makin terkikis. Orang tidak butuh lagi arisan sebagai ajang silaturahmi.

Saya punya teman yang sampai sekarang masih ikut arisan, mereka bersepuluh. Tapi tidak pernah kumpul dalam satu acara arisan mereka. Berawal dari grup chat di Facebook, mereka sepakat untuk membentuk grup arisan khusus geng mereka.

Bagaimana arisan tetap jalan tanpa perlu bertemu? ternyata mereka memanfaatkan fitur transfer uang via mobile banking. Jadi, arisannya tetap di dalam grup chat tersebut dan uangnya di transfer ke bendahara yang sudah ditentukan.

Agak aneh bagi saya melihat pola arisan seperti ini, sudah terlalu kurang ajar, sampai-sampai bertemu pun tidak ada waktu.

Alhasil arisan mereka tidak berjalan lancar, banyak yang menunggak pembayaran, banyak yang saling benci diantara mereka, di dalam grup sudah terlalu banyak emot senyum, tapi di chat pribadi beberapa orang sepakat emosi.

Saya melihat ini karena komunikasi mereka hanya lewat grup, mereka jarang bertemu. Padahal arisan beberapa tahun yang lalu selain fungsinya menabung juga sebagai ajang silaturahmi. 

Teman yang ikut arisan ini sudah saya rekomendasikan dia untuk keluar karna terbukti hanya memperbanyak musuh. Dan uang arisan mereka banyak yang dilahap sendiri oleh beberapa orang. Jatah menang nya mereka atur sendiri seenaknya.

Sudahlah hubungan antar mereka kacau, rugi pula.

Untuk ikut arisan zaman sekarang mending pilih-pilih orang dan jangan hanya lewat grup. Karna jarang silaturahmi membuat anggotanya emosi.

Sabtu, 26 Mei 2018



Tiga hari sebelum hari ini, kami sudah punya rencana ingin buka bersama, saya Bang Redo Ikhlas dan Pak Ngah. Rabu kemarin Bang Redo pulang dari Jakarta menghabiskan jatah cutinya sebagai karyawan salah satu Bank di Jakarta.

Berstatus sebagai pegawai bank tentu semua orang tau bahwa jatah cutinya sebentar saja. Bang Redo yang pulang Rabu, akan berangkat lagi ke Jakarta hari Senin.

Niat mengajak berbuka dengan Pak Ngah (Ayahnya Bang Redo) ke tempat yang belum pernah Pak Ngah kunjungi. Karena saya yang lama di Kerinci, jadi saya yang reservasi tempat bukbernya. Terpilih lah Korintji Heritage sebagai tempat untuk kami berbuka nanti, susah-susah gampang mencari tempat yang makanannya enak, ada takjilnya, dan desert nya juga enak.

Kebetulan sekali ada teman saya yang bekerja disana, tanpa pikir panjang saya hubungi dia untuk memesan tempat berbuka kami nanti.

Oke, tinggal menunggu hari H (padahal hari sabtu sih).

Sorenya ketika ba'da Ashar, kami siap berangkat namun cuaca Kerinci lagi mendung-mendungnya waktu itu. Pertanda mau turun hujannya tampak jelas sekali lewat awan hitam yang menggumpal di langit Kerinci.

Tak butuh skill indigo seperti host nya Karma ANTV, semua orang juga sudah tau bakal turun hujan. Dan benar sekali, ketika kami sudah siap-siap pergi, hujannya turun dari semula sedang, kemudian hujan deras.

Buka bersama di Korintji Heritage terancam batal karena hujan. Dan memang pada akhirnya batal sih.

Saya yang awalnya memesan tempat kemudian mengirimkan pesan singkat di Whatsapp bahwa kami batal pergi dengan alasan hujan lebat.

Karena makanannya sudah dibikin dan sudah siap semua. Mau tidak mau kami harus kesana atau kalau tidak jadi kesana tetap bayar full. Seharusnya, dari awal kalau memesan tempat ada uang mukanya, tapi kemaren saya tidak diminta untuk bayar karna masih dianggap teman.

Akhirnya, dengan keputusan sebijak mungkin. Kami tetap akan kesana setelah Maghrib dan setelah hujan reda.

Buka puasa dulu dirumah dengan apa yang ada, baru nanti setelah hujan reda makannya di sana.

Sialnya, saya tidak mengikuti instruksi hanya minum air. Emak saya bikin gulai ikan yang kuah santannya nauzubillah kesukaan saya sekali. Yang awalnya icip-icip, jadi makan banyak.

Yaa itulah saya apa adanya, mencoba jujur dengan lidah sendiri. Walau sebenarnya tidak seharusnya seperti itu.

Hujan sudah reda, dan teman saya yang kerja disana sudah terlihat panik karena saya kemungkinan tidak datang kesana.


Hujannya reda sekitar adzan Isya, langsung cuss kesana sambil khawatir makanannya sudah dingin untuk disantap. Ternyata kekhawatiran itu cuma sebatas khawatir, tidak nyata.

Sampai disana kami ibarat berbuka kedua di hari yang sama. Dibawakan takjil yang harusnya disantap di awal tadi.

Ya, memang kita manusia tempatnya tidak tau, sebaik apapun rencananya tetap ada saja potensi gagal. Agak susah membuat rencana kita sinkron dengan rencana Tuhan. Rencana semacam bukber saja bisa hampir batal begini apalagi yang lain.

Sekian semoga ada hikmahnya dibalik cerita ini.

Senin, 26 Maret 2018


Illustrasi: Youtube

Ketika aku lahir ke dunia ini, aku tidak membawa cenderamata sebagai ucapan terimakasih untuk kedua orangtuaku. Hanya tangisan yang merepotkan dan tentu saja bikin susah tidur. Apalagi ketika aku lahir dulu lagi masa-masa sulitnya di Kerinci, yang baru kena gempa paling parah hingga saat ini.

Beranjak SD, tentu tambah merepotkan lagi. Uang jajan yang harus orangtuaku kasih agar seragam dengan uang jajan anak-anak lain. Aku tau keadaan saat itu kami masih serba kekurangan.

Karena rumah dekat dengan SD, hanya berjarak selemparan upil saja. Emakku berjualan di pagar SD dan aku juga bantu-bantu agar tidak terlalu repot. Karna jelas lah uang hasil jualannya juga pasti untuk kebutuhan aku kelak.

Berlanjut ke SMP, tahun-tahun ini lagi happening sekali dengan tren hape Symbian. Internet juga baru awal-awalnya masuk jangkauan kami waktu itu. Zaman ini termasuk paling susah menyesuaikan dengan teman-teman yang orangtuanya berada. Mereka sudah bawa motor ke sekolah, keluargaku belum punya motor waktu itu.

Selepas SMP, aku lanjut ke Madrasah Aliyah. karena sekolahnya agak jauh, dan aku belum bisa bawa motor dan belum punya juga, untuk mengatasi ini untunglah ada teman yang mau aku tumpangi.

Mulai beranjak kelas sebelas, alhamdulilah sudah ada motor dan notebook. Notebook Acer dengan RAM 2GB. Kedua fasilitas ini aku manfaatkan untuk melampiaskan segala yang ada dalam pikiran sejak aku melihat teman-teman yang sudah lebih dulu punya.

Banyak sekali yang aku eksplorasi dengan spek hanya 2GB itu, mulai mencoba menyusup ke jaringan Wi-Fi kampus yang ada di dekat madrasah dulu. Ini bisa aku banggakan disini karena saat itu jarang sekali ada yang bisa melakukan. Sekarang mungkin rata-rata anak sudah bisa melakukannya dengan mudah.

Sempat bolos pelajaran hanya karena keasikan main notebook di ruang yang bisa menjangkau Wi-Fi.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah di Kota Sungai Penuh, aku melanjutkan ke perguruan tinggi di samping nya yang dulunya sempat aku ambil Wi-Fi nya.

Tak ada niat mendaftarkan diri di kampus ini, karena gagal SNMPTN dan jujur aku tidak menyesali hal itu.

Di kampus yang sekarang lah aku mulai sadar, keluarga ku termasuk yang finansialnya terganggu. Jadi, aku mulai berpikir dan berniat untuk tidak menggangu lagi keuangan orangtua yang selama ini sudah sulit.

Alhamdulilah, orangtua hanya membayar uang SPP sampai semester 2 saja, selanjutnya aku sudah bisa bayar sendiri. Dan Alhamdulillah lagi, kebiasaan untuk tidak minta lagi sama orangtua bertahan sampai sekarang.

Keadaannya berbanding terbalik sekarang, hampir setiap hari saya yang kena 'palak' oleh emak. Bukan, bukan kesal kena palak. Lebih ke perasaan senang bisa melihat orangtua senang dengan 'malak' anaknya. Karena dulunya mereka puas kena 'palak' oleh saya dari lahir sampai umur 18 tahun. Ada rasa bangga bisa 'dipalak' oleh orangtua sendiri.

Ada rasa puas karena kebutuhan sehari-hari kita tidak perlu minta ke orangtua lagi.

Aku tau, ini belum setimpal. Aku tau ini tak akan lunas. Hanya saja aku merasa ada perasaan aneh di hati. Senang-senang kesal.

Rabu, 07 Maret 2018

Jadi gini, saya punya kesukaan yang agak aneh dan tidak biasa dibanding sama hobi orang lain. Jika orang kebanyakan minum jus Alpukat, saya malah suka makan Alpukatnya langsung, kalo oranglain suka minum jus tomat, saya malah suka makan tomatnya langsung.

Yaa nggak langsung dari tumbuhan tomatnya juga sih, langsung dari kulkas. Dicuci dulu pastinya sebelum di makan bulat-bulat.

Saya tidak tau apakah orang-orang selain saya juga suka makan tomat bulat-bulat, yang jelas sepengetahuan saya rasanya makan tomat bulat-bulat agak janggal di masyarakat kita, mungkin masih menjadi aib keluarga atau perilaku menyimpang selayaknya menenggak Alkohol.

Seringkali setiap hari sabtu yang merupakan hari balai/pasar mingguan di Semurup, Kerinci. Setiap emak belanja mingguan untuk kebutuhan dapur, selalu membeli tomat segar dari petani Kayu Aro.

Sampai di kulkas dirumah dan sudah diatur tata letaknya oleh emak saya di tatakan nomor 3 dari bawah.

Hampir setiap saya makan dirumah, tomat bukannya jadi satu sama sambal atau bumbu masak lain, tapi langsung saya makan bulat-bulat.

Beberapa kali saya kedapatan mengambil tomat dari kulkas sama emak saya, dan emak seperti menunjukkan ketidaksukaannya. Ya jelas, karna tujuan membeli tomat tiap sabtu adalah untuk pelengkap masakan, bukan untuk di lalap.

***

Saking seringnya mengambil tomat secara ilegal dirumah, setiap makan diluar seperti pecel lele, ayam penyet, pokok nya yang ada tomatnya sebagai pemanis tampilan selalu habis saya telan.

Ya saya tau makan tomat langsung itu rasanya agak aneh dan tentu saja tidak semanis makan apel atau buah-buahan lain. Awalnya juga begitu rasanya, tapi makin sering makan, jujur saya makin suka.

Nah, kemarin mungkin kutukan emak saya berlaku. Saya termakan tomat sama tulang-tulangnya sekalian.

Kejadian di sebuah cafe kecil di depan SPBU Kumun, Sungai Penuh. Tanggal 6 Maret kemarin seorang teman yang merelakan waktunya hanya untuk menemani saya makan sekalian merayakan umur saya yang resmi 23 tahun.

Kami memesan Iga Saus Padang, Ayam Saus Padang, dan Fu Yung Hai. Oh! tak lupa sama Es Krim Durian.

Awalnya tak ada yang aneh pas kami makan, Ayam habis, Fu Yung Hai juga habis, dan tentu saja Iga yang dagingnya luar biasa empuk.

Sementara kami makan, turun hujan seperti biasanya di Kota Dingin ini. Sore-sore memang sudah kewajiban nya untuk hujan.

Makanan habis, kami lanjut cerita-cerita ringan. Entah apa yang membuat saya tiba-tiba ditengah kami cerita, saya mengambil garpu dan menusukkannya ke tomat yang tersisa di dua piring yang berbeda. Piring pertama adalah tempat yang sebelumnya didiami oleh Ayam Saus Padang, dan piring kedua tentu saja Iga Saus Padang.

Saat menusuk tomat di piring kedua inilah tak sengaja tulang sisa Iga terbawa sama tomat menuju mulut saya. Dan Iga itu baru saja dilahap oleh teman saya ini.

Yak betul. Saya termakan tomat sama tulang-tulang Iga nya sekalian.

Karena saya biasanya bersikap cool dan dingin, mengunyah tomat dan sadar ada tulangnya pun gak panikan seperti kemarin pas main drone.

Pelan-pelan saya keluarkan tulang bekas teman saya ke selembar tisu diatas meja. Tetap dalam keadaan cool dan tidak panikan. Walaupun sedikit tersenyum malu.

Sungguh saya yakin ini kutukan karna emak saya selama ini merasa jengkel dengan kebiasaan makan tomat bulat-bulat.

Jumat, 09 Februari 2018

Setelah Dronenya di aktivasi dan aplikasinya juga sudah di update. Percobaan pertama menerbangkan drone saya lakukan di depan rumah yang disaksikan anak-anak yang heboh sekali saat melihat dronenya terbang.

Layaknya anak-anak, mereka akan berasumsi bahwa drone ini akan bisa sampai ke langit paling tinggi, membesar-besarkan cerita yang nyatanya drone ini hanya mampu terbang setinggi 50meter ke atas. Karena saya hanya memakai remote dari ponsel pintar, bukan remote control dji yang dibeli terpisah.

Hari itu sabtu, siang menjelang sore dan panasnya minta ampun. Dronenya terbang untk pertama kalinya di depan rumah. Saya masih belum begitu lancar mengarahkan drone dengan joystick virtual di Redmi 3 saya.

Memang butuh banyak latihan agar supaya lancar dan dronenya tidak habis baterai dengan percuma.

Selesai melihat-lihat dan mencoba menerbangkan drone sore itu, malamnya saya lanjut lagi nonton YouTube mencari lagi bagaimana tips dan trik merekam video dengan cinematic ala-ala YouTuber tenar. Bagaimana mengatur gimbalnya yang hanya 2 arah agar terlihat cinematic dan trik lainnya.

Besoknya, saya demam, panas dingin dan tulang punggung terasa pegal dan berat. Saya biasanya kalau sudah demam begini, pasti diakibatkan karena tidur telat dan pola makan tidak teratur. Memang betul, setelah di cek ke dokter, penyebabnya itu-itu juga.

Disuntiklah bokong saya sebelah kanan, dan disuruh minum obat, ada yang 3 kali sehari, dan 2 kali sehari. Setelah dzuhur saya masih kurang enak badan sebenernya.

Dasar diri ini memang kebanyakan nonton YouTube, setelah Ashar saya paksakan main drone lagi. Mencoba trik-trik baru yang saya pelajari dari nonton YouTube semalam. Saya keluar rumah dan tentunya dikerumuni anak-anak lagi.

Sore ba'da Ashar itu saya puaskan diri terbang di sekitar rumah. Mencoba tebang dengan ketinggian maksimal dan jarak paling jauh. Alhasil, feed Instagram saya sekarang penuh gambar yang di ambil dari drone. Silahkan lihat di instagram.com/waralofitra.

Salah satu kekurangan yang terasa paling kurang  dari seri DJI Spark bagi saya adalah kapasitas baterai yang dibawanya terlalu sedikit, hanya 1480mAh. Sehingga berdampak pada durasi terbangnya yang hanya 15 menit maksimal.

Untunglah ada baterai backup, yaa walaupun sebenarnya masih sedikit. Walaupun sedikit, nyatanya saya harus bersyukur sudah bisa terbang.

Untuk kamera dan kualitas perekamannya, saya merasa puas dengan diberikan kualitas di Full HD. Jujur saja saya belum butuh kualitas 4K, laptop saya belum mampu diberikan beban lebih berat lagi, Full HD saja sudah berat, rendernya lama tapi bersih.

Toh di YouTube juga biasanya saya nonton dari ponsel paling mentok kualitasnya 1280x720 pixel. Jadi, sudah cukuplah. Intinya kalau kita bersyukur maka akan cukup, kalau tidak yaa pasti kurang terus. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Udah yaa saya mau lanjut lagi main drone.

Rabu, 07 Februari 2018

Saya sedang duduk di depan laptop seperti biasa di siang hari di tanggal 5 Februari yang panas tapi gak kepanasan karena dirumah teduh, ada atapnya.

Tiba-tiba teman saya yang terakhir di ketahui berada di Batam, menelepon bahwa dia sudah di Padang, dan menanyakan golongan darah saya apa. Pertanyaannya dengan mudah saya jawab, dan ketika selesai ditanyakan tanpa perlu menghitung jumlah kancing baju saya sudah tau jawabannya apa. Yaitu AB. Golongan darah saya sendiri masa gak tau.

Emaknya dia sedang di klink bersalin yang sedang pendarahan dan butuh darah AB, saya sebagai teman yang baik sebelum diminta bersedia sudah bersedia lebih dulu.

Sudah sejak lama sebenernya saya mau mendonorkan darah di dalam tubuh ini, entah karena takut disuntik atau kesempatan yang belum ada, belum kesampaian juga. Tanggal 5 Februari itu lah saat yang tepat, Allah baru mengizinkan saya donor darah hari itu. Alhamdulillah.

Berangkatlah saya ke klinik tempat emak teman saya bersalin, dan menemui keluarga yang sedang berada disana juga. Ditanya-tanya dulu siapa dan darimana. Walaupun sebenarnya sudah di beritahukan oleh teman saya ini. Pastilah dia bilang akan ada temannya yang mau donor yaitu saya.

Namanya belum pernah donor darah, sampai disana langsung di suruh makan dan minum, tapi alhamdulilah saya sudah makan siang terlebih dahulu di rumah. Jadi, untuk menghormati tawaran, saya ambil air putih saja.

Didalam ruang yang penuh oleh keluarga besarnya itu, saya ditanya golongan darahnya apa dan pernah punya penyakit apa. Langsung saja saya jawab golongan darah AB, dan kalau sakit yang parah banget ya gak pernah rasanya. Cuma sebatas demam saja.

Tampak muka bahagia dan lega dari mereka yang mendengarkan. Pertanda bahwa darah saya kemungkinan besar dapat di donorkan.

Setelah beberapa saat duduk dan cerita-cerita, saya kemudian di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Sungai Penuh oleh Ayah teman saya ini, dibawa ke Unit Transfusi Darah, untuk kemudian di cek apakah dalam keadaan sehat, dan tanpa penyakit.

Alhamdulillah sekali keadaan saya saat itu baik-baik saja, tensi juga normal layaknya orang sehat, dan tidak ada sejarah penyakit yang jika nanti di donorkan akan bahaya untuk si penerima donor.

Di ceknya di lengan sebelah kiri. Namun ada yang aneh, abang abang dokternya agak kesulitan menemukan pembuluh darah saya di bagian lengan kiri. Sambil dia mencari keluarlah satu pertanyaan yang sampai saat ini membekas di pikiran saya.

"Jarang olahraga yaa?"

Saya cuma mampu jawab singkat,

"hehe, iya"

Proses mencari pembuluh darah sedikit memakan waktu juga, tapi secara garis besar berhasil dengan selamat. Anggap saja tantangan untuk abang nya.

Kemudian, setelah di cek dan siap donor, lanjut ke lengan bagian kanan, dan disitulah akhirnya darah saya dihisap dengan perlahan oleh kantong donor darah.

Ada sekitar 5 menit lamanya proses transfusi darah dari lengan ke kantong. Ternyata tidak sebanyak yang saya kira.

Setelah berbunyi beeep tanda proses selesai otomatis, ujung suntikan kemudian dicabut dan saya duduk. Tidak ada pengaruh apa-apa yang saya rasakan setelah donor. Entah itu pusing atau tiba-tiba lemah, Insya Allah tidak ada.

Saya normal se normal normalnya bagaimana orang normal. Kembali melakukan aktivitas seperti biasa.

Pengalaman pertama ini sekaligus meruntuhkan mitos bahwa Wara Lofitra takut jarum suntik. Lihat bagaimana saya tersenyum menghadapi ini semua. Sama sekali tidak ada rasa takut yang terlihat, kan?

Selasa, 06 Februari 2018

Pada Akhirnya Kita Akan Sendiri


Illustrasi: Pexels

Sejak kita lahir ke dunia ini, kita sudah sendiri. Kecuali kamu kembar. Tapi tetap aja sendiri juga kan. Keluarnya satu-satu juga. Paling selisih berapa menit.

Seiiring bertumbuhnya kita, perlahan mulai paham aka keberadaan orang-orang sekitar, Ibu, Ayah, keluarga, dan teman-teman. Kemudian masuk sekolah, katakanlah itu SD, mulai bertambah lagi teman-teman, main bersama, datang pagi-pagi, trus pulang juga sama-sama dan berkunjung ke rumah teman untuk mengerjakan tugas dari sekolah.

Kemudian beranjak SMP, teman baru bertambah lagi, jadi kenal anak desa tetangga. Berlanjut ke SMA, bertambah lagi teman baru disana. Mungkin waktu itu sudah mulai membuat hubungan kecil-kecilan yang masuk ke hati. Mulai merasakan sedih ditinggal teman sendiri, mulai merasakan yang namanya rindu. Padahal besok senin sudah bertemu lagi.

Dan kemudian masuk dunia kampus, orang yang dari seberang pulau sudah menjadi teman sekarang. Dan ditahap ini hubungan yang kecil-kecilan berlanjut serius sampai nangis tak tertahan saking rindunya.

Kita ketergantungan dengan teman-teman kita, kecanduan bertemu dengan kekasih hati. Adiktif terhadap hubungan yang di elu-elukan sendiri.

Kadang, sekalipun sedang berada di tempat yang ramai, hati terasa sepi karna tidak ada orang-orang yang kita sayang. Yang kita sayang yang dulunya teman. Tertawa di satu acara, tapi hati meringis tanpa si dia.

Teman, sesungguhnya kita lahir ke dunia ini sendiri, jangan pernah takut sendiri, karena sendiri tidak pernah jadi malasah, yang jadi masalah adalah saat kita mempermasalahkan kesendirian.

Bila rindu sudah terlalu berat, hubungi orang yang kamu sayang via apa saja yang kamu senangi. Ajak video call, telpon, atau sekedar chat untuk mengusir kesendirian.

Tapi aku pernah baca kalau ungkapan rindu paling ampuh itu adalah do'a, mendo'akan yang kita rindukan. Sebut namanya dalam do'a. Kirimkan untuknya yang terbaik.

Ditulis saat sendiri dan sedang mempermasalahkan kesendirian.

Senin, 05 Februari 2018

Di tanggal 26 yang masih Januari lalu, ada sms yang mengaku dari JNE ke nomor IM3 saya. Isi pesannya nyuruh jemput paket yang baru datang.

Paket yang akan dijemput ini isinya adalah seperangkat drone dari DJI berjenis Spark berwarna Putih.

Pada hari yang Jum'at itu juga ada janji sama teman perempuan saya yang minta dibantu dibuatkan CV untuk melamar kerja katanya.

Paginya saya ke JNE terlebih dahulu baru setelahnya memutuskan untuk bertemu teman saya di salah satu cafe jejepangan di Kerinci. Kami bertolak ke cafe tersebut dengan saya yang membawa paketan dari JNE yang ukurannya kira-kira muat ditaruh di tempat kaki motor Honda Beat.

Karena sebelumnya saya belum pernah melihat drone asli (selama ini hanya lewat YouTube) maka dengan keadaan tidak sabar, saya unboxing lah di cafe jejepangan itu juga. Mbak pelayannya memasang muka heran melihat saya yang bongkar barang di depan dia. Saat itu Saya gak mikir panjang memang, cuma penasaran + tidak sabar karena baru pertama kali. 

Seharusnya pas bertemu teman saya ini (selanjutnya akan saya sebut namanya saja, Syarli), saya harusnya mendesain CV untuknya sesuai janji yang telah dikirim via WhatsApp malam sebelumnya. Namun karena godaan drone yang canggihnya sudah terbayang-bayang, saya tega mengulur waktu membuatkannya CV sampai nanti sore.

Di cafe itu saya minta ke Syarli untuk mengetikkan detail apa yang mau ditampilkan di CVnya, laptopnya saya kasih, dan saya lanjut unboxing drone.

Padahal bisa saja bikin langsung dengan nanya ke dia dulu tanpa harus diketik. Cara mengulur waktu ini pun hasil belajar dari YouTube.

Sembari Syarli mengetik CVnya, saya masih buka-buka paketan. Membaca manual book, garansi dan mencium aroma baru drone. Oh! tidak lupa memencet plastik pelindung yang bengkak-bengkak itu. Duh, sensasinya pas mencet itu memang bikin ketagihan. Dronenya sempat saya pinggirkan demi mencet gelembung udara dalam plastik itu. Pikiran saya saat itu memang cocok jadi korban hipnotis.

Sambil Syarli masih mengetikkan CVnya, mengumpulkan dan mengingat apa saja prestasinya dan saya yang masih bongkar-bongkar. Terdengar tanda bahwa sebentar lagi akan diadakan sholat Jum'at di masjid dekat situ. Saya bilang ke Syarli bahwa desain CVnya akan saya kerjakan setelah sholat Jum'at. Karena saya laki-laki.

Syarli pulang dengan membawa laptop saya, dan saya sholat Jum'at di masjid Baiturrahman Sungai Penuh.

Pulang dari sholat Jum'at, saya kemudian pulang kerumah, gak makan seperti biasanya, karena sudah di cafe jejepangan tadi. Langsung saja saya kerumah neneknya Syarli, karena Syarlinya disana sudah nunggu. Dia nunggu sampe ketiduran. Memang siang itu terasa lebih panas dari sebelumnya, cocok sekali kalau dibawa tidur siang.

Dirumah neneknya Syarli, saya langsung ngecas Drone yang tadi di unboxing. Sambil baca-baca tutorial yang ada di buku petunjuk. Syarli masih mengetikkan CVnya yang belum selesai, karna ternyata dia tertidur selama saya sholat Jum'at.

Sambil menunggu baterai drone penuh, saya masih baca baca tutorialnya. Sambil juga membantu mempersiapkan bahan lain pelengkap lamaran kerja. Tapi, setelah Jum'at tersebut rasanya lebih banyak main drone daripada membuatkan CV untuk Syarli.

Saya nyoba-nyoba menerbangkan drone yang pada saat itu masih bingung, padahal sebelumnya di YouTube melihat orang menerbangkan drone gampang-gampang saja. Pokoknya lama, proses dari baterainya sudah penuh dan siap dicoba untuk terbang pertama kali, sampai baterainya habis tanpa terbang sedikitpun. Saya bingung kenapa dronenya tidak mau terbang. Deteksi wajah sepanjang percobaan selalu gagal.

Syarli yang tadinya didepan laptop sampai ikut-ikutan bingung dan membaca buku tutorial juga. CVnya terbengkalai. Padahal batas pengiriman berkas via email adalah hari itu juga. Semua gara-gara drone baru.

Kami mutar-mutar drone sampai Adzan Ashar. Setelah Ashar barulah buru-buru saya buatkan CV untuk Syarli. Buru-buru dalam artian sebenarnya. Sambil sesekali melihat drone yang lagi di charge.

Akhirnya CVnya selesai setelah Maghrib. Saya kemudian pulang dengan rasa penasaran yang masih banyak karena dronenya belum berhasil terbang sementara baterainya sudah di charge beberapa kali. Habis sebelum terbang.

Pokoknya hari itu belum bisa terbang sama sekali, malamnya lanjut nonton YouTube mencari akar masalahnya dimana.

Ternyataaa, harus di aktivasi dulu dronenya cintaaahhh. Sama aplikasinya juga harus di update dan perbarui databasenya. Kan kzl. cuma gara-gara itu. Kirain kan rusak atau apa.

bersambung . . .