Senin, 01 Januari 2018

Pada akhir desember 2017 lalu, netizen dikejutkan dengan berita razia tempat hiburan karaoke yang saat di foto digerebek tampaklah satu sosok wajah seram seorang pemandu karaoke.

Media pun ramai membahasa tentang penampakan wajah seram pemandu karaoke tersebut.

Situs berita detikcom bahkan langsung menemui seorang paranormal di Probolinggo bernama Hasyim untuk dimintai pendapat tentang heboh foto seram pemandu karaoke.

Hasyim memberi keterangan layaknya paranormal, ia mengatakan bahwa makhluk di dalam foto itu merupakan makhluk gaib. Makhluk itu memang berkeinginan menampakkan diri kepada manusia.

Namun ditahun baru tanggal 1 ini beredar foto si pemandu karaoke yang terciduk bersama polisi plus satu kerudung hitam dengan bentuk mirip jaring.

Otomatis menjadi bahan tertawaan netizen di tanggal 1 yang sudah 2018 ini.

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dadi kejadian ini adalah:

Pertama, jangan cepat percaya sama satu berita yang baru muncul. Kemudian kedua adalah, jangan percaya paranormal. Ketiga, jangan sok tau.

Rabu, 27 Desember 2017

Di ranah twitter saat ini sedang berada di trending topic nomor satu Indonesia tentang Kampanye CELUP, singkatan dari Cekrek, Lapor, Upload. Sebuah kampanye yang katanya anti asusila.

Kampanye ini di inisiasi oleh 5 mahasiswa DKV Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Jawa Timur. Di

Berdasarkan ilustrasi di brosurnya, terdapat tulisan yang sangat jelas terlihat, "Pergokin Yuk! Biar Kapok", dibawah tulisan tersebut terdapat pula tambahan "Jika kamu menemui sepasang kekasih berbuat tindak asusila di tempat umum dan merasa terganggu maka segera laporkan dengan mengikuti gerakan sosial ini.”

Di ranah twitter banyak yang mempermasalahkan kampanye ini, dari pemilihan akronim nama kampanyenya saja 'bermasalah', terkesan berbau pornografi. CELUP. Teh kalii di celup.

Di line, sudah lebih dulu muncul stiker CELUP dengan nama Potrait, Report, Upload. Dan... dibawahnya terdapat deskripsi "Have you ever been jealous with somebody in love?". Duh. Ini kampanye anti susila yang katanya mau "membersihkan" ruang publik malah terkesan cemburu berlebih pada orang yang berpasangan yaa.

Terkesan seperti "main hakim" sendiri secara digital. Iya kalo pacaran dan berbuat asusila, kalau mereka adik kakak? seperti kasus yang juga masih hangat seorang netizen yang merekam momen pelukan dua pria yang akhirnya diketahui mereka adik kakak.

Yang bikin tambah parah lagi, di brosur kampanye mereka mencantumkan logo pemerintah surabaya, detik, jawapos, tv9 dan lain lain. Saat di konfirmasi oleh instansi yang dicatut diatas via akun twitter resmi mereka, bahwa mereka tidak sedang bekerjasama dengan kampanye CELUP tersebut. Ketahuanlah bahwa di brosurnya asal catut logo.

Duh adek adek mahasiswa ini bikin gemas saja. Saya juga sebenarnya cemburu melihat orang pacaran diruang publik, tapi gak begini juga. Lebih baik tegur dan kasih tau langsung. Bukankah ada yang namanya privasi, itu ruang publik, memotret orang di ruang publik ada hukumnya. Dengan adanya kampanye ini, malah mendidik orang untuk main hakim sendiri sekaligus melanggar privasi demi poin yang nantinya dapat ditukar dengan hadiah.

Selasa, 26 Desember 2017

Di luar sana, pekerjaan menjadi desainer grafis itu sudah bisa hidup, sandang pangan papan terpenuhi. Sedangkan di Indonesia, para desainer grafis seperti saya ini boro boro bisa buat hidup, dibayar aja kadang iya kadang enggak.

Mungkin bagi beberapa orang pekerjaan desainer grafis ini sepele dimata mereka. "Halah! cuma corat-coret aja dikit, tambahin ini itu masa bayar sih". Kalau ketemu orang kayak begini rasanya pengen saya tekan hidungnya seperti saya menekan keyboard laptop dan berkata "Kalau lu bisa, bikin aja sendiri ngapain nyuruh guaa".

Malah kadang, mereka yang pesan desain lebih tau dari orang yang nge desain. Sebel akutu.

Walupun otodidak, saya menghabiskan waktu untuk belajar ini dua tahun, bray. Bukannya sebentar itu. Kalau ibarat pacaran itu udah anniversary 2 kali, lumayan kan.

Iyasih desain bagus dan tidak itu relatif, dari beberapa klien yang pernah saya tangani mereka puas kok.

Sudahlah daripada saya mendongkol, berikut saya berikan beberapa tips jika kamu benar-benar butuh jasa desain dengan hasil yang bagus:

1. Pilih Desainer yang Berpengalaman

Bagus tidaknya desain yang dihasilkan nanti dapat dilihat dari desainer pilihan kamu, pilih yang sudah berpengalaman menangani banyak klien. Lihat juga portfolio desainnya. Jika kamu suka cara dia bikin desain, pesan saja langsung.

2. Siapkan Budget

Kuy kita sepakati dulu bahwa desain yang bagus itu sesuai harga. Siapkan harga untuk sebuah desain yang menurutmu bagus dan keceh. Kalau tidak siap budget, gausah sok-sok-an mau oake jasa desainer deh. Jangan harap lah desain bagus tapi murah. Tidak ada itu. Simpan Argumenmu.

3. Berikan Design Brief yang Jelas

Banyak banget nih yang kek gini, cuma bilang "bri bikin spanduk acara, mau dicetak 30 menit lagi". Monangis akutu. Acaranya apa, dimana, kapan dan temanya apa kan belum jelas. Apa yang mau ditulid di spanduknya coba. Jadi, cobalah kasih design brief yang jelas, biar desainer kamu juga happy.

4. Berikan File Pendukung yang Masuk Akal

Niatnya mau bikin desain Billboard selabar 5 meter tapi ngasih file cuma 5kb. Billboard buat semut kali yaa kalo file segitu.

Kasih dong file yang bener bener mantap, biar tinggal di desain sebagus mungkin oleh desainernya.

5. Jangan Terlalu Banyak Revisi

Sudahlah bayarnya murah, revisinya sampai belasan kali. Itu sama aja kayak lagunya Afgan - Sadis. Apa kamu gak malu revisi terus? Desainermu juga punya kerjaan lain, gak hanya ngurusin maunya kamu.

Udah gitu aja. Ingat baik-baik yaa ada harga yang bagus untuk desain yang bagus pula. Andailah kamu tau, desainer grafis itu mengorbankan waktunya hanya untuk menggarap project darimu. Cobalah untuk mengerti, dibalik harga teman yang kamu tawarkan itu sebenarnya ada hati yang dongkol. Maka jangan heran kalau hasilnya tidak sebagus klien lain yang ia desain.

Rabu, 20 Desember 2017

"Ribuan manusia dibunuh di Palestina mereka diam, tapi satu artis korea bunuh diri mereka menangis."

Begitulah kira kira kalimat "mengingatkan" kepada saudara-saudari kita yang gemar sama apapun berbau Korea.

Saya pribadi bukan penggemar Korea, jadi tak ada niat dalam tulisan ini sebagai pembelaan kepada dedek-dedek gemes kita yang masih gemar sama Korea.

Hanya saja yang menggelitik akhir-akhir ini adalah membandingkan rasa belasungkawa antara artis Korea dan Palestina.

Sebab bisa saja orang sedih dalam kasus berbeda dalam waktu bersamaan.

Kesedihan yang bertebaran di beranda hanya berupa kalimat dan avatar. Sedih pada "oppa" dan palestina juga sama-sama sedih. Hanya masalah prioritas saja, bukan berarti tak boleh sedih. Biarkan mereka larut dalam kesedihan versi mereka. Jangan membandingkan rasa belasungkawa.

Karna kalau kita membandingkan rasa belasungkawa, tak akan habis.

Palestina dipedulikan, Papua dilupakan, tak akan ada habisnya.

Ukhti-ukhti yang sedih "oppa"-nya bunuh diri juga punya pertimbangan sendiri untuk sedih. Kalau itu salah, lambat-cepat mereka juga akan paham.

Yang perlu di perbaiki adalah moral kita. Biar kelihatan "gue peduli palestine loh" dengan merendahkan yang lain.

Selasa, 19 Desember 2017

Samir adalah seoarang mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Kerinci, Jambi. Di kampusnya ia mengambil jurusan Ekonomi secara tidak sengaja pas awal-awal masuk kuliah.

Di semester akhir sekarang ini, Samir terhitung beberapa kali saja datang ke kampusnya. Samir lebih sering ikut fitness, main futsal dan tentunya jalan-jalan sore bersama pacarnya.

Entah apa yang membuat Samir malas ke kampus, sementara teman-temannya sudah banyak yang ujian skripsi dan tinggal agenda saja. Samir tau waktu wisuda sudah dekat, namun Samir tetap selow.
Bukan Samir kalau tidak aktif di sosial media, ia bak seleb facebook, status yang keluar dari akunnya selalu dapat tidak kurang dari 200 likes.

Sesekali Samir juga minder melihat foto temannya yang selesai ujian yang muncul di feed facebooknya.
***
Akhir-akhir ini ramai berita tentang Trump yang mengklaim Yerussalem sebagai ibukota Israel. Sosial media juga tentunya ramai. Muncul ajakan untuk memboikot produk yang kabarnya dananya digunakan untuk membeli senjata para tentara Israel membasmi palestina.

Samir tak kalah bersuara, ia dulu punya pengalaman organisasi dan menduduki posisi penting di struktur keorganisasian tersebut. Jadi, Samir pede sekali mengutarakan pendapatnya.

Samir rajin membagikan postingan yang berkaitan dengan ajakan boikot produk Israel.

Seminggu penuh, story ig nya tentang ajakan boikot produk Israel semua, begitupun status WhatsApp nya.

Arjun salah seorang teman Samir yang dikenal sering mengikuti seminar, workshop dan pelatihan bisnis mengajak Samir untuk ikut bersamanya, dan membuat satu produk substitusi dari produk Israel yang di boikot.

Arjun memang suka sekali dengan dunia bisnis, hampir semua pelatihan bisnis yang bisa ia jangkau, pasti Arjun ikut.

Samir, ketika diajak Arjun untuk bergabung bersamanya.

"Mir, yuk ikutan pelatihan bisnis, kita serap ilmu-ilmu bisnis dari narasumber, nanti kita aplikasikan ke usahaku."

"Usahamu apa, Jun?" tanya Samir.

"Aku punya usaha kecil-kecilan, pasta gigi alami dari daun sirih, produksinya masih home insdustri sih" jelas Arjun.

"Ohh lanjut lah kamu dulu Jun, aku sibuk fitness, minggu depan mau tanding futsal sama desa sebelah." Samir menolak.

"Mir, kamu kan gencar di sosial media tentang gerakan boikot produk Israel, kok diajak bisnis ogah-ogahan gini."

"Ya kan boikot-boikot aja, gak ada urusannya sama pelatihan bisnis." Samir memberi pembelaan.

"Mir, kalau produk Israel di boikot, tentu kita harus nyiapin produk penggantinya, kalau produk penggantinya gak ada, ajakan boikot se sering apapun juga gak bakal berguna."

"Agak sulit sih kalau beneran di boikot, produk Israel sama Amerika itu mutakhir. Tapi paling tidak kita punya tindakan nyata ke arah sana." terang Arjun panjang.

Samir kemudian mengecek Instagram, WhatsApp dan Facebook nya, ia menghapus semua postingan yang terkait ajakan boikot.

"Nanti yaa Jun, aku pikir-pikir dulu".

Kamis, 16 November 2017

Berada di Antara Dua Golongan

Masih sangat segar diingatan warganet soal aksi uninstall Aplikasi Booking Tiket Pesawat dan Hotel, Traveloka.

Aksi ini secara masif hampir seperti gerakan boikot Sari Roti dulu. Diranah twitland juga sempat menduduki trending topic nomor satu, #UnintsallTraveloka.

Di facebook, lumayan ramai juga feed tentang Uninstall Traveloka tersebut yang notabenenya teman dekat dan teman lama. Biasanya saya suka googling dulu untuk memastikan apakah benar atau tidak.

Ternyata, setelah tebukti bahwa kabar tersebut Hoax, ada beberapa teman yang dengan besar hati menghapus postingan tentang itu. Namun ada pula yang tetap bertahan, karena sudah kadung di posting. Mungkin malu karna sudah ikut menyebar hoax. Namun lebih malu jika menarik satu postingan.

Sementara banyak bermunculan kutipan bapak Anies Baswedan yang dengan bijaknya mengatakan tidak perlu uninstall-uninstall, hormati perbedaan pendapat.

Junjungan yang di elu-elukan sudah memberi keterangan, tapi tetap saja ada yang enggan menarik postingannya.

Beruntungnya, saya berada diantara dua golongan ini, yang legawa menghapus dan mengaku salah, dan yang bersikeras walaupun tau salahnya dimana.

Alangkah nikmatnya berada di dua golongan seperti ini.

Selasa, 14 November 2017

Halah. Sok sok an judulnya yaa, kayak pernah di Dunia Artis aja, biasa juga nonton Dunia Binatang sama Dolpino di Trans7.

Ya gak apa apa, kan tulisan ini berlindung di balik kategori opini.

Begini, di dunia maya banyak sekali warganet yang nyinyir atas keputusan beberapa artis yang sebelumnya memutuskan berhijab kemudian melepaskan hijabnya lagi.

Kolom komentar portal berita, akun Instagram, facebook, twitter, dan lain sebagainya penuh nyinyiran yang sebenarnya unfaedah.

Jelas dong unfaedah, namanya juga nyinyir. Mana orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan tak kasat mata kalau hanya melihat kolom komentar.

Lagian juga nyinyiran nya soal artis, kayak gak tau aja dunia artis, bagaimana gemerlapnya, buka tutup hijab mah sepele bagi mereka. Ntar pasang lagi aja kalo lagi kalem.

Warganet yang nyinyir ini sebagian mungkin karena kecewa, artis idolanya yang juga berhijab seperti dia, tiba-tiba memutuskan untuk melepas hijab demi tuntutan pekerjaan.

Disini kelirunya warganet menurut saya, artis kok jadi idola. Ditambah lagi omongannya di pegang. Mana bisaaa gitu, goblin.

Sebaiknya, kembali ke hakikat artis itu sendiri, anggap mereka sebagai penghibur, karna mereka memang di dunia entertain, kan?

Dengan begitu, kalau seandainya mereka berbuat yang kira-kira tidak sesuai dengan norma warganet sekalian, warganet cukup geleng-geleng kepala saja tanpa perlu nyinyir.

Setuju?

Minggu, 22 Oktober 2017

Hari minggu saya biasanya dirumah hanya main laptop dan nonton TV. Tapi tidak dengan hari minggu tanggal 22 Oktober ini.

Hari minggu kali ini mengunjungi Outbond yang diadakan oleh FPRJ ( Forum Peduli Remaja Jambi ) cabang Kota Sungai Penuh. Bukan panitia bukan peserta, saya dan bang Peri Rahmat diajak salah satu panitianya untuk datang ke Taman Pertiwi namanya, berlokasi di Pendung Talang Genting atau kerennya Pentagen.

Sebelum berangkat kesana, harusnya kami ikut ngumpul jam 8 di lapangan merdeka Sungai Penuh. Karena sabtu malamnya acara Kenduri Kopi, tentulah malam itu kami susah tidur karena sudah nyicip kopi di setiap stand-nya.

Berangkatlah kami sekitar pukul 9 lewat menyusul panitia dan peserta. Sampai disana takjub dengan alamnya yang indah di pinggir hutan, ada danau berjumlah 3 danau kecil yang berdampingan. Ada juga tempat-tempat yang cihuy sekali untuk konten instagram, dan tentu saja ada yang lagi outbond dari FPRJ.

Karena perdana ke Taman Pertiwi, dari tempat parkir jalan ke tempat outbound seberang danau sengaja kami pelankan, sambil melihat kanan kiri yang harmoni. Suara burung-burung juga tak ketinggalan melengkapi.

Bagi orang Kerinci, tentu kenal Aroma Pecco di Kayu Aro. Nah, Taman Pertiwi ini sepertinya akan jadi lawan berat Aroma Pecco itu. Besar tempatnya hampir sama, danaunya juga sama-sama indah. Ditambah pohon pinus yang menjulang tinggi menghadang matahari.
Disini juga kita bisa naik perahu kayu yang kalau disewa hanya Rp.5000-, saja. Bukan per kepala, tapi satu kali jalan. Murah amir kan? padahal kalau bayar Rp.5000 per kepala juga tidak jadi soal. Tapi sayang, jumlah perahunya belum banyak.

Di danau tempat ber-perahu itu adalah tempat ikan-ikan bersemayam. Kami sempat berbincang dengan pengelolanya, bahwa Taman Pertiwi ini bukan dibuat sebagai objek wisata, awalnya hanyalah BumDes yang sudah diresmikan oleh Gubernur Jambi, H. Zumi Zola Zulkifli. Pak Gubernur sudah mewanti-wanti pengelola BumDes, panen ikan pertama harus pak Zumi Zola yang panen. Padahal kami sangat berharap sekali bisa dibawa pulang.

Asiknya, walaupun belum bisa dibawa pulang, pengunjung masih bisa setidaknya memegang ikan-ikan. Bukan sembarang ikan, tapi ikannya pak Gubernur :).

Pengelola menyediakan pakan ikan yang dibungkus plastik untuk pengunjung yang mau mencoba bagaimana rasanya ngasih makan ikan. Lagi-lagi murah, pakan ikan satu plastiknya hanya Rp.2000-, saja.

Saya termasuk orang yang beli pakan ikan hanya untuk seru-serusan ngasih makan ikan dan memegangnya. Ikannya loncat-loncat berebut makanan yang kami lempar. Ada yang naik perahu, ada yang sedang seru-seruan outbound, dan ada yang miring-miring selfie.

Ala-ala kampung nya benar-benar terasa, kekiniannya juga terasa dari yang selfie memperbaiki feed Instagram.

Rabu, 18 Oktober 2017

Akhir-akhir ini saya sering duduk di Roemah Kayo, salah satu tempat ngopi paling hitam di Kerinci. Tentu saja kopi arabika Kerinci yang disediakan disini. Bagi penikmat kopi sejati tentu paham dimana bagian nikmatnya, sayangnya saya bukan penikmat kopi. Hanya numpang duduk dan WiFi-an saja.

Roemah Kayo adalah pelarian ditengah buntunya pikiran saya yang sedang mikir bagaimana suatu produk bisa laku. Hari itu juga suasana hati sedang tidak stabil bahagianya.

Biasanya saya berangkat dari rumah ke Roemah Kayo ba'da Dzuhur. Sampai disana ya duduk-duduk saja sambil menunggu Ashar datang.

Masjid yang ada di sekitar Roemah Kayo di desa gedang itu namanya masjid Al-Akbar yang sedang dibangun. Saya dan Panji teman saya biasa sholat Ashar di dua masjid sebenarnya. Masjid Al-Akbar ini, dan satu lagi masjid Baiturrahmah di sekitar RS DKT Sungai Penuh.

Singkat cerita selesailah sholat ashar berjamaah kami di masjid Al-Akbar. Ketika keluar masjid dan saya sedang mengepaskan kaki di sandal eiger hitam banyak tali, saya berdiri sejenak di papan informasi di dekat pintu masjid.

Seorang anak kecil perempuan yang dibawa mamanya sholat disana dengan imutnya bertanya ke mamanya didepan pintu sambil duduk memasang sandal.

"Ma, kok masjid ini berantakan?"

"Ini lagi dibangun sayang" kata Mamanya.

"Bangun apa, Ma?"

"Bangun rumah Allah"

"Kok rumah Allah di hancurin?"

Saya yang masih melihat-lihat rancang bangun masjid di papan informasi mendengar obrolan anak dan mamanya tadi reflek menoleh saat pertanyaan terakhir di ajukan anak ke mamanya.

Pertanyaan polos si anak kecil tadi berhasil menarik naik kedua pipi saya dan tersenyum. Padahal pertanyaannya belum dijawab sama mamanya. Mamanya juga senyum senyum saja setelah dilempar pertanyaan polos si anak.

Kemudian saya berjalan pelan keluar pagar masjid dengan men-jepret masjid Al-Akbar yang sedang dibangun. Sempat saya jadikan insta story dengan menulis caption masih dalam keadaan tersenyum. Sebenarnya kalau ada yang nanya alasan kenapa tersenyum, saya juga kurang paham. Terimakasih dek atas pertanyaan polosnya :), suasana hati langsung stabil kembali bahagianya.

Kamis, 28 September 2017

Ramai media sosial setelah beredar foto Ketum Partai Pohon Beringin yang tengah terbaring di Rumah Sakit.

Beragam komentar warganet dalam menanggapi foto tersebut. Ada yang menanggapi secara santai, dan ada juga yang serius sampai-sampai mencari perbedaan dan menelaah alat-alat medis yang tampak dalam foto.

Paling banyak diperhatikan dari foto itu adalah monitor yang sependek pengetahuan saya untuk menunjukkan apakah masih bernyawa atau tidak. Paling mencolok ada tepat di wajah pak Setya Novanto, Masker yang dianggap netizen sebagai masker untuk mengatasi gangguan tidur. Saya kurang paham juga sebenarnya, walaupun suka bolak balik kampus Akper.

Terlepas dari semua alat medis itu dan isu bahwa foto itu hanyalah akting semata. Bahwa ada isu yang juga berkembang sebelum foto itu viral.

Kabarnya, Pak Setya Novanto di tunggu-tunggu oleh KPK atas kasus KTP-elektonik yang saat ini sedang di praperadilan-kan.

Kita semua baca berita dan akhirnya tau bahwa kebiasaan orang kalau mau diperiksa oleh pihak berwenang, alasan yang sering dipakai untuk mangkir adalah sakit.

Itu juga yang sedang dipakai Pak Setya Novanto. Yaa mudah-mudahan sakitnya beneran. Bukan alasan mengulur waktu saja.

Nah, anda dan saya, kita juga pernah memakai trik ini terutama waktu sekolah dulu. Okelah kalau anda tidak mau ngaku, tapi jujur saya pernah memakai trik ini.

Tau sendiri lah, dulu Kerinci masih dingin-dinginnya. Sesekali saya merasa malas datang ke sekolah. Tak perlu pikir panjang, tinggal bikin surat keterangan sakit yang dititip ke teman. Saya sudah bisa hidup leyeh-leyeh hari itu.

Ini lah yang menjadi dasar bawah kita sebenarnya tidak lebih baik dari Pak Setya Novanto. Toh kita juga pernah memakai trik yang beliau pakai sekarang.

Tapi, kita juga sebenarnya juga lebih baik dari Pak Setya Novanto sih. Perasaan pas pakai trik itu untuk menghindari ke sekolah, saya tak sampai sebar foto begitu.