Senin, 12 November 2018


Sehabis Maghrib kami berencana membawa koko William dan istrinya cici Elva dari Bali menginap semalam di tengah kebun kopi di kaki Gunung Kerinci.

Dari pagi hingga sore koh William yang juga produsen mesin roasting kopi ini menjadi juri dalam acara battle coffee masih dalam rangka ulangtahun Kota Sungai Penuh yang ke 10.

Jadwal koh William ngisi acara lagi besok sekitar ba'da Ashar. Jadi kami punya kesempatan untuk mencoba menginap di guest house Pelangi di kaki Gunung Kerinci. Pelangi guest house ini ditengah kebun kopi milik mbak Erna dan suaminya Mr. Erick yang juga pengelola Pelangi guest house.

Namanya Pelangi diambil dari nama anak kedua mereka yang cuteness overload pokoknya 👌

Saya pernah ke sana sekali bersama mas Suryono sebelumnya, tapi belum berkesempatan menginap di kamar guest house nya.

Sehabis Maghrib tanggal 9 kami berangkat, berlima, ada mas Bibil, Panji, koh William dan cici Elva. Dalam perjalanan menuju kayu aro, banyak topik bermanfaat yang saya dapat dari setiap pembicaraan. Koh William cerita banyak tentang pengalaman ia dan istrinya jalan-jalan ke luar negeri.

Kami sempat singgah juga di Siulak Deras mengisi perut karna sudah masuk jam makan malam. Takut di homestay sudah terlalu capek dan sebagainya. Jadi, kami berhenti di Rumah Makan Dendeng Batokok Sabana, tepat di sebelah kanan jalan kalau dari Sungai Penuh.

Ternyata koh William sama istrinya tidak bisa makan segala jenis daging sapi, katanya alergi. Mereka pesannya ayam, dan kami Dendeng dong. Kan gak alergi.

Mas Bibil yang dari Jakarta juga ternyata baru pertama kali makan Dendeng Batokok, ia terkesan dengan rasa dendeng yang ternyata bisa seenak itu, daging smooky yang enak katanya. Saya kebetulan masih kenyang, jadi cukup pesan jus Terong Pirus saja sudah cukup.



Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Kayu Aro dan langsung menuju Pelangi guest house.

Lokasi nya berada tepat setelah gerbang masuk gunung Kerinci, tempat anak gunung lapor nama. Sampai disana sekitar jam 9 kurang 15 menit, kami disambut mbak Erna yang ketika kami turun, mbak Erna terlihat menyalakan lampu kamarnya pertanda mau turun membuka pintu dan mengantar kami ke kamar masing-masing.

Sekarang baru ada 3 kamar, kami cowok bertika di kamar 1, koh William dan istrinya di kamar 2.

Awal masuk, kita akan melihat banyak kerang yang jadi aksesoris di Pelangi guesthouse, ini (mungkin) karna suami mbak Erna, Mr. Erick adalah mantan peselancar dari Sidney yang suka nyari ombak gede di Mentawai, kabarnya mereka bertemu dan juga di Mentawai. Akhirnya menikah melahirkan dua gadis lucu Jasmine dan Pelangi.

kasur di lantai satu
tangga ke lantai 2
kasur di lantai dua
Koh William dan teman-teman lain terkesima dengan keadaan kamar, dua lantai dengan 3 kamar tidur, 1 dibawah dan 2 diatas.

Setelah barang bawaan kami sampai di kamar,ada perapian yang kami lihat, menganggur tidak berapi.

Kami bertanya dan meminta ke mbak Erna untuk menyalakan api. Maklumlah, saat kami sampai, di layar hape masing-masing kami menunjukkan keadaan suhu sekitar 15°C. Lumayan dingin.

Akhirnya mbak Erna memenuhi permintaan kami, kami jadi otomatis ngumpul di perapian menunggu api menyala.

Cici Elva sibuk mengabadikan momen dengan kamera Instagram nya, sesekali dengan fitur Boomerang.

Setelah apinya nyala, mbak Erna membawakan kami minuman jahe hangat.

Beuhhh. Bayangkan, di kanan tepat Gunung Kerinci, di depan perapian, di tangan minuman jahe hangat, dihatiku ada kamu.

******

Setelah kami puas menghangatkan tubuh didepan perapian dan jahe hangat. Jam 10:40 sudah saatnya merebahkan badan di kasur empuk dan selimut tebal.

Saya pilih kasur paling pojok di lantai dua tepat di bawah langit-langit kamar. Rasanya nyaman sekali.

Mas bibil tidur di lantai 1, saya dan panji di lantai 2.

*****

Alarm saya bunyi pukul 4:20 WIB, saya kemudian bangun untuk menantang dingin pagi. Ambil handuk kemudian saya memutuskan mandi. Setelah mandi, kemudian sholat Subuh kemudian keluar menghirup udara pagi yang masih basah.

Kabut yang menutupi Gunung Kerinci belum hilang. Sampai semuanya bangun, kami turun jalan-jalan pagi sampai ke kebun teh. Tentunya sambil foto-foto.



Cici Elva bilang, ini baru pertama kali ke Kerinci dan berencana akan kembali kesini lagi, karna katanya lebih bagus dari luar negeri yang pernah ia kunjungi. Banyak negara yang sudah dikunjungi, tapi Kerinci punya daya tariknya sendiri katanya.

Oya, pas lagi foto foto di pinggir teh sekitar Sungai Tanduk mau pulang, ada seorang ibu-ibu yang menawarkan susu sapi murni yang dibawa dari Solok Selatan.


Sabtu, 13 Oktober 2018

Jauh sebelum drama awkarin pengen ngilang dari Instagram dan ternyata dia jual ke "new awkarin", saya sudah gak pake akun Instagram lagi. Sudah saya hapus permanen.

Instagram atas nama saya (@waralofitra) sudah tidak bisa di buka sama sekali. Highlight Story yang saya rawat selama ini juga otomatis hilang.

Dulu sebelum saya memutuskan untuk menghapus secara permanen, selalu ada niatan ingin bikin story baru yang pakai outro waralofitra.com di setiap akhir video yang cuma 15 detik itu.

Kemunculan IGTV sempat bikin semangat ingin bikin video baru dalam versi yang lebih panjang. Entah kenapa cepat sekali rasanya bosan dengan segala fitur dari Instagram.

Belum lagi instastory teman yang ngaca doang di bikin story, ngaca doang padahal. Apa coba faedahnya liat orang ngaca? ini yang bikin tambah bosan.

Lagian juga, diantara banyak sosmed, Instagram termasuk penyedot kuota tercepat setelah YouTube. YouTube masih enak, videonya play pas kita pencet play. Lah ini di Instagram otomatis play tanpa kita minta play. Ini kan pemborosan.

Terus lagi, semakin banyaknya iklan di Instagram juga mulai mengganggu. Scroll 3 post kita akan melihat 1 iklan setelahnya, begitu seterusnya.
Intinya Instagram sudah mulai toxic bagi saya pribadi, dan juga tidak berdampak begitu signifikan kalau tidak punya akun Instagram.

Memang sih, semua tergantung orangnya, harusnya follow your interest, bukan follow your friends.

Toxic itu karna melihat banyak hal unfaedah tadi, walaupun kita follow interest, bagi saya masih aja toxic, karna kebanyakan iklan.

Jangankan di Instagram, iklan di blog ini saja kalo banyak akan menggangu. Saya sebagai pemilik nya pun terganggu. Apalagi kalian yang membaca. Alhamdulilah sudah saya kurangi, hanya ada satu iklan di bawah blog. Karna saya tau itu akan menggangu.

Sekarang lebih sering main Twitter, lebih nyaman karna gak banyak iklan, dan info terbaru gampang di dapat dengan kuota minim. Pengalaman saya, ketika masih punya Instagram, humor yang muncul di Instagram justru udah duluan saya liat di Twitter.
Line juga kebanyakan isinya screenshot-an dari Twitter. Makanya saya pilih main Twitter sebagai akses informasi utama.

Rasanya setelah sebulan gak pake Instagram adalah, biasa aja, gak pengen segera punya lagi. Mungkin nanti setelah Instagram punya fitur Adsense, saya akan bikin akun lagi.

Itu sih yang saya rasakan, Instagram bagi saya toxic, entah lah kalau kalian masih betah, silakan saja.

Facebook juga mau saya hapus kemaren, tapi terhalang satu hal, akun masih terhubung dengan beberapa fanpage yang saya kira masih penting, dan masih terikat dengan facebook Ads.

Kalo mau lebih dekat dengan wara, dan ingin tau keseharian nya ketik reg spasi wara kirim ke 8988 silakan ke Twitter dengan username @waralofitra.

Saya juga masih bikin video 15 detik kok, tapi di WhatsApp. Nomernya ada di blog ini, di menu Tentang.

Sekian, salam hangat bagi yang merindukan.

Senin, 01 Oktober 2018

Selama hidup saya, yang namanya di traktir makan selalu enak, ya enak lah, gratis. Tinggal makan aja. Itu kalau makanan yang dikasih sesuai selera.

Tapi ini, kali ini saya agak kurang bahagia di traktir. Di salah satu mall, bertemu dengan calon anggota DPR-RI dapil Jambi di salah satu mall di Jakarta Selatan. Di traktir oleh beliau, karna yang ngajak ketemu beliau. Ini karna masih memegang teguh yang ngajak yang bayar.

Bukan apa-apa, diajaknya ke restoran Jepang, lidah saya ini sudah fasih betul dengan citarasa masakan Padang. Masakan Padang is our greatest taste in the world. Rendang is very important to our life, Kalio, Tunjang, and many more.

Sebelumnya saya sudah bilang kalo makan Ayam Geprek saja yang juga masih sekitar mall. Tapi beliau ini bersikeras ingin masuk restoran Jepang.

Masuklah kami ke restoran yang entah apa namanya, saya gak bisa baca tulisan Jepangnya. Katrok memang.

Pas duduk, aroma masakan nya saja sudah aneh. Alias sedang masuk daerahnya lawan. Semua serba bukan kita banget.

Buka menunya juga gak ada yang berbau masakan rakyat, namanya sok sok Inggris gitu. Kalau sudah nama makanannya pake bahasa Inggris, pasti mahal. Apalagi bahasa Inggris campur Jepang. Mahal kuadrat.

Jujur, tak ada yang bisa saya ingat dari nama makanan di menu nya.

Untunglah masih bisa request es jeruk panas 😂. Jadi walaupun makanannya bikin kesel, setidaknya minumannya membawa rasa masakan padang.

Oiya, saya pesan makanan yang masih bisa dimengerti, yang ada chicken-chicken nya. Jelas dong itu kan ayam.

Sampai lah pesanan di meja. Yang sampai gak ayam doang, banyak pulak aksesoris pendukung nya, yang paling aneh rasanya ada di kuah (kuah atau apasih nyebutnya, pokoknya ekstensi nya lah).

Bener bener aneh, rasanya kayak lagi minum cincau pait. ewh.

apakah ada tanda-tanda kebahagiaan? tidak sodara-sodara

ini nih tersangka nya

Untuk apa mahal-mahal kalau lidah tidak merestui. Tetap saya makan juga sih, untuk menghormati beliau, lagian malu juga keliatan kampungan depan pelanggan lain 😂😂

Keluar dari restoran Jepang, ada rasa tak puas, kami langsung memutuskan untuk balas dendam segera cari masakan Padang. Untuk mengobati lidah yang abis tersiksa ini.

Tentunya Bapak Caleg DPR-RI gak kami bawa.

Jumat, 28 September 2018


25 September kemarin saya berkunjung ke Megamendung. Dibawa oleh pak Satio, teman lama pak Ami. Melihat bangunan pesanren dan aktivitas santri disana.

Yang unik dan bikin beda dengan pesantren lain adalah bangunannya yang serba bambu. Mulai dari lantai, dinding dan anak tangganya pun dari bambu.

Setelah ngobrol panjang dengan orang-orang di pesantren, teryata ada triknya untuk membangun bambu agar tidak cepat rusak dan tahan lama.

Rahasianya terletak pada bambu yang di rendam terlebih dahulu sebelum dirangkai menjadi bangunan utuh. Bangunan yang nantinya akan menjadi tempat belajar, ruang pertemuan dan kamar para santri.

Masjid pesantren pun dibangun dengan 80% bambu. Wilayah Megamendung yang kebanyakan pegunungan, sama dengan cuaca dan kontur tanah Kerinci. Berada di perbukitan yang rawan longsor, dengan bambu bangunan nya akan lebih ringan daripada pakai beton.

Sesampainya nya disana, saya tak sabar ingin menerbangkan drone untuk melihat dari atas pesantren yang luasnya 1,2 hektar ini.

Sembari pak Ami temu kangen dengan teman lama beliau di pesantren, saya memilih keluar untuk melepas drone agak sebentar. Berikut ini foto-foto yang saya dapat:

foto dari drone tampak seluruh pesantren

santri sedang bermain bulu tangkis

anak tangga dari bambu

anak tangga tampak atas

ruang guru

bambu yang sedang direndam

kain para santri

ventilasi di kamar santri juga pakai bambu

gak tau ini dia lagi baca apa, pokoknya lagi baca

balkon di kamar santri

salah satu stiker di kamar santri

ini juga kamar santri

nah ini pak ami, dan yang baju merah itu orang PDIP

rangka bambu di dalam masjid

ini di dalam masjid

ini santri lagi liat pengumuman

ini tau dong apa, nama pesantrennya

Itu lah cerita singkat (tapi banyak gambar nya) dari saya. Semoga bermanfaat yaa.



Rabu, 05 September 2018


Transportasi darat saat ini masih menjadi primadona bagi masyarakat Kerinci yang hendak keluar daerah. Yaa walaupun sudah ada pesawat setiap hari yang keluar masuk Kerinci. Tetap saja naik angkutan darat jadi lebih menarik.

Saking senangnya masyarakat Kerinci naik angkutan darat, sampai-sampai ada lagunya. Safa Marwa yang dinyanyikan oleh Eka Diana. Lagu yang berisi lirik kisah kasih orang Kerinci yang merantau ke negeri orang. Merindukan pulang dan naik travel ber merek Safa Marwa yang nambang ke Jambi, hingga Jakarta.

Sungguh sebuah teknik branding yang bagus, mempromosikan travel lewat sebuah lagu daerah yang dikenang sepanjang masa oleh masyarakat Kerinci.

Ketika awal-awal pesawat masuk ke bandara Depati Parbo Kerinci. Tentunya sebuah ancaman bagi pemilik usaha travel, karena warga masih penasaran dengan rasa naik pesawat dengan trayek Kerinci - Jambi dan Jambi - Kerinci.

Sekarang, tiket pesawat Kerinci - Jambi dan sebaliknya nauzubillah mahal. Mencapai 1 jutaan, jauh lebih murah lagi tiket Jambi - Jakarta.

Situasi ini dimanfaatkan oleh pengusaha travel untuk menggaet kembali penumpangnya. Tentu dengan cara baru. Membuat penumpang nyaman dengan menghadirkan armada baru.

Penambahan armada baru ini tentu mendapatkan review bagus dan menyebar dari mulut ke mulut. Ruang kaki yang lebih luas, dikasih selimut dan air mineral. Rupanya ini yang membuat banyak orang jadi suka.

Selama perjalanan ke Jambi, hentakan di jalan berlubang pun semakin minim.

Namun sayang, pengalaman saya pribadi merasakan ada yang kurang selama perjalanan ke Jambi kemaren.

Music yang diputar selama perjalanan kebanyakan musik minang. Rayola, Ratu Sikumbang, dan Ria Amelia merajai playlist supir travel Kerinci.

Terlalu sedikit lagu Kerinci asli. Padahal semua penumpang nya asli orang Kerinci. Ini sangat saya sayangkan karena saya jadi hapal lagu yang diputar sepanjang jalan. Selama perjalanan saya susah tidur walaupun sudah senyaman itu.

Alhasil terjaga sambil bibir mengikuti alunan lagu minang.

Saya curiga kalau ini agenda Pe-minang-an orang Kerinci. hmmm.

Minggu, 22 Juli 2018

Di sirkel pertemanan saya, ada beberapa teman yang baru mulai diet karbo. Diet karbo atau bahasa gehol nya biasa disebut a low-carb diet.

Yang memulai hal baru selalu dalam sirkel kami adalah Pak Ferry Satria, lalu diikuti oleh kanda Khairul Amar yang juga punya masalah dengan perut yang offside setelah menikahi Owner KincaiHomeMade.

Sebelumnya kami juga pernah lomba banyak-banyakan follower di Instagram, dengan metode marketing Instagram yang di baru dipelajari. Akhirnya saya kalah.

***

Caleg muda, Yuda Oktana, yang sepertinya tidak punya masalah berarti dengan fisiknya, sepertinya tidak perlu ikut-ikutan diet karbo ini. Malahan saya yang sepertinya harus mengikuti jejak kedua teman yang sudah memulai a low-carb diet ini.

Jujur saja, berat badan saya saat tulisan ini ditulis tercatat oleh timbangan seberat 73 Kg. Alangkah melarnya badan saya sekarang, karena dari SMP sampai MAN badan saya masih bisa dimasukkan dalam kategori kurus.

Kalau tanda badan mulai membesar itu ditunjukkan dengan adanya Stretch Mark, itu lho tanda khas kalau di perut ibu-ibu hamil, ada garis-garis halus yang muncul di sekitar area perut dan pinggang. Ewh. Maka saya sudah sepantasnya mulai khawatir dengan fisik diri sendiri.

Sebenarnya saya tidak takut gemuk, hanya takut penyakit. Entah itu gula darah atau semacamnya. Kan gak lucu, masih muda dan belum menikah sudah punya riwayat penyakit gula darah. Ewh.

Untuk mengantisipasi kekhawatiran saya, beberapa hari lalu sempat tanya-tanya mengenai diet karbo ini. Katanya gak boleh makan nasi, roti, dan sebagainya yang mengandung karbohidrat.

Saya membatin, kalau roti sih gak apa-apa, tapi nasi seperti nya susah. Sebagai anak petani yang sangat agraris ini, saya merasa berat untuk meninggalkan makan nasi, selain tidak mencerminkan anak petani, juga bakal dikira gak punya sawah.

Mengurangi rasa penasaran, saya iseng googling tentang diet karbo ini, yang saya temui justru boleh mengkonsumsi karbohidrat, namun dalam porsi yang tidak banyak. Karen karbohidrat dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama.

Lalu apa yang dimakan kanda Khairul Amar? dia kemaren sore makan kerupuk kulit campur kuah gulai. Khas makanan supir truk/kenek kalau singgah di rumah makan.

Saya sendiri akhir-akhir ini sudah mulai bisa mengontrol nafsu makan yang biasanya bisa mencapai 4 kali sehari, Makan pagi, siang, malam, dan tengah malam. Sekarang alhamdulilah hanya makan 2 kali sehari, Makan Pagi dan Makan Malam setelah Maghrib.

Target saya untuk menurunkan berat badan saja, bukan kurus, karna takut di cap tidak makan atau di cap tidak punya sawah. Soalnya di desa saya kalau tidak punya sawah dianggap hina.

Sabtu, 07 Juli 2018



Saya tak pernah menyangka ditahun 2018 ini ketika Pemilihan Bupati Kerinci 27 Juni kemarin ikut terlibat memenangkan salah satu pasangan calon.

Awalnya kami bertiga Yuda Oktana, Khairul Amar, dan Saya sebelumnya tergabung dalam tim Kerinci Today. Di Awal Ramadhan 2017 datang ke salah satu paslon dalam acara deklarasi dirinya akan maju dalam kontestasi politik Kerinci.

Karena kami sebelumnya berada dibalik media Kerinci Today, sedikit paham tentang media sosial dan konten yang akan di tampilkan. Belajar dari beberapa contoh pilkada lain, salah satunya Pilkada DKI Jakarta.

Kerinci yang selama ini dikenal dengan Politik yang gitu-gitu aja. Maka harapannya dengan terlibat nya kami akan membawa warna berbeda.

Kami bertiga bagi-bagi tugas, Saya urusan desain, Yuda urusan isi konten, dan Khairul Amar urusan mem-viral-kan di sosial media alias admin beberapa grup WhatsApp dan grup Facebook.

Hal ini kami terapkan setelah mengikuti workshop-nya Pak Deddy Rahman (CEO Katapedia) yang juga konsultannya Anies-Sandi di Jakarta akhir tahun lalu.

Banyak hal yang kami lalui, bagaimana dibalik layar sebuah isu yang di konsumsi orang banyak dibuat, bagaimana keputusan politik diambil, bagaimana me-manage tim yang solid dan bebas penyusup.

Kami mulai mem-branding paslon yang kami dekati, membuat narasi, membuat video dan citra lainnya melalui sosial media. Ya, hanya melalui sosial media. Isu yang disebar lebih efektif dan ngena.

Dan Alhamdulillah pada akhirnya paslon yang kami dukung menang versi hitung KPU dan sudah di sahkan kemarin. Semua berkat tim kampanye, tim pemenangan dan semua pihak yang terlibat.

Banyak yang bertanya setelah menang, kami dapat apa. Hey bro, let me tell you something, kami gak pernah minta apa apa, entah itu jabatan atau project ke calon yang kami dukung. Dijanjikan sih pernah, tapi sama sekali tidak pernah terniat dalam hati untuk minta sesuatu.

Menang ya sudah, sama-sama kita kawal program yang telah dibuat dan dijanjikan untuk masyarakat Kerinci.

Bagi saya pribadi, ini tentu pengalaman yang berharga sekali, saya jadi banyak kenal orang-orang yang selama ini rasanya saja gak mungkin punya kontak WhatsApp mereka. Mulai dari ketua-ketua partai, anggota dewan, sampai tim garis depan.

Satu satunya harapan terbesar saya adalah Kerinci kedepan semakin berjaya dan lebih baik dari sebelumnya.

Demikian sedikit cerita tentang masuk dunia politik, saya dan kerabat kerja yang bertugas undur diri dari blog ini. Mau sarapan dulu. Babay.

Rabu, 13 Juni 2018


Lusa sudah IdulFitri, pas pada hari Jum'at tanggal 15 Juni 2018. Dan tentu saja keluarga jauh keluarga dekat sudah banyak yang ngumpul di kampung halaman.

Seperti kebiasaan di lebaran-lebaran yang telah sudah, selalu muncul broadcast permintaan maaf menjelang IdulFitri.

Namanya juga momen IdulFitri, momen dimana kembali suci. Setelah sebulan puasa dan sebulan itu juga silaturahmi dengan orang sekitar terjalin. Dan di IdulFitri adalah momen yang pas pula untuk berkunjung kerumah keluarga beserta sanak saudara. Yang tidak bisa di kunjungi karena jarak dan kesempatan bisa langsung via room chat.

Teman-teman yang mudiknya tidak se arah dengan kita, mungkin sebagai pelepas rindu bisa melalui japri Whatsapp atau media lainnya.

Banyak ragam orang minta maaf, ada yang menggunakan link yang bila di klik akan muncul nama si pengirim. Ada yang masih menggunakan kartu ucapan. Bahkan mungkin masih ada yang menggunakan banyak kata yang over-puitis.

Apalagi di grup Whatsapp, banyak sekali broadcast yang mungkin sudah bosan kita terima. Notifikasi sampai menumpuk karena permintaan maaf yang nauzubillah gak ada bedanya.

Memperhatikan grup WhatsApp dan teman-teman yang mem-forward kata-kata maaf itu, saya jadi bertanya-tanya apakah ini permintaan maaf yang serius? Iyasih lebaran itu maaf-maafan, tapi masa gak ada variasi kata-kata lain sih. Sama semua.

Okelah, kita harus menyisakan ruang di otak untuk berprasangka baik. Karena tidak semua orang bisa merangkai kata maaf dengan baik. Yang tanpa buat mikir ya tinggal copy paste saja.

Tapi apakah permintaan maaf itu ikhlas dari lubuk hati ? lah kata-kata maafnya saja copy paste, lantas apa yang mau dimaafkan?

Ah si Wara ini bisanya cuma protes aja. Padahal copy paste juga kan?

Enggak. Sorry yaa saya menghindari betul yang seperti itu. Apalagi yang sumbernya dari grup sebelah.

Saya lebih memilih diam daripada ikut-ikutan copy paste. Dan yang terpenting menurut saya di setiap IdulFitri adalah memaafkan, bukan minta maaf.

Saya mau ambil peran sebagai pemberi maaf. Namanya maaf-maafan tentulah ada minta maaf dan memaafkan. Tapi urgensi nya tentu beda. Dalam Alquran sendiri lebih tinggi derajat yang memaafkn daripada yang minta maaf.

Minta maaf itu gampang, tinggal copy paste juga bisa. Tapi memaafkan itu sulit. Harus ada kerelaan yang benar-benar sungguh dari dalam hati.

Seperti memaafkan mantan, yang dulu pernah berbuat yang tidak kita suka, sulit kan?

Apalagi setiap saat masih sering di hantui mantan, liat apa-apa dikit terkenang mantan.

Makanya penting bagi saya untuk tidak ikut-ikutan minta maaf. Minta maaf sudah tidak spesial, yang spesial adalah memaafkan. Soalnya berat.

Dan untuk kamu yang baca tulisan ini, saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu minta maaf. Selamat IdulFitri. Semoga setelah lebaran kuat datang ke resepsi teman.

Selasa, 12 Juni 2018


Kejadian real-nya bukan di hari Sabtu, tapi hari senin kemarin. Supaya terdengar ala-ala Film gitu.

Ba'da Dzuhur dari masjid, Abak (Ayah versi uhang Kincai) tiba-tiba ngajak belanja kebutuhan lebaran seperti orang-orang. Pusat ekonomi Kabupaten Kerinci masih berada di Sungai Penuh. Kami berangkat pakai motor menuju ke Sungai Penuh di bawah hari Senin yang sedang terik-teriknya.

Namanya juga mau lebaran, teori permintaan dalam ilmu ekonomi yang bilang bahwa makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang (begitupun sebaliknya). Teori tersebut tidak berlaku pada saat mau lebaran seperti sekarang, karna mau harga mahal sekalipun, permintaan terhadap barang juga tetap tinggi. Ya, namanya juga orang mau lebaran, gak tau butuh atau enggak, pasti dibeli.

Jadi, balik ke cerita saya dan abak. Sungai Penuh lagi padat-padatnya. Orang yang merantau sudah pada pulang meramaikan kampung tercinta. Parkir aja dempet-dempetan dulu. Kasian tukang Parkirnya sampe gak puasa.

Setelah naruh motor di parkiran, kami berjalan menyusuri (elah menyusuri) pasar yang nauzubillah lebih padat dari tempat parkir. Mulai saya bertanya ke abak.
"nduk mli apu bak?" (mau beli apa, Abak?)
"naluk baju rayo duluh moh, ado mpong mwu kipe? (cari baju lebaran dulu, bawa uang gak?)
"ado, moh daluk mano ngak sasue" (ada, yuk cari yang mana mau)
Lumayan lama mutar sekitar toko baju, Abak maunya baju koko yang model wakanda, tapi warna putih dan baju kemeja batik. Ketika saya tanya apalagi selain itu yang mau dibeli, abak bilang cuma itu aja, sama nambah mau beli kopiah untuk di pake sholat.

Urusan tawar menawar Abak gak paham, berapa kata penjual segitu dibeli. Padahal rata-rata penjual ngasih harga diatas batas wajar semua. Untunglah anaknya ini pernah meneladani betapa teganya Emak nawar barang. Belajar dari Emak, saya jadi berusaha menawar barang sesadis mungkin, hehe.

Apalagi pas beli kopiah, masa penjual nya bilang harga kopiah nya 150, kopiah apaan segitu. Saya tawar 50 ribu tetap aja dia gak mau, padahal saya tau dari teman yang punya toko di area situ ngasih tau kalau harga kopiah model yang abak mau harganya 35 ribu.

Sampai dua kali saya tawar tetap juga gak mau, akhirnya kami lari dan pindah ke penjual kopiah lain. Dengan barang dan ukuran yang sama, di penjual yang baru kami temui ini dapatlah harga 35 ribu. Bener kan. Harus sadis kalau nawar.

Selesai belanja-belanja baju dan kopiah, saya kembali bertanya ke Abak, 

"nduk mli apu agih?" (mau beli apalagi?)
Abak bilang cukup itu aja, beliau emang gak banyak mau. cuma mau yang pokok-pokok nya aja. Abak orangnya sederhana sekali. Setiap buka puasa, sholat Maghrib nya di Masjid terus, menemani garim masjid berbuka. Selesai minum air dirumah, Abak langsung jalan ke Masjid yang jaraknya juga dekat.

Beda dengan anaknya, pas buka puasa langsung makan berat :( dan masih ngeluh berat badan naik.

Dah ah, jadi males bahas berat badan. Segitu aja cerita "Senin bersama Bapak" nya.

Babay.

Kamis, 31 Mei 2018


Zaman dulu orang arisan itu berfungsi selain sarana menabung juga jadi ajang silaturahmi antar anggota. Kadang tempatnya juga pindah-pindah sesuai kesepakatan dengan anggota arisan. Arisan tidak hanya identik dengan kaum ibu-ibu saja, sudah merambah ke anak-anak remaja, sampai tukang ojek.

Waktu saya SD dulu masih ingat betul tetangga saya yang tukang ojek sering mengadakan arisan perkumpulan ojek-ojek dirumahnya. Setelah masuk SMP karena seiring pertumbuhan motor, perkumpulan ojek juga makin lama makin habis.

Ojek di desa saya yang dulu hampir tiap hari ada, sekarang jasa ojek hanya tersedia satu kali dalam seminggu, hanya hari Sabtu.

Sekarang, di zaman yang sudah serba mutakhir ini saya rasa fungsi arisan makin lama makin terkikis. Orang tidak butuh lagi arisan sebagai ajang silaturahmi.

Saya punya teman yang sampai sekarang masih ikut arisan, mereka bersepuluh. Tapi tidak pernah kumpul dalam satu acara arisan mereka. Berawal dari grup chat di Facebook, mereka sepakat untuk membentuk grup arisan khusus geng mereka.

Bagaimana arisan tetap jalan tanpa perlu bertemu? ternyata mereka memanfaatkan fitur transfer uang via mobile banking. Jadi, arisannya tetap di dalam grup chat tersebut dan uangnya di transfer ke bendahara yang sudah ditentukan.

Agak aneh bagi saya melihat pola arisan seperti ini, sudah terlalu kurang ajar, sampai-sampai bertemu pun tidak ada waktu.

Alhasil arisan mereka tidak berjalan lancar, banyak yang menunggak pembayaran, banyak yang saling benci diantara mereka, di dalam grup sudah terlalu banyak emot senyum, tapi di chat pribadi beberapa orang sepakat emosi.

Saya melihat ini karena komunikasi mereka hanya lewat grup, mereka jarang bertemu. Padahal arisan beberapa tahun yang lalu selain fungsinya menabung juga sebagai ajang silaturahmi. 

Teman yang ikut arisan ini sudah saya rekomendasikan dia untuk keluar karna terbukti hanya memperbanyak musuh. Dan uang arisan mereka banyak yang dilahap sendiri oleh beberapa orang. Jatah menang nya mereka atur sendiri seenaknya.

Sudahlah hubungan antar mereka kacau, rugi pula.

Untuk ikut arisan zaman sekarang mending pilih-pilih orang dan jangan hanya lewat grup. Karna jarang silaturahmi membuat anggotanya emosi.