Senin, 26 Maret 2018

Ketika aku lahir ke dunia ini, aku tidak membawa cenderamata sebagai ucapan terimakasih untuk kedua orangtuaku. Hanya tangisan yang merepotkan dan tentu saja bikin susah tidur. Apalagi ketika aku lahir dulu lagi masa-masa sulitnya di Kerinci, yang baru kena gempa paling parah hingga saat ini.

Beranjak SD, tentu tambah merepotkan lagi. Uang jajan yang harus orangtuaku kasih agar seragam dengan uang jajan anak-anak lain. Aku tau keadaan saat itu kami masih serba kekurangan.

Karena rumah dekat dengan SD, hanya berjarak selemparan upil saja. Emakku berjualan di pagar SD dan aku juga bantu-bantu agar tidak terlalu repot. Karna jelas lah uang hasil jualannya juga pasti untuk kebutuhan aku kelak.

Berlanjut ke SMP, tahun-tahun ini lagi happening sekali dengan tren hape Symbian. Internet juga baru awal-awalnya masuk jangkauan kami waktu itu. Zaman ini termasuk paling susah menyesuaikan dengan teman-teman yang orangtuanya berada. Mereka sudah bawa motor ke sekolah, keluargaku belum punya motor waktu itu.

Selepas SMP, aku lanjut ke Madrasah Aliyah. karena sekolahnya agak jauh, dan aku belum bisa bawa motor dan belum punya juga, untuk mengatasi ini untunglah ada teman yang mau aku tumpangi.

Mulai beranjak kelas sebelas, alhamdulilah sudah ada motor dan notebook. Notebook Acer dengan RAM 2GB. Kedua fasilitas ini aku manfaatkan untuk melampiaskan segala yang ada dalam pikiran sejak aku melihat teman-teman yang sudah lebih dulu punya.

Banyak sekali yang aku eksplorasi dengan spek hanya 2GB itu, mulai mencoba menyusup ke jaringan Wi-Fi kampus yang ada di dekat madrasah dulu. Ini bisa aku banggakan disini karena saat itu jarang sekali ada yang bisa melakukan. Sekarang mungkin rata-rata anak sudah bisa melakukannya dengan mudah.

Sempat bolos pelajaran hanya karena keasikan main notebook di ruang yang bisa menjangkau Wi-Fi.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah di Kota Sungai Penuh, aku melanjutkan ke perguruan tinggi di samping nya yang dulunya sempat aku ambil Wi-Fi nya.

Tak ada niat mendaftarkan diri di kampus ini, karena gagal SNMPTN dan jujur aku tidak menyesali hal itu.

Di kampus yang sekarang lah aku mulai sadar, keluarga ku termasuk yang finansialnya terganggu. Jadi, aku mulai berpikir dan berniat untuk tidak menggangu lagi keuangan orangtua yang selama ini sudah sulit.

Alhamdulilah, orangtua hanya membayar uang SPP sampai semester 2 saja, selanjutnya aku sudah bisa bayar sendiri. Dan Alhamdulillah lagi, kebiasaan untuk tidak minta lagi sama orangtua bertahan sampai sekarang.

Keadaannya berbanding terbalik sekarang, hampir setiap hari saya yang kena 'palak' oleh emak. Bukan, bukan kesal kena palak. Lebih ke perasaan senang bisa melihat orangtua senang dengan 'malak' anaknya. Karena dulunya mereka puas kena 'palak' oleh saya dari lahir sampai umur 18 tahun. Ada rasa bangga bisa 'dipalak' oleh orangtua sendiri.

Ada rasa puas karena kebutuhan sehari-hari kita tidak perlu minta ke orangtua lagi.

Aku tau, ini belum setimpal. Aku tau ini tak akan lunas. Hanya saja aku merasa ada perasaan aneh di hati. Senang-senang kesal.

Selasa, 13 Maret 2018

Aku tidak tau pasti apa penyebabnya dan kenapa bisa terjadi. Rasa di hati ini sudah seperti ombak dipantai, kadang tenang, kadang mencekam. Mencekam yang membuat tidak tenang.

Padahal baru kemarin kita tertawa bersama, kau juga tak lupa akan ulangtahunku, dan tentu saja mengajak aku makan seperti lazimnya orang lain merayakan.

Aku tau, salahnya ada di diriku, bukan kamu. Aku yang kadang berlebihan menterjemahkan sikapmu. Sikapmu yang lembut kepadaku, ternyata juga ke semua orang. Tolong jangan cepat menilai diriku dengan tuduhan yang macam-macam, tak ada yang salah dengan bersikap lembut ke semua orang. Sumpah, tak ada salahnya.

Hanya saja aku yang berkali kali salah menterjemahkan sikapmu, sehingga aku pun jadinya cemburu.

Kamu, aku lihat dari aktivitas sosial mediamu, masih berhubungan dengan mantanmu, entahlah dengan komunikasi kalian. Aku tak mau tau. Apakah masih se sering dulu, atau jangan-jangan kalian sedang mempersiapkan sesuatu.

Sekarang aku sedang pesimis. Pesimis dengan rencanaku kedepan denganmu. Iya, aku punya rencana indah untukmu. Entah ini hanya nafsu atau murni niat tulus, aku belum bisa membedakannya. Semoga saja bukan nafsu.

Aku hanya tidak ingin diriku ini menjadi ketergantungan dengan seseorang. Aku takut berharap.

Maaf, aku blok kontak WhatsApp-mu sementara, semata-mata untuk mencegah diriku yang selalu ingin tau tentangmu.

Niat memblokir kontakmu semakin bulat setelah kulihat dia masih di hidupmu. Kukira sudah benar-benar hilang. Kalau sudah benar-benar hilang, niatku untuk masuk ke hidupmu sudah terencana.

Kemarin aku bahagia karena ku kira begitu. Tenyata bukan.

Sekali lagi maafkan diriku yang berlebihan. Tulisan ini tidak seharusnya muncul ke permukaan dan terbaca olehmu. Kuharap kau tidak membaca ini. Karena aku malu dengan tingkahku sendiri.

Rabu, 07 Maret 2018

Jadi gini, saya punya kesukaan yang agak aneh dan tidak biasa dibanding sama hobi orang lain. Jika orang kebanyakan minum jus Alpukat, saya malah suka makan Alpukatnya langsung, kalo oranglain suka minum jus tomat, saya malah suka makan tomatnya langsung.

Yaa nggak langsung dari tumbuhan tomatnya juga sih, langsung dari kulkas. Dicuci dulu pastinya sebelum di makan bulat-bulat.

Saya tidak tau apakah orang-orang selain saya juga suka makan tomat bulat-bulat, yang jelas sepengetahuan saya rasanya makan tomat bulat-bulat agak janggal di masyarakat kita, mungkin masih menjadi aib keluarga atau perilaku menyimpang selayaknya menenggak Alkohol.

Seringkali setiap hari sabtu yang merupakan hari balai/pasar mingguan di Semurup, Kerinci. Setiap emak belanja mingguan untuk kebutuhan dapur, selalu membeli tomat segar dari petani Kayu Aro.

Sampai di kulkas dirumah dan sudah diatur tata letaknya oleh emak saya di tatakan nomor 3 dari bawah.

Hampir setiap saya makan dirumah, tomat bukannya jadi satu sama sambal atau bumbu masak lain, tapi langsung saya makan bulat-bulat.

Beberapa kali saya kedapatan mengambil tomat dari kulkas sama emak saya, dan emak seperti menunjukkan ketidaksukaannya. Ya jelas, karna tujuan membeli tomat tiap sabtu adalah untuk pelengkap masakan, bukan untuk di lalap.

***

Saking seringnya mengambil tomat secara ilegal dirumah, setiap makan diluar seperti pecel lele, ayam penyet, pokok nya yang ada tomatnya sebagai pemanis tampilan selalu habis saya telan.

Ya saya tau makan tomat langsung itu rasanya agak aneh dan tentu saja tidak semanis makan apel atau buah-buahan lain. Awalnya juga begitu rasanya, tapi makin sering makan, jujur saya makin suka.

Nah, kemarin mungkin kutukan emak saya berlaku. Saya termakan tomat sama tulang-tulangnya sekalian.

Kejadian di sebuah cafe kecil di depan SPBU Kumun, Sungai Penuh. Tanggal 6 Maret kemarin seorang teman yang merelakan waktunya hanya untuk menemani saya makan sekalian merayakan umur saya yang resmi 23 tahun.

Kami memesan Iga Saus Padang, Ayam Saus Padang, dan Fu Yung Hai. Oh! tak lupa sama Es Krim Durian.

Awalnya tak ada yang aneh pas kami makan, Ayam habis, Fu Yung Hai juga habis, dan tentu saja Iga yang dagingnya luar biasa empuk.

Sementara kami makan, turun hujan seperti biasanya di Kota Dingin ini. Sore-sore memang sudah kewajiban nya untuk hujan.

Makanan habis, kami lanjut cerita-cerita ringan. Entah apa yang membuat saya tiba-tiba ditengah kami cerita, saya mengambil garpu dan menusukkannya ke tomat yang tersisa di dua piring yang berbeda. Piring pertama adalah tempat yang sebelumnya didiami oleh Ayam Saus Padang, dan piring kedua tentu saja Iga Saus Padang.

Saat menusuk tomat di piring kedua inilah tak sengaja tulang sisa Iga terbawa sama tomat menuju mulut saya. Dan Iga itu baru saja dilahap oleh teman saya ini.

Yak betul. Saya termakan tomat sama tulang-tulang Iga nya sekalian.

Karena saya biasanya bersikap cool dan dingin, mengunyah tomat dan sadar ada tulangnya pun gak panikan seperti kemarin pas main drone.

Pelan-pelan saya keluarkan tulang bekas teman saya ke selembar tisu diatas meja. Tetap dalam keadaan cool dan tidak panikan. Walaupun sedikit tersenyum malu.

Sungguh saya yakin ini kutukan karna emak saya selama ini merasa jengkel dengan kebiasaan makan tomat bulat-bulat.

Jumat, 09 Februari 2018

Setelah Dronenya di aktivasi dan aplikasinya juga sudah di update. Percobaan pertama menerbangkan drone saya lakukan di depan rumah yang disaksikan anak-anak yang heboh sekali saat melihat dronenya terbang.

Layaknya anak-anak, mereka akan berasumsi bahwa drone ini akan bisa sampai ke langit paling tinggi, membesar-besarkan cerita yang nyatanya drone ini hanya mampu terbang setinggi 50meter ke atas. Karena saya hanya memakai remote dari ponsel pintar, bukan remote control dji yang dibeli terpisah.

Hari itu sabtu, siang menjelang sore dan panasnya minta ampun. Dronenya terbang untk pertama kalinya di depan rumah. Saya masih belum begitu lancar mengarahkan drone dengan joystick virtual di Redmi 3 saya.

Memang butuh banyak latihan agar supaya lancar dan dronenya tidak habis baterai dengan percuma.

Selesai melihat-lihat dan mencoba menerbangkan drone sore itu, malamnya saya lanjut lagi nonton YouTube mencari lagi bagaimana tips dan trik merekam video dengan cinematic ala-ala YouTuber tenar. Bagaimana mengatur gimbalnya yang hanya 2 arah agar terlihat cinematic dan trik lainnya.

Besoknya, saya demam, panas dingin dan tulang punggung terasa pegal dan berat. Saya biasanya kalau sudah demam begini, pasti diakibatkan karena tidur telat dan pola makan tidak teratur. Memang betul, setelah di cek ke dokter, penyebabnya itu-itu juga.

Disuntiklah bokong saya sebelah kanan, dan disuruh minum obat, ada yang 3 kali sehari, dan 2 kali sehari. Setelah dzuhur saya masih kurang enak badan sebenernya.

Dasar diri ini memang kebanyakan nonton YouTube, setelah Ashar saya paksakan main drone lagi. Mencoba trik-trik baru yang saya pelajari dari nonton YouTube semalam. Saya keluar rumah dan tentunya dikerumuni anak-anak lagi.

Sore ba'da Ashar itu saya puaskan diri terbang di sekitar rumah. Mencoba tebang dengan ketinggian maksimal dan jarak paling jauh. Alhasil, feed Instagram saya sekarang penuh gambar yang di ambil dari drone. Silahkan lihat di instagram.com/waralofitra.

Salah satu kekurangan yang terasa paling kurang  dari seri DJI Spark bagi saya adalah kapasitas baterai yang dibawanya terlalu sedikit, hanya 1480mAh. Sehingga berdampak pada durasi terbangnya yang hanya 15 menit maksimal.

Untunglah ada baterai backup, yaa walaupun sebenarnya masih sedikit. Walaupun sedikit, nyatanya saya harus bersyukur sudah bisa terbang.

Untuk kamera dan kualitas perekamannya, saya merasa puas dengan diberikan kualitas di Full HD. Jujur saja saya belum butuh kualitas 4K, laptop saya belum mampu diberikan beban lebih berat lagi, Full HD saja sudah berat, rendernya lama tapi bersih.

Toh di YouTube juga biasanya saya nonton dari ponsel paling mentok kualitasnya 1280x720 pixel. Jadi, sudah cukuplah. Intinya kalau kita bersyukur maka akan cukup, kalau tidak yaa pasti kurang terus. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Udah yaa saya mau lanjut lagi main drone.

Rabu, 07 Februari 2018

Saya sedang duduk di depan laptop seperti biasa di siang hari di tanggal 5 Februari yang panas tapi gak kepanasan karena dirumah teduh, ada atapnya.

Tiba-tiba teman saya yang terakhir di ketahui berada di Batam, menelepon bahwa dia sudah di Padang, dan menanyakan golongan darah saya apa. Pertanyaannya dengan mudah saya jawab, dan ketika selesai ditanyakan tanpa perlu menghitung jumlah kancing baju saya sudah tau jawabannya apa. Yaitu AB. Golongan darah saya sendiri masa gak tau.

Emaknya dia sedang di klink bersalin yang sedang pendarahan dan butuh darah AB, saya sebagai teman yang baik sebelum diminta bersedia sudah bersedia lebih dulu.

Sudah sejak lama sebenernya saya mau mendonorkan darah di dalam tubuh ini, entah karena takut disuntik atau kesempatan yang belum ada, belum kesampaian juga. Tanggal 5 Februari itu lah saat yang tepat, Allah baru mengizinkan saya donor darah hari itu. Alhamdulillah.

Berangkatlah saya ke klinik tempat emak teman saya bersalin, dan menemui keluarga yang sedang berada disana juga. Ditanya-tanya dulu siapa dan darimana. Walaupun sebenarnya sudah di beritahukan oleh teman saya ini. Pastilah dia bilang akan ada temannya yang mau donor yaitu saya.

Namanya belum pernah donor darah, sampai disana langsung di suruh makan dan minum, tapi alhamdulilah saya sudah makan siang terlebih dahulu di rumah. Jadi, untuk menghormati tawaran, saya ambil air putih saja.

Didalam ruang yang penuh oleh keluarga besarnya itu, saya ditanya golongan darahnya apa dan pernah punya penyakit apa. Langsung saja saya jawab golongan darah AB, dan kalau sakit yang parah banget ya gak pernah rasanya. Cuma sebatas demam saja.

Tampak muka bahagia dan lega dari mereka yang mendengarkan. Pertanda bahwa darah saya kemungkinan besar dapat di donorkan.

Setelah beberapa saat duduk dan cerita-cerita, saya kemudian di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Sungai Penuh oleh Ayah teman saya ini, dibawa ke Unit Transfusi Darah, untuk kemudian di cek apakah dalam keadaan sehat, dan tanpa penyakit.

Alhamdulillah sekali keadaan saya saat itu baik-baik saja, tensi juga normal layaknya orang sehat, dan tidak ada sejarah penyakit yang jika nanti di donorkan akan bahaya untuk si penerima donor.

Di ceknya di lengan sebelah kiri. Namun ada yang aneh, abang abang dokternya agak kesulitan menemukan pembuluh darah saya di bagian lengan kiri. Sambil dia mencari keluarlah satu pertanyaan yang sampai saat ini membekas di pikiran saya.

"Jarang olahraga yaa?"

Saya cuma mampu jawab singkat,

"hehe, iya"

Proses mencari pembuluh darah sedikit memakan waktu juga, tapi secara garis besar berhasil dengan selamat. Anggap saja tantangan untuk abang nya.

Kemudian, setelah di cek dan siap donor, lanjut ke lengan bagian kanan, dan disitulah akhirnya darah saya dihisap dengan perlahan oleh kantong donor darah.

Ada sekitar 5 menit lamanya proses transfusi darah dari lengan ke kantong. Ternyata tidak sebanyak yang saya kira.

Setelah berbunyi beeep tanda proses selesai otomatis, ujung suntikan kemudian dicabut dan saya duduk. Tidak ada pengaruh apa-apa yang saya rasakan setelah donor. Entah itu pusing atau tiba-tiba lemah, Insya Allah tidak ada.

Saya normal se normal normalnya bagaimana orang normal. Kembali melakukan aktivitas seperti biasa.

Pengalaman pertama ini sekaligus meruntuhkan mitos bahwa Wara Lofitra takut jarum suntik. Lihat bagaimana saya tersenyum menghadapi ini semua. Sama sekali tidak ada rasa takut yang terlihat, kan?

Selasa, 06 Februari 2018

Pada Akhirnya Kita Akan Sendiri

Sejak kita lahir ke dunia ini, kita sudah sendiri. Kecuali kamu kembar. Tapi tetap aja sendiri juga kan. Keluarnya satu-satu juga. Paling selisih berapa menit.

Seiiring bertumbuhnya kita, perlahan mulai paham aka keberadaan orang-orang sekitar, Ibu, Ayah, keluarga, dan teman-teman. Kemudian masuk sekolah, katakanlah itu SD, mulai bertambah lagi teman-teman, main bersama, datang pagi-pagi, trus pulang juga sama-sama dan berkunjung ke rumah teman untuk mengerjakan tugas dari sekolah.

Kemudian beranjak SMP, teman baru bertambah lagi, jadi kenal anak desa tetangga. Berlanjut ke SMA, bertambah lagi teman baru disana. Mungkin waktu itu sudah mulai membuat hubungan kecil-kecilan yang masuk ke hati. Mulai merasakan sedih ditinggal teman sendiri, mulai merasakan yang namanya rindu. Padahal besok senin sudah bertemu lagi.

Dan kemudian masuk dunia kampus, orang yang dari seberang pulau sudah menjadi teman sekarang. Dan ditahap ini hubungan yang kecil-kecilan berlanjut serius sampai nangis tak tertahan saking rindunya.

Kita ketergantungan dengan teman-teman kita, kecanduan bertemu dengan kekasih hati. Adiktif terhadap hubungan yang di elu-elukan sendiri.

Kadang, sekalipun sedang berada di tempat yang ramai, hati terasa sepi karna tidak ada orang-orang yang kita sayang. Yang kita sayang yang dulunya teman. Tertawa di satu acara, tapi hati meringis tanpa si dia.

Teman, sesungguhnya kita lahir ke dunia ini sendiri, jangan pernah takut sendiri, karena sendiri tidak pernah jadi malasah, yang jadi masalah adalah saat kita mempermasalahkan kesendirian.

Bila rindu sudah terlalu berat, hubungi orang yang kamu sayang via apa saja yang kamu senangi. Ajak video call, telpon, atau sekedar chat untuk mengusir kesendirian.

Tapi aku pernah baca kalau ungkapan rindu paling ampuh itu adalah do'a, mendo'akan yang kita rindukan. Sebut namanya dalam do'a. Kirimkan untuknya yang terbaik.

Ditulis saat sendiri dan sedang mempermasalahkan kesendirian.

Senin, 05 Februari 2018

Di tanggal 26 yang masih Januari lalu, ada sms yang mengaku dari JNE ke nomor IM3 saya. Isi pesannya nyuruh jemput paket yang baru datang.

Paket yang akan dijemput ini isinya adalah seperangkat drone dari DJI berjenis Spark berwarna Putih.

Pada hari yang Jum'at itu juga ada janji sama teman perempuan saya yang minta dibantu dibuatkan CV untuk melamar kerja katanya.

Paginya saya ke JNE terlebih dahulu baru setelahnya memutuskan untuk bertemu teman saya di salah satu cafe jejepangan di Kerinci. Kami bertolak ke cafe tersebut dengan saya yang membawa paketan dari JNE yang ukurannya kira-kira muat ditaruh di tempat kaki motor Honda Beat.

Karena sebelumnya saya belum pernah melihat drone asli (selama ini hanya lewat YouTube) maka dengan keadaan tidak sabar, saya unboxing lah di cafe jejepangan itu juga. Mbak pelayannya memasang muka heran melihat saya yang bongkar barang di depan dia. Saat itu Saya gak mikir panjang memang, cuma penasaran + tidak sabar karena baru pertama kali. 

Seharusnya pas bertemu teman saya ini (selanjutnya akan saya sebut namanya saja, Syarli), saya harusnya mendesain CV untuknya sesuai janji yang telah dikirim via WhatsApp malam sebelumnya. Namun karena godaan drone yang canggihnya sudah terbayang-bayang, saya tega mengulur waktu membuatkannya CV sampai nanti sore.

Di cafe itu saya minta ke Syarli untuk mengetikkan detail apa yang mau ditampilkan di CVnya, laptopnya saya kasih, dan saya lanjut unboxing drone.

Padahal bisa saja bikin langsung dengan nanya ke dia dulu tanpa harus diketik. Cara mengulur waktu ini pun hasil belajar dari YouTube.

Sembari Syarli mengetik CVnya, saya masih buka-buka paketan. Membaca manual book, garansi dan mencium aroma baru drone. Oh! tidak lupa memencet plastik pelindung yang bengkak-bengkak itu. Duh, sensasinya pas mencet itu memang bikin ketagihan. Dronenya sempat saya pinggirkan demi mencet gelembung udara dalam plastik itu. Pikiran saya saat itu memang cocok jadi korban hipnotis.

Sambil Syarli masih mengetikkan CVnya, mengumpulkan dan mengingat apa saja prestasinya dan saya yang masih bongkar-bongkar. Terdengar tanda bahwa sebentar lagi akan diadakan sholat Jum'at di masjid dekat situ. Saya bilang ke Syarli bahwa desain CVnya akan saya kerjakan setelah sholat Jum'at. Karena saya laki-laki.

Syarli pulang dengan membawa laptop saya, dan saya sholat Jum'at di masjid Baiturrahman Sungai Penuh.

Pulang dari sholat Jum'at, saya kemudian pulang kerumah, gak makan seperti biasanya, karena sudah di cafe jejepangan tadi. Langsung saja saya kerumah neneknya Syarli, karena Syarlinya disana sudah nunggu. Dia nunggu sampe ketiduran. Memang siang itu terasa lebih panas dari sebelumnya, cocok sekali kalau dibawa tidur siang.

Dirumah neneknya Syarli, saya langsung ngecas Drone yang tadi di unboxing. Sambil baca-baca tutorial yang ada di buku petunjuk. Syarli masih mengetikkan CVnya yang belum selesai, karna ternyata dia tertidur selama saya sholat Jum'at.

Sambil menunggu baterai drone penuh, saya masih baca baca tutorialnya. Sambil juga membantu mempersiapkan bahan lain pelengkap lamaran kerja. Tapi, setelah Jum'at tersebut rasanya lebih banyak main drone daripada membuatkan CV untuk Syarli.

Saya nyoba-nyoba menerbangkan drone yang pada saat itu masih bingung, padahal sebelumnya di YouTube melihat orang menerbangkan drone gampang-gampang saja. Pokoknya lama, proses dari baterainya sudah penuh dan siap dicoba untuk terbang pertama kali, sampai baterainya habis tanpa terbang sedikitpun. Saya bingung kenapa dronenya tidak mau terbang. Deteksi wajah sepanjang percobaan selalu gagal.

Syarli yang tadinya didepan laptop sampai ikut-ikutan bingung dan membaca buku tutorial juga. CVnya terbengkalai. Padahal batas pengiriman berkas via email adalah hari itu juga. Semua gara-gara drone baru.

Kami mutar-mutar drone sampai Adzan Ashar. Setelah Ashar barulah buru-buru saya buatkan CV untuk Syarli. Buru-buru dalam artian sebenarnya. Sambil sesekali melihat drone yang lagi di charge.

Akhirnya CVnya selesai setelah Maghrib. Saya kemudian pulang dengan rasa penasaran yang masih banyak karena dronenya belum berhasil terbang sementara baterainya sudah di charge beberapa kali. Habis sebelum terbang.

Pokoknya hari itu belum bisa terbang sama sekali, malamnya lanjut nonton YouTube mencari akar masalahnya dimana.

Ternyataaa, harus di aktivasi dulu dronenya cintaaahhh. Sama aplikasinya juga harus di update dan perbarui databasenya. Kan kzl. cuma gara-gara itu. Kirain kan rusak atau apa.

bersambung . . .

Jumat, 02 Februari 2018

Jadi gini, dulu itu Dilan sempat booming karna novelnya, sebelum filmnya yang kemaren-kemaren booming lagi. Booming bahasa tahun kapan yaa, viral deh viral.

Sejak saat Novel karya Ayah (begitu sapaan akrabnya) Pidi Baiq viral. Banyak perempuan yang mengidam-idamkan sosok Dilan ini, termasuk mantanku dulu :) Pertama kali tau Dilan juga dari mantanku. Mantan satu-satunya.

Rata-rata perempuan setuju kalau saya bilang Dilan itu romantis dan cara berpikirnya diluar kotak. Sehingga banyak yang mengidam-idamkan sosok nya.

Apalagi generasi milenial sekarang ini, di sosmed, Instagram Story, Whatsapp Status, Facebook, Twitter, Line, semuanya bertebaran meme tentang Dilan. Tak lupa juga para calon kepala daerah yang ikut-ikutan numpang viral.

Tapi, ditengah para perempuan milenial sekarang yang mengidamkan sosok Dilan tersebut tidak dibarengi dengan menjiplak sifat Milea. Gadis yang menerima Dilan apa adanya. Bayangkan saya jika Milea seperti perempuan milenial kebanyakan, Dikasih TTS oleh Dilan komentar nya apa?

"Idih masa dikasih gini doang, apaan gua juga bisa beli sendiri"

Respon Milea atas pemberian Dilan yang cuma TTS yang begitu bahagianya.

Tidak akan ada Dilan yang romantis bila Milea-nya ingin dibelikan barang-barang bermerek. Tidak akan ada Dilan yang kamu elu-elukan jika kamu beluk siap menjadi Milea yang menerima apa adanya.

Jadi, sosok Dilan tidak akan menghampiri mu bila kamu belum menjadi Milea. Milea yang menanggapi hal kecil sekalipun, diajak ke warung kopi aja padahal.

Lah? jangankan diajak ke warung kopi, WhatsApp aja di read doang. Masih nyari Dilan?

Tapi,
Mending jangan jadi Milea, karna di gombalin doang gak dinikahin. Dilan nikahnya sama orang lain juga.

Rabu, 17 Januari 2018

Aku sama kamu selama ini tuh gak ada kepastian. Walaupun kita sering jalan, sering makan bareng, kemana-mana bareng. Tapi tetap aja intinya gak ada. Hubungan kita tidak jelas.

Ibarat Microsoft Word, ketikan yang mau di print aja masih bisa berubah jauh spasinya, tiba-tiba aja jadi jauh gitu.

Hati kamu sama hati aku udah gak compatible lagi, udah beda format. Walaupun siang malam ngetiknya, mengatur margin dan ukuran huruf sebaik mungkin. Kamu Microsoft Word 2007, Aku Microsoft Word 2010. Settingan kita beda.

Lalu kusadari selama ini ternyata cerita kita cuma copas. Tidak ada yang spesial walaupun hampir setiap hari kita jalan, kan?

Aku gak tau kenapa pas di print tiba-tiba spasinya menjauh, apakah tintanya berkurang atau memang cinta kamu ke aku yang berkurang.

Kalau saja aku tahu spasi kita sejauh ini. Dari awal inginku .pdf kan. Agar tak berubah kemanapun akan dibawa.

Senin, 01 Januari 2018

Pada akhir desember 2017 lalu, netizen dikejutkan dengan berita razia tempat hiburan karaoke yang saat di foto digerebek tampaklah satu sosok wajah seram seorang pemandu karaoke.

Media pun ramai membahasa tentang penampakan wajah seram pemandu karaoke tersebut.

Situs berita detikcom bahkan langsung menemui seorang paranormal di Probolinggo bernama Hasyim untuk dimintai pendapat tentang heboh foto seram pemandu karaoke.

Hasyim memberi keterangan layaknya paranormal, ia mengatakan bahwa makhluk di dalam foto itu merupakan makhluk gaib. Makhluk itu memang berkeinginan menampakkan diri kepada manusia.

Namun ditahun baru tanggal 1 ini beredar foto si pemandu karaoke yang terciduk bersama polisi plus satu kerudung hitam dengan bentuk mirip jaring.

Otomatis menjadi bahan tertawaan netizen di tanggal 1 yang sudah 2018 ini.

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dadi kejadian ini adalah:

Pertama, jangan cepat percaya sama satu berita yang baru muncul. Kemudian kedua adalah, jangan percaya paranormal. Ketiga, jangan sok tau.